51动漫

51动漫 Official Website

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kesenjangan Gender dalam Kemiskinan

Indonesia menargetkan pencapaian Millennium Development Goals (MDGs) pada akhir 2015 di mana pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan sosial secara global (PBB, 2013) menjadi poin-poin utamanya. Meskipun masih dalam proses, pengentasan kemiskinan nasional hingga level 6% hingga 8% pada tahun 2019 telah diusulkan sebagai cara untuk mencapai beberapa target MDG. Studi ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan antara kondisi kemiskinan kronis dan kemiskinan sementara antara laki-laki dan perempuan sebagai kepala keluarga di Indonesia.. Selain itu, penelitian ini berupaya mendeskripsikan berbagai determinan yang mempengaruhi kemiskinan kronis dan kemiskinan sementara.

Tekad kuat untuk memberantas kemiskinan telah diperkuat sejak lahirnya Perpres No. 13 tahun 2009 dengan koordinasi yang lebih erat dalam program penanggulangan kemiskinan. Akhirnya, upaya tersebut dikoordinasikan di bawah Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan, sebuah lembaga yang dibentuk dengan Keputusan Presiden (No. 15) tahun 2010. Baik Program Pembangunan Nasional Jangka Menengah dan Jangka Panjang 2005-2025 maupun dalam Peningkatan alokasi anggaran tahunan untuk rencana sosial (Lhatifa, 2011) juga mencerminkan keinginan nyata negara untuk menghapus kemiskinan sepenuhnya. Belakangan ini kebijakan pemerintah diarahkan melalui tiga blok kebijakan: bantuan sosial langsung, pemberdayaan masyarakat (fasilitas sosial dan ekonomi dasar), dan pemberdayaan usaha mikro (terutama akses kredit dan keterampilan), Aji, (2015)

Secara garis besar, studi ini menganalisis perbedaan kepala rumah tangga laki-laki dan kepala rumah tangga perempuan ketika dihadapkan pada kondisi kemiskinan kronis dan kemiskinan sementara dengan mempertimbangkan pengaruh pendidikan, ukuran rumah tangga, jenis kelamin, lokasi, sektor pekerjaan, akses kredit dan kepemilikan jaminan kesehatan masyarakat (Jamkesmas). Studi ini pertama-tama memperkirakan kesenjangan kemiskinan dengan menggunakan metode Equally Distributed Equivalent (EDE) di mana pendapatan dan garis kemiskinan dibandingkan. Data diambil dari Survei Sosial Ekonomi Nasional tahun 2010 yang mencakup 13.928 rumah tangga dari 33 provinsi di Indonesia. Pemahaman yang lebih baik tentang penyebab kemiskinan kronis dan sementara di Indonesia diperlukan untuk pengentasan kemiskinan yang lebih efektif. Kemiskinan di Indonesia sering dikaitkan dengan bias gender, yang berarti bahwa perempuan memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk tetap atau jatuh ke dalam kemiskinan dan kemalangan dapat lebih membebani mereka (Schaner, 2012). Selain itu, program pemerintah untuk mencapai target MDGs harus memberikan ruang lebih bagi perempuan untuk lebih berkontribusi dalam peningkatan kesejahteraan sosial.

Indonesia telah berhasil menurunkan angka kemiskinan secara drastis ke tingkat historis di bawah 10%. Meski demikian, hampir 20% penduduk tetap rentan jatuh miskin. Studi ini memperkirakan kesenjangan kemiskinan dengan menggunakan model Equally Distributed Equivalent (EDE) untuk menghitung kemiskinan kronis dan komponen kemiskinan sementara. Selain itu, dengan menggunakan regresi Tobit pendidikan kesehatan, ukuran rumah tangga, lokasi, dan sektor pekerjaan dipelajari sebagai faktor-faktor yang mempengaruhi kemiskinan. Data yang dipergunakan dalam penelitian ini berasal dari Survei Sosial Ekonomi Nasional tahun 2010 yang mencakup 13.928 rumah tangga dari 33 provinsi di Indonesia. Kemiskinan kronis menyumbang hampir 68% hingga 69% yang bervariasi pada pria dan wanita, sementara hampir 30% kemiskinan pada tahun 2010 bersifat sementara.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa akses kredit, tingkat pendidikan, dan akses yang buruk terhadap layanan kesehatan mempengaruhi kemungkinan kemiskinan kronis dan sementara. Kepala rumah tangga perempuan menghadapi kemungkinan yang lebih tinggi untuk tetap miskin (kronis) atau jatuh ke dalam kemiskinan (sementara) karena kurangnya akses ke layanan kesehatan dan pendidikan. Kepala rumah tangga Perempuan lebih cenderung jatuh ke dalam kemiskinan sementara di daerah perkotaan dibandingkan laki-laki. Layanan di daerah pedesaan tampaknya lebih mendesak karena kemiskinan dikaitkan di tingkat yang lebih tinggi di dalam pertanian dan di daerah pedesaan. Sedangkan pada kepala rumah tangga laki laki, jumlah anggota rumah tanyng ditanggung berpengaruh positif terhadap kemiskinan. Namun akses kredit, lama sekolah, akses yang buruk ke asuransi kesehatan berdampak negatif pada kemiskinan sementara di rumah tangga yang dipimpin oleh laki-laki. Persamaan hasil dari kepala rumah tangga laki laki dan kepala rumah tangga perempuan diaspek kepemilikan jumlah anggota keluarga, makin besar yang dimiliki makin meningkatkan kemungkinan kemiskinan kronis / sementara, tetapi studi ini memerlukan analisis lebih lanjut untuk menyimpulkan.

Disimpulkan bahwa perempuan kepala keluarga mengalami kemiskinan kronis yang lebih besar ketika mereka tidak memiliki akses ke kredit dan layanan kesehatan, ketika pendidikan rendah, dan ketika bekerja di bidang pertanian. Dalam kasus rumah tangga yang dipimpin oleh laki-laki, akses terhadap kredit, lama sekolah, akses yang buruk ke asuransi kesehatan semuanya memiliki pengaruh negatif pada kemiskinan kronis sebuah rumah tangga.

Sedangkan laki-laki sebagai kepala rumah tangga yang berada di daerah pedesaan cenderung tidak mengalami kemiskinan sementara, meskipun bekerja di bidang pertanian meningkatkan kemungkinan mengalami kemiskinan sementara di tengah guncangan. Perbedaan utama antara laki-laki dan perempuan terkait dengan akses ke layanan kesehatan dan pendidikan di mana perempuan menghadapi kemungkinan yang lebih tinggi dengan tetap miskin (kronis) atau jatuh ke dalam kemiskinan (sementara).

Penulis: Muryani,  Miguel Esqivias Padilla

Link jurnal:

AKSES CEPAT