UNAIR NEWS – Program pengabdian masyarakat internasional (UNAIR) masih berlangsung. Salah satu rangkaian kegiatan itu, yakni kuliah tamu lintas negara, Indonesia-Malaysia, terselenggara pada Jumat (3/5/2024) di Ruang Siti Parwati lantai 2, FIB Kampus Dharmawangsa-B UNAIR. Hadir dalam acara itu, dosen tamu dari Universiti Malaysia Sabah, Dr Shaffarullah bin Abdul Rahman mengulas tentang budaya Suku Lundayeh.
Pengmas internasional termasuk kuliah tamu kolaborasi ini bertujuan untuk mengenalkan mahasiswa FIB pada plestarian kebudayaan lintas negara. Lady Khairunnisa, SHum selaku ketua pelaksana mengatakan bahwa kegiatan ini menjadi saran pengabdian FIB UNAIR pada masyarakat, khususnya dalam implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi.
淜egiatan ini menjadi sarana pengabdian bagi FIB kepada masyarakat secara langsung. Sehingga sebagai akademisi kita dapat menyebarkan manfaat dan menerapkan tri dharma perguruan tinggi dengan baik dari segala aspek, ujarnya.
Budaya Pertanian
Dr Shaffarullah selaku pemateri memaparkan tentang adat, budaya, dan kearifan lokal Suku Lundayeh. Ia menyebutkan bahwa asal dan keberadaan suku ini cukup unik karena tersebar di tiga negara, yakni Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam. 淜ata Lundayeh ini berasal dari kata 榣un yang berarti orang, dan 榙ayeh adalah huluan sungai. Sehingga hal ini berarti bahwa Lundayeh merupakan orang-orang yang berasal dari hulu, terangnya.
Lebih lanjut, Dr Shaffarullah menuturkan bahwa keunikan lainnya dari Suku Lundayeh terletak pada cara mereka melestarikan makanan. Suku Lundayeh, kata dia, bergantung pada sistem pertanian organik sehingga mampu menghasilkan beras atau padi berkualitas.
淭ak hanya sistem yang organik, tetapi cara mereka dalam mengembangkan benih padi juga unik. Mereka melakukan perendaman bibit padi hingga tumbuh akar putih, lalu bibit padi tersebut mereka taburkan secara merata pada tapak semaian yang becek dan berlumpur. Kemudian, setelah satu bulan tumbuh, mereka memindahkan bibit ke sawah padi yang telah dibajak, jelasnya.
Bagi Suku Lundayeh, beras hasil panen tersebut menjadi bekal makanan keluarga selama dua tahun. Sehingga beras bagi Suku Lundayeh ini menjadi bahan pokok dan bahan yang bebas limbah
Dr Shaffarullah juga menyebut bahwa ada berbagai manfaat dari adanya budaya pertanian organik yang dilestarikan di Suku Lundayeh. 淎danya keterjaminan bahan makanan dalam sebuah negara. Selain itu, bahan pangan utama hasil pertanian organik yang ada di Nusantara ini memiliki peran penting. Selain itu, budaya pertanian organik itu juga merupakan pengamalan low waste, imbuh Dr Shaffarullah.
Penulis: Annisa Nabila
Editor: Yulia Rohmawati





