51动漫

51动漫 Official Website

FIB UNAIR Bahas Perkembangan Bahasa dan Budaya di Indonesia

Eggy Fajar Andalas SS MHum saat memaparkan materi dalam zoom. (Foto: Lady Khairunnisa Adiyani)
Eggy Fajar Andalas SS MHum saat memaparkan materi dalam zoom. (Foto: Lady Khairunnisa Adiyani)

UNAIR NEWS – Magister Kajian Sastra dan Budaya 51动漫 (UNAIR) kembali menggelar webinar nasional secara online pada Jumat (06/10/2023). Kegiatan itu menghadirkan para ahli di bidangnya.

Segmentasi Bahasa Indonesia

Rizky Rizky Abrian MHum dari UIN Sunan Ampel Surabaya mengatakan, bahasa Indonesia telah mengalami transformasi menjadi beberapa bagian penting karena bahasa berkembang menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. “Bahasa itu selalu berkembang sesuai dengan kebutuhan, ujarnya.

Menurutnya, segmentasi bahasa Indonesia untuk keperluan penelitian meliputi beberapa kategori besar. Antara lain, Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA), bahasa Indonesia dalam wacana politik, dan bahasa Indonesia di generasi z dan sosial media. 

BIPA merupakan program untuk menginternasionalisasikan bahasa Indonesia. KBRI di seluruh Indonesia diminta untuk membuat kelas pembelajaran Bahasa Indonesia. Selain itu, para pekerja asing yang bekerja di Indonesia, juga harus memiliki UKBI (Uji Kemahiran Bahasa Indonesia).

淵ang perlu kita perhatikan dalam BIPA adalah harus ada penyesuaian dengan negara asal agar bahasa Indonesia dapat diterima dengan baik, ungkap alumni MKSB ini.

Kemudian selanjutnya adalah wacana politik.  Sumber data penelitian bahasa di bidang politik mencakup seluruh model pencitraan politisi di media sosial. Sumbernya berasal dari podcast, media, artikel, flyer, postingan media sosial, dll. 

“Saat ini semua politikus sudah mulai merencanakan wacana politik sesuai dengan keinginan mereka,” paparnya.

Kemudian yang cukup menarik adalah penggunaan bahasa oleh generasi Z di sosial media. Generasi Z yang terkenal dengan sifat ekspresifnya, kerap terlibat dengan berbagai persoalan masyarakat. Hal ini menunjukkan ada potensi penelitian yang belum tereksplorasi, terutama ketika mengaitkannya dengan kajian budaya populer.

Dalam issu terkait generasi Z, kita bisa meneliti tentang kesehatan mental, pendidikan, pengasuhan, dan aktualisasi diri.  

“Kita juga bisa menulis tentang selebrifikasi, komodifikasi, dan subkultur,” tuturnya. 

Perkembangan Budaya Lisan

Sementara itu, Eggy Fajar Andalas SS MHum dari Universitas Muhammadiyah Malang menjelaskan tentang perkembangan budaya lisan. Munculnya kalangan peneliti yang mempelajari produk budaya lisan adalah karena adanya asumsi bahwa adat istiadat masyarakat merupakan sisa-sisa dari masyarakat kuno yang menyimpan nilai-nilai kebudayaan.

Studi budaya lisan terdiri atas beberapa keragaman konsep. Di antaranya, adalah folklore, oral tradition, verbal arts, folk society, folklife, oral literature, and mythology. 

Adanya keragaman istilah menunjukkan adanya konseptualisasi yang berbeda terhadap fenomena budaya lisan. Perbedaan istilah ini berakar pada tumbuhnya tradisi keilmuan di beberapa wilayah. 

淏udaya lisan memiliki keberagaman konsep karena ada hal-hal yang tidak bisa diterapkan di wilayah yang sama, ungkapnya. 

Verbal Arts adalah media komunikasi artistik yang masyarakat gunakan. Adapun medium ekspresi utama adalah ujaran bukan grafik, nada (musik), atau gerakan (tarian).

Folklore adalah sebagian kebudayaan yang bersifat tradisional, tidak resmi, dan tidak berlembaga. Meliputi seluruh pengetahuan, pemahaman, nilai-nilai, perilaku, asumsi, perasaan, dan transmisi kepercayaan dalam bentuk tradisional secara lisan atau dengan gerak isyarat.

淔olklore hanya mencakup sebagian kecil budaya bukan seluruh budaya, tuturnya. 

Tradisi lisan adalah seluruh kesaksian lisan yang dilaporkan berkaitan dengan masa lalu. Tradisi lisan merupakan hasil (produk) pesan lisan yang berasal dari pewarisan lisan, setidaknya satu generasi, dan sebuah proses dari pewarisan pesan verbal antargenerasi.

Penulis: Lady Khairunnisa Adiyani

Editor: Khefti Al Mawalia

AKSES CEPAT