UNAIR NEWS – Rencana pembukaan program studi (prodi) baru bidang kesehatan di Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam () 51 memicu sejumlah konsekuensi. Sosialisasi dan pengenalan prodi menjadi tantangan. Lokakarya dan Sosialisasi Visi Misi dan Kurikulum Program Studi Sarjana Kedokteran FIKKIA UNAIR Banyuwangi akhirnya diadakan di Aula Kampus Mojo FIKKIA.
Lokakarya tersebut menjadi salah satu proses telaah bersama kurikulum pendidikan dengan kegiatan forum group discussion. Hadir dalam kegiatan tersebut calon Dosen Kedokteran FIKKIA, Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, Dinas Pariwisata, Direktur RSUD Blambangan, Direktur RSUD Genteng, dan sejumlah kepala puskesmas Kabupaten Banyuwangi. Dekan Fakultas Kedokteran () UNAIR yang menjadi fakultas pembina Program Studi Kedokteran FIKKIA juga hadir melalui sambungan daring lewat zoom meeting.
Dekan FIKKIA UNAIR Prof Dr Soetojo dr Sp U(K) mengatakan melahirkan program studi Kedokteran di Banyuwangi proses panjang sejak berdirinya Program Diluar Domisili (PDD) UNAIR Banyuwangi pada tahun 2014. Berdirinya dua program studi Kedokteran Umum menjadi sebuah tantangan.
Tantangan tersebut berhasil terpecahkan UNAIR yang berani menyongsong sesuatu yang berbeda. Hal tersebut juga tak lepas dari pendirian peran serta sejarah panjang PDD, PSDKU, SIKIA, hingga FIKKIA.
Jalan panjang Kampus UNAIR dengan dua program studi yang sama mulai kesehatan masyarakat hingga kedokteran hewan yang menjadi dasar meyakinkan Program Studi Kedokteran FIKKIA bisa berdiri, katanya pada kegiatan pada Selasa (5/12/2023) itu.

Unggulan Bidang Travel Medicine
Dalam arti lebih luas, kedokteran wisata atau travel medicine mencakup tata laksana medis masuk-keluarnya pelancong, kegiatan wisata, dan hal lainnya. Banyuwangi dengan kekayaan alam luar biasa menjadi daerah wisata unggulan bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
Wisata terkenal seperti Gunung Ijen, Pulau Merah, Pulau Tabuhan, Bangsring, hingga Plengkung menjadi daya tarik yang terus mendatangkan wisatawan. Lewat posisi daerah wisata tersebut akan menjadi bidang unggulan di bidang travel medicine bagi Program Studi Kedokteran FIKKIA UNAIR Banyuwangi .
Harapannya lulusan dapat menangani permasalahan dan penanganan medis pertama pada kecelakaan wisata. Mulai dari digigit ular, penanganan kasus kecelakaan, patah tulang saat travelling, dan sebagainya, tuturnya.
FGD Bersama Expert dan Stakeholder
Dalam kegiatan Forum Group Discussion Travel Medicine, hadir secara daring Prof. Dr. Nancy Margarita Rehatta dr Sp An KMN KNA, Dominicus Husada dr DTM&H MSc (CTM) SpA (K), dan Dr dr Made Agus Hendrayana SKed MKed. Mereka memberikan pernyataan definitif terkait batasan dan gambaran pendidikan Travel Medicine yang sudah dan saran yang akan diterapkan. Stakeholder dari Pemkab Banyuwangi juga memberikan masukan dan menjelaskan kasus kesehatan wisata di Banyuwangi. Tentu seluruh masukan akan menjadi telaah tambahan mematangkan kurikulum akademik Program Studi Kedokteran FIKKIA.
Penulis: Azhar Burhanuddin
Editor: Feri Fenoria





