Penyakit infeksi pada usus akibat serangan parasit adalah salah satu penyebab kematian pada anak paling besar di seluruh dunia, terutama di negara dengan kondisi sosial dan sosial-demografik penduduk yang kurang baik. Sebanyak 67,3% kasus tercatat terjadi benua Asia dengan wilayah seperti Asia Tenggara dan Selatan menjadi wilayah dengan prevalensi kasus tertinggi di dunia, tidak terkecuali Indonesia. Kepulauan Nusa Tenggara tergolong dalam daerah terpencil yang masih memiliki prevalensi terhadap infeksi parasit cukup tinggi dengan prevalensi infeksi parasit yang ditransmisikan oleh cacing melalui tanah (STH) sendiri mencapai lebih dari 20%.
Tingginya angka kejadian infeksi parasit ini berkaitan dengan Infeksi usus oleh parasit yang sebagian besar dipengaruhi oleh kualitas air minum, kondisi kebersihan lingkungan, dan pola kebersihan penduduk di mana hal-hal tersebut masih menjadi masalah di wilayah terpencil. Di Indonesia sendiri, faktor resiko kejadian infeksi usus akibat parasit masih memerlukan studi lebih lanjut agar dapat dilakukan tindakan pencegahan secara efektif.
Anak rentan mengalami infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme sehingga dapat mempengaruhi kualitas nutrisi yang diterima. Hal ini dikarenakan sistem kekebalan tubuh anak belum terbentuk secara sempurna, sehingga sulit untuk melawan bakteri, virus, dan parasit. Infeksi parasit seperti yang cacing dapat menyebabkan kerusakan pada dinding lapisan pada usus sehingga terjadi gangguan pencernaan dan gangguan penyerapan nutrisi dalam tubuh. Kurangnya nutrisi yang diterima oleh tubuh akan menyebabkan defisiensi nutrisi yang apabila dialami oleh anak secara terus menerus maka dapat mengganggu pertumbuhan anak secara fisik maupun kognitif, hingga menyebabkan kematian pada anak.
Pada penelitian ini kami menyertakan 214 anak dengan rentang usia 36-45 bulan dari kota Kupang dan Kodi Utara, Nusa Tenggara Timur. Hasil dalam penelitian menunjukkan bahwa jenis protozoa yang paling sering ditemukan pada kasus infeksi usus adalah Giardia lamblia dan Blastocystis spp. Sedangkan pada golongan cacing yang paling sering ditemukan adalah Ascaris lumbricoides dan Trichuris trichiura. Hasil ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan di wilayah dengan kondisi sosio-geografik yang sama, di mana kedua jenis protozoa tersebut paling sering ditemukan pada kasus infeksi oleh parasit. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa Ascaris lumbricoides dan Trichuris trichiura merupakan 2 jenis cacing yang paling sering ditemukan di daerah tropis.
Pada penelitian ini protozoa jenis Blastocystis spp. menjadi protozoa yang dominan dalam infeksi poli-parasitik. Hal ini searah dengan hasil penelitian sebelumnya yang menjelaskan bahwa Blastocystis spp. Merupakan parasit dominan di negara berkembang, terutama pada anak-anak. Sedangkan pada jenis cacing, Ascaris lumbricoides dan Trichuris trichiura merupakan 2 jenis cacing yang dominan pada kasus infeksi poli-parasitik. pada daerah endemis, terutama daerah yang memiliki suhu hangat, kejadian infeksi poli-parasitik lebih sering terjadi sehingga dapat meningkatkan intensitas infeksi. Infeksi poli-parasitik ini tidak memliki gejala khusus pada sistem pencernaan sehingga seringkali anak yang terinfeksi tidak mendapatkan pengobatan yang diperlukan. Apabila dibiarkan, infeksi poli-parasitik sedang-berat dapat menghasilkan efek kronis pada tumbuh kembang anak.
Prevalensi kejadian infeksi usus akibat parasit lebih tinggi di derah terpencil dibandingkan dengan daerah perkotaan. Hal ini ditunjukkan dengan kasus infeksi oleh parasit pada penelitian ini yang lebih banyak terjadi di Kecamatan Kodi Utara yang terletak di Sumba Barat Daya, daripada jumlah kasus yang ada di Kupang, yang merupakan pusat kota Nusa Tenggara Timur. Kondisi sumber air minum dan fasilitas sanitasi serta cuci tangan di daerah Kodi Utara jauh lebih buruk apabila dibandingkan dengan daerah Kupang. Factor-faktor tersebut disertai dengan kondisi sosial ekonomi dan kepadatan penduduk menyebabkan peningkatan infeksi oleh cacing yang ditularkan melalui tanah. Hasil tersebut juga dijelaskan dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa sebagian besar responden yang tinggal di daerah perkotaan menggunakan kloset untuk BAB dan sebaliknya, masyarakat yang tinggal di daerah terpencil sebagian besar mengaku BAB secara sembarangan. Hal ini yang kemudian menyebabkan tanah di daerah terpencil cenderung terkontaminasi dengan telur parasit, membuat cacing parasit yang ditularkan melalui tanah tersebut dapat tumbuh dan berkembang dan akhirnya bertransmisi ke dalam tubuh host.
Di dalam penelitian ini kami juga menemukan bahwa program obat cacing di daerah terpencil juga lebih jarang dilakukan dibandingkan dengan daerah perkotaan. Hasil ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa program obat cacing secara efektif dapat mengurangi kejadian cacingan. Meski begitu hasil dari program ini bergantung dengan kondisi lingkungan sekitar serta evaluasi secara berkala. Sehingga kami menyimpulkan bahwa kurangnya kualitas kebersihan diri, fasilitas sanitasi, kondisi sosial-geografik, dan program pencegahan penyakit infeksi oleh parasit menjadi factor yang mempengaruhi kejadian infeksi.
Penulis : Dr. dr. Alpha Fardah Athiyyah, SpA(K)
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Athiyyah A.F., Surono I.S., Ranuh R.G., Darma A., Basuki S., Rossyanti L., Sudarmo S.M., Venema K.. (2023). Mono-Parasitic and Poly-Parasitic Intestinal Infections among Children Aged 36-45 Months in East Nusa Tenggara, Indonesia. Tropical Medicine and Infectious Disease, 8(1). 45





