Keselamatan pasien merupakan prioritas utama dalam pelayanan kesehatan, meskipun begitu, 10% pasien di dunia mengalami insiden keselamatan pasien. Agar dapat memahami penyebab terjadinya insiden keselamatan pasien, dibutuhkan pelaporan dan analisis pada insiden yang terjadi. Setiap negara memiliki format sistem pelaporan insiden yang berbeda-beda, sehingga WHO mengembangkan model informasi minimal untuk sistem pelaporan yang dapat dapat diadopsi oleh negara-negara berpenghasilan rendah, sedang, dan maju. Indonesia telah memiliki sistem pelaporan insiden keselamatan pasien dan pedoman pelaporan nasional sejak tahun 2005 dan direvisi pada tahun 2015. Pada pedoman dijelaskan jika terdapat dua tingkat pelaporan, yaitu tingkat rumah sakit (pelaporan internal) dan tingkat nasional (pelaporan eksternal). Di Indonesia, pelaporan insiden menjadi salah satu persyaratan wajib akreditasi rumah sakit, namun pada implementasinya di tahun 2019 hanya 334 dari 2.877 rumah sakit atau sebanyak 12% rumah sakit yang telah melaporkan insiden keselamatan pasien. Rendahnya pelaporan ini mengganggu tatanan sistem pelaporan insiden dalam mempromosikan dan meningkatkan keselamatan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berkontribusi dalam rendahnya pelaporan insiden keselamatan pasien di Rumah Sakit Umum di Indonesia berdasarkan perspektif pemimpin.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Sampel diambil secara purposive. Penelitian ini dilakukan kepada 25 pemimpin sebagai informan kunci pada instansi pemerintahan, lembaga swasta, dan rumah sakit umum di Provinsi Jawa Timur dan Jakarta, Indonesia. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara semi-terstruktur untuk menentukan penyebab potensial dari rendahnya pelaporan insiden keselamatan pasien selama 20-60 menit kepada responden penelitian. Terdapat 9 tema yang diangkat pada penelitian ini meliputi manfaat pelaporan, umpan balik dan rekomendasi untuk tindakan lebih lanjut, kurangnya pelatihan, pengetahuan tentang pelaporan, kerahasiaan pelaporan, akibat dari pelaporan, budaya organisasi, pelaporan sebagai beban, sistem pelaporan, dan kepemimpinan. Data dianalisis menggunakan metode analisis deduktif yang difokuskan pada tema yang telah ditentukan sebelumnya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat dua faktor utama yang berkontribusi dalam rendahnya pelaporan insiden, yaitu faktor terkait rumah sakit dan faktor di luar rumah sakit. Pada faktor dari dalam rumah sakit, peneliti menemukan jika kurangnya pemahaman terkait manfaat pelaporan, rendahnya apresiasi dan nilai yang dirasakan oleh petugas kesehatan menyebabkan rendahnya pelaporan. Rendahnya pengetahuan tentang prosedur dan isi pelaporan, rendahnya kesadaran petugas kesehatan terkait pentingnya pelaporan, dan rasa tidak nyaman yang dirasakan ketika melaporkan berkontribusi dalam rendahnya pelaporan. Peneliti juga menemukan bahwa beberapa rumah sakit belum memiliki budaya pelaporan insiden karena adanya hambatan dalam membangun budaya keselamatan pasien dan pelaporan insiden serta masih adanya budaya menyalahkan di rumah sakit berkontribusi terhadap rendahnya pelaporan insiden. Selain itu, proses pelaporan dan analisis insiden membutuhkan waktu lama bagi petugas kesehatan yang terlibat, tingginya beban kerja, dan tidak meratanya beban kerja yang diberikan dalam tim keselamatan pasien berkontribusi terhadap rendahnya pelaporan insiden. Kurangnya kepemimpinan yang ada pada rumah sakit juga menjadi faktor internal rumah sakit yang berkontribusi terhadap rendahnya pelaporan insiden.
Sedangkan pada faktor di luar rumah sakit, peneliti menemukan bahwa tidak adanya umpan balik yang didapatkan dan tidak ada tindakan korektif yang diberikan oleh Komite Nasional berdasarkan laporan mengakibatkan rendahnya pelaporan. Masih ada rumah sakit yang tidak mendapatkan pelatihan maupun sosialisasi terkait pelaporan insiden keselamatan pasien oleh pemerintah juga berkontribusi pada rendahnya pelaporan. Belum adanya kebijakan terkait perlindungan terhadap tindakan hukuman apapun terhadap rumah sakit pelapor dan kekhawatiran terkait kerahasiaan sistem pelaporan juga berkontribusi dalam rendahnya pelaporan. Kurangnya kepemimpinan yang ada pada pemerintahan juga menjadi faktor internal rumah sakit yang berkontribusi terhadap rendahnya pelaporan insiden.
Akar penyebab dari rendahnya pelaporan mungkin mencerminkan rendahnya dukungan pemerintah untuk meningkatkan pelaporan insiden keselamatan pasien. Peneliti merekomendasikan agar lembaga pemerintah, lembaga independen, rumah sakit, dan pemangku kepentingan lainnya bekerja sama untuk menerapkan reformasi komprehensif dalam pelaporan insiden keselamatan pasien.
Penulis: Inge Dhamanti, Fakultas Kesehatan Masyarakat 51动漫.
Artikel lengkap:





