Pasar industri mebel di Indonesia saat ini berkembang seiring kebutuhan konsumen akan perabotan rumah tangga. Industri mebel memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan memiliki daya saing karena di Indonesia memiliki sumber bahan baku yang melimpah, memiliki desain dan corak yang khas pada setiap daerah dan memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) yang terampil (Munadi 2017).
Dalam proses produksi kayu menjadi mebel akan menghasilkan polusi yaitu partikel dari debu kayu. Debu kayu merupakan partikel kayu yang dihasilkan saat pengolahan maupun penanganan kayu. World Health Organization (WHO) memperkirakan setidaknya ada 2 juta orang di seluruh dunia secara rutin terpapar debu kayu pada saat bekerja. Paparan tertinggi secara umum dilaporkan pada industri furniture kayu dan manufaktur, khususnya pada mesin pengamplasan dan operasi sejenis (dengan kadar debu kayu diatas 5 mg/m3) (WHO 1997).
Kondisi lingkungan kerja yang dipenuhi debu, uap dan gas lainnya juga dapat mempengaruhi produktivitas pekerjanya, oleh karena itu dibutuhkan perhatian khusus baik kemampuan, keselamatan, maupun kesehatan kerja. Pengelolaan lingkungan kerja yang baik dapat mendukung terselenggaranya pemeliharaan kerja dan peningkatan kesehatan tenaga kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor yang berhubungan dengan gangguan fungsi paru industri mebel di Indonesia. Desain penelitian ini merupakan penelitian dengan metode literature review, seluruh artikel menggunakan desain penelitian cross sectional dengan artikel yang dipublikasikan pada 5 tahun terakhir (2016-2021),
Industri mebel memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan memiliki daya saing. 80% dari keseluruhan produksi mebel di Indonesia menggunakan bahan baku kayu. Industri mebel juga meningkatkan nilai strategis karena meyerap tenaga kerja dalam jumlah yang besar. Dengan berkembangnya industri maka akan ada dampak negatif bagi lingkungan dan kesehatan. Dalam proses produksi kayu menjadi mebel akan menghasilkan polusi yaitu partikel dari debu kayu. Gangguan fungsi paru merupakan salah satu penyakit akibat kerja yang tidak hanya terjadi di negara maju, melainkan juga terjadi di negara berkembang. Di Indonesia angka sakit mencapai 70% pada pekerja yang terpapar debu setiap harinya.
Pada tahun 2013 angka prevalensi Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK) mencapai 3,7% dan lebih banyak dialami oleh laki-laki. (Arini 2020) menyatakan ada hubungan yang signifikan antara masa kerja denga kapasitas vital paru pada pekerja industri mebel dengan nilai p-value sebesar 0,021. Pada penelitian yang dilakukan oleh (Oktaviana et al 2017), menunjukkan pekerja wanita yang tidak menggunakan APD dan mengalami gangguan fungsi paru sebanyak 18 orang (81,8%). Hasil uji menunjukkan nilai p-value <0,05 yaitu sebesar 0,036. Terdapat hubungan antara praktik penggunaan APD masker dengan fungsi paru dengan memiliki risiko 1,7 kali lebih besar untuk mengalami gangguan fungsi paru pada pekerja yang tidak menggunakan masker.
Variabel yang paling banyak ditemukan memiliki hubungan dengan gangguan fungsi paru adalah variabel kadar debu kayu, masa kerja, dan penggunaan APD. Industri mebel dapat menerapkan rotasi kerja pada pekerja, ruangan kerja dilengkapi ventilasi atau fan, dan memberikan arahan kepada pekerja tentang prosedur kerja yang aman dan sesuai standar sebagai upaya pengendalian terhadap risiko terjadinya gangguan fungsi paru pada pekerja.
Penulis: R. Azizah
Link Jurnal: https://jurnal.unej.ac.id/index.php/IKESMA/article/view/25100





