UNAIR NEWS – Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) 51动漫 (UNAIR) menghadirkan kuliah tamu bertajuk Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dalam Industri Pertambangan. Kegiatan itu berlangsung pada Kamis (23 /08/2025) di Aula Kampus Mojo FIKKIA, bekerja sama dengan PT Merdeka Copper Gold Tbk dalam rangkaian program Merdeka Mengajar.
Acara tersebut secara resmi dibuka oleh Dinia Widodo, Corporate Communication Manager PT Merdeka Copper Gold Tbk. Dalam sambutannya, Dinia mengungkapkan penghargaan atas kerjasama yang terjalin dengan FIKKIA UNAIR. Ia menjelaskan bahwa program Merdeka Mengajar dibuat sebagai platform bagi para pelaku industri untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan praktis kepada para mahasiswa.
淜ami bertujuan untuk menghubungkan dunia akademik dengan dunia kerja, sekaligus memberikan gambaran nyata mengenai tantangan dan peluang yang ada di sektor industri, tuturnya.
Pentingnya K3 dalam Operasi Pertambangan
Materi kuliah tamu disampaikan oleh Sukadi, Amd Kep M Kes yang menjabat sebagai Occupational Health and Safety (OHS) di perusahaan tambang nasional. Ia menjelaskan bahwa sektor pertambangan adalah sektor strategis yang berkontribusi besar pada pembangunan nasional dan global. Hasil tambang tidak hanya digunakan untuk bahan bakar atau infrastruktur, tetapi juga terdapat dalam kehidupan sehari-hari.
淗ampir seluruh komponen dalam handphone yang kita gunakan, mulai dari layar, baterai, hingga chipset, semuanya berasal dari hasil tambang, ujarnya.
Sukadi menguraikan bahwa proses pertambangan meliputi tahapan panjang dan kompleks, mulai dari penelitian, eksplorasi, konstruksi, penambangan, pengolahan, pengangkutan, hingga pascatambang. Dalam setiap tahap, keselamatan kerja sangat penting. Keselamatan Pertambangan (KP) mencakup dua hal utama, yaitu Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) serta Keselamatan Operasional (KO).
淜3 bertujuan memastikan pekerja tetap sehat dan selamat melalui pengendalian risiko, sementara KO memastikan sarana, prasarana, dan peralatan pertambangan berfungsi sesuai standar operasional, jelasnya.
Ia juga memaparkan penyebab kecelakaan tambang yang terbagi menjadi faktor pribadi dan faktor pekerjaan. Faktor pribadi meliputi kemampuan fisik, mental, keterampilan, dan motivasi yang kurang, sedangkan faktor pekerjaan terkait kepemimpinan yang kurang efektif, perawatan peralatan yang tidak memadai, dan standar kerja rendah.
Untuk mengurangi risiko, Sukadi menekankan pentingnya hirarki pengendalian bahaya dengan lima tahapan. Yaitu, eliminasi, substitusi, rekayasa teknis, pengendalian administratif, dan penggunaan alat pelindung diri (APD).
淜eselamatan kerja di tambang harus menjadi budaya, bukan sekadar aturan, tutupnya
Penulis: Dheva Yudistora Maulana
Editor: Khefti Al Mawalia





