51动漫

51动漫 Official Website

FIB UNAIR Kupas Identitas Jawa Bersama Ahli Sejarah

Dr. Natalie Ong dan Adrian Perkasa, S.Hub.Int., S.Hum., M.A., ketika memaparkan masing-masing materinya. (Foto: dokumen pribadi)

UNAIR NEWS – Identitas merupakan salah satu aspek penting dalam suatu kelompok masyarakat. Tidak terkecuali bagi masyarakat Jawa, periode klasik. Namun dewasa ini, belum banyak masyarakat yang memahami identitas periode klasik pada masyarakat Jawa tersebut.

Guna menyebarluaskan mengenai identitas klasik masyarakat Jawa, Fakultas Ilmu Budaya 51动漫 (FIB UNAIR) menggelar seminar bertajuk Classical Javanese Identity. Acara tersebut digelar pada Rabu (22/09/2021) malam dan merupakan bagian dari Seminar Humaniora (Senarai) Nasional FIB UNAIR. Sepanjang 2021, FIB UNAIR telah menggelar Senarai Nasional sebanyak tujuh kali.

Sebagai pembicara, hadir Dr. Natalie Ong (National University of Singapore) yang mengulas tentang identitas klasik Jawa pada masa Pra-Islam. Selain itu, hadir pula Adrian Perkasa, S.Hub.Int., S.Hum., M.A (FIB UNAIR) yang memaparkan terkait periode klasik Jawa masa pergerakan nasional.

Dr. Natalie menyebut bahwa memahami sebuah gambar merupakan salah satu cara untuk mengenali identitas suatu masyarakat. Pada periode klasik Pra-Islam masyarakat Jawa, gambar yang dimaksud yakni relief. Ia memberi contoh yakni relief yang ada pada Candi Borobudur dan Candi Prambanan. 

淐orak relief menggambarkan aktivitas masyarakat pada masa lampau. Dengan begitu, kita dapat pula mengetahui identitas masyarakat pada masa tersebut, tuturnya.

Lanjutnya, Dr. Natalie mengatakan bahwa memahami suatu relief dapat dilakukan dengan Arkeologi dan Ilmu Sejarah. 淢elalui arkeologi, kita dapat membawa informasi mengenai relief tersebut. Sedangkan ilmu sejarah berfungsi untuk lebih mendalami maksud gambar pada relief, jelas Dr. Natalie yang juga menjadi Pasca Doktoral di Departemen Ilmu Sejarah 51动漫. 

Sesi selanjutnya, yakni pemaparan materi oleh Adrian Perkasa., S.Hub.Int., S.Hum., M.A. Pada pemaparannya, dapat ditarik kesimpulan bahwa kebudayaan Jawa klasik merupakan identitas yang dominan di masa pergerakan nasional Bangsa Indonesia.

淗al itu tidak lepas dari peran Indische Partij atau tiga serangkai. Douwes Dekker, Cipto Mangunkusumo, dan Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara, Red) ingin merangkul semua anak bangsa dari berbagai latar belakang. Namun demikian, mereka lebih banyak menggunakan simbol-simbol Jawa, jelasnya.

Adrian juga memaparkan, bahwa dominasi kebudayaan Jawa harusnya telah berakhir setelah peristiwa Sumpah Pemuda di tahun 1928. 淒an kemudian setelah masa pergerakan nasional tepatnya tahun 1950-an, Jawa bukan yang dominan dari sisi politik, maupun ekonomi. Akan tetapi jika diperhatikan dari sisi budaya, Jawa masih mendominasi, ungkapnya.

Identitas sebagai kebudayaan Jawa memang tidak bisa dilepaskan dari Bangsa Indonesia. Dalam hal ini, Adrian menyebut bahwa tokoh penting dalam formasi pembentukan identitas Jawa dan ide-ide nasionalis yakni Pangeran Prangwedono atau Mangkunegaran. 淧engaruhnya memang kita rasakan bahkan sampai era ini, pungkas Adrian. 

Penulis: Fauzia Gadis Widyanti

Editor: Khefti Al Mawalia

AKSES CEPAT