n

51动漫

51动漫 Official Website

Fakultas Vokasi Siapkan Mahasiswa Baru Hadapi Globalisasi

Ir. Hotma Prawoto, MT narasumber pertama yang di moderatori oleh Vokasi Prof. Dr. Retna Apsari, M.Si. (Dok. Pribadi)

UNAIR NEWS Saat ini dunia tengah memasuki era Revolusi Industri 4.0, ditandai dengan munculnya robot pintar, super komputer, serta neuroteknologi. Pada masa ini, faktor kecepatan dan penguasaan teknologi internet mampu mengantarkan siapapun menjadi 榩emenang dalam berbagai aspek, mulai ekonomi hingga politik.

Kini telah bermunculan banyak perusahaan online (daring, dalam jaringan) yang bahkan tidak memiliki kantor namun mampu menguasai pasar. Perusahaan dengan ribuan karyawan bisa dengan mudah gulung tikar karena kurang bisa bersaing dengan perusahaan daring.

Begitu kiranya alasan yang melatarbelakangi digelarnya kuliah tamu yang menjadi rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) di Fakultas Vokasi. PKKMB Fakultas Vokasi diikuti sebanyak 1.354 mahasiswa baru, bertempat di Airlangga Convention Center, Kampus C UNAIR Kamis (9/8), dan dibuka oleh Dekan Fakultas Vokasi Prof. Dr. Widi Hidayat, M.Si.

Sebagai calon praktisi di masing-masing bidang, mahasiswa diploma 3 dan diploma 4 UNAIR diharapkan siap dan mampu menghadapi arus revolusi industri yang mempengharuhi berbagai aspek. Tak jauh berbeda dengan revolusi industri sebelumnya, revolusi industri keempat juga sama pentingnya. Secara umum, revolusi industri adalah ketika kemajuan teknologi yang besar disertai dengan perubahan sosial ekonomi dan budaya yang signifikan.

Dalam kesempatan itu, PKKMB Fakultas Vokasi mendatangkan tiga pembicara utama yang berkompeten di masing-masing bidang. Pembicara pertama ialah Ir. Hotma Prawoto, MT yang merupakan dosen serta peneliti senior Sekolah Vokasi UGM. Hotma adalah Dekan Sekolah Vokasi UGM pertama. Kuliah tamu pertama dimoderatori oleh Wakil Dekan I Fakultas Vokasi Prof. Dr. Retna Apsari, M.Si.

Dalam kesempatan itu, Hotma menyampaikan tentang peran pendidikan vokasi dan teaching industry dalam memperkokoh kemandirian bangsa. Hotma mengatakan, pola pikir sangat mempengaruhi kemajuan suatu peradaban. Ia menganalogikan sesuatu terlihat sangat hebat hanya karena pikiran kita. Yang artinya, hebat tidaknya sesuatu bergantung pada bagimana sudut padang kita melihat lalu menginstruksi otak agar menyampaikan pesan pada diri kita.

Hotma mengatakan, Indonesia sangat membutuhkan human resources yang bermental pemberani dan berkualitas untuk menghadapi Revolusi Industri 4.0. Menurutnya, mahasiswa fakultas vokasi sangat berpeluang besar dalam hal ini, melihat pendidikan vokasi menitik beratkan pada praktik yang artinya softskill sangat diperlukan.

淢enjadi mahasiswa vokasi bukan akhir dari sebuah pilihan menempuh penididikan tinggi, tetapi mahasiswa vokasi adalah awal dari lahirnya praktisi hebat yang akan mengukir sejarah baru dalam peradaban bangsa Indonesia dan men-support kemandirian bangsa Indonesia, tekan Ir.Hotma dalam kuliah tamunya.

Pembicara kedua adalah Nia Niscaya, S.H , MBA Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran II Kementerian Pariwisata RI. Kuliah tamu sesi dua ini dimoderatori oleh ketua Departemen Bisnis Dr. Endah Sri Nurhidayati, M.Si. Dalam kuliah tamunya, Nia menjelaskan tentang perlunya strategi pemasaran pariwisata guna menyongsong Revolusi Industri 4.0.

Perlu diketahui, saat ini industri pariwisata menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi Indonesia, ketika sektor komoditas andalan perekonomian nasional semakin terbatas produksinya diakibatkan melambatnya perekonomian global. Perkembangan ICT (Information and Communication Technology) adalah konseksuensi dari globalisasi yang tidak bisa dihindari. Oleh karena itu Indonesia harus mampu memanfaatkan perkembangan ICT untuk mendukung perkembangan pariwisata. Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dalam pengembangan pariwisata di Era Revolusi Industri 4.0, khususnya sumbet daya alam (natural) dan budaya (cultural).

Pembicara yang merupakan alumnus Fakultas Hukum UNAIR ini menambahkan, sebagai seorang mahasiswa yang dididik untuk menjadi praktisi profesional harus mampu membedakan mana yang urgent dan mana yang lebih important. Semua harus serba terukur dalam hal managemen waktu maupun diri dalam pengambilan keputusan, serta harus terbiasa membuat timeline dan to do list dalam berbagai kegiatan.

淵ang terpenting bukan besar mengalahkan yang kecil, tetapi cepat mengalahkan si lamban. Dan sebagai penunjang, kalian wajib menguasai berbagai bahasa asing sebagai penunjang, pesan Nia Niscaya pada mahasiswa baru FV UNAIR.

Untuk mendukung pengembangan pariwisata era 4.0, mahasiswa dapat berperan sebagai humas. Caranya, dengan membagi (share)atraksi wisata, aksesibilitas, dan amenitas yang positif. Sementara yang negatif dapat dilaporkan kepada instansi terkait. Hal tersebut sebagai bentuk dukungan pada pengembangan pariwisata melalui tagline Wonderful Indonesia.

Pembicara terakhir, seorang pelopor generasi Nusantara yang merupakan Dosen di London School of Public Relation, Jakarta. Ialah Muhammad Hidayat, dosen yang juga aktif di bidang pengabdian masyarakat. Ia mengupas tentang Socialpreneurship menuju kemandirian bangsa Indonesia.

Sebagai bentuk kepedulian sosial, socialpreneurship mendidik generasi muda untuk peka terhadap masalah sosial. Diharapkan generasi baru Fakultas Vokasi UNAIR mampu membangun jiwa entrepreneurship guna menjadi bagian dari agent of change serta membantu perekonomian negara.

淪emua hal berawal dari sebuah mimpi. Hal kecil akan memberikan impact yang sangat besar apabila kita melakukannya dengan sunguh-sunguh. Semangat dan optimisme harus dimiliki Indonesia untuk membangun bangsa yang lebih baik di masa Revolusi Industri 4.0. Mari bersama memanfaatkan teknologi informasi untuk membangun bangsa melalui socialpreneuship, tegas Muhammad Hidayat dalam materi kuliah tamunya. (*)

Penulis : Wiwik Yuni Eryanti Ningrum

Editor : Binti Q. Masruroh

AKSES CEPAT