51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

FISIP UNAIR Gelar Konferensi Internasional ke-11, Angkat Tema AI di Persimpangan Etika

Sesi foto bersama pada acara The 11th International Conference on Contemporary Social and Political Affairs (ICoCSPA) pada Rabu (27/8/2025) (Foto: Istimewa)
Sesi foto bersama pada acara The 11th International Conference on Contemporary Social and Political Affairs (ICoCSPA) pada Rabu (27/8/2025) (Foto: Istimewa)

UNAIRNEWS – Kecerdasan Buatan atau AI kian menancapkan pengaruhnya dalam dunia akademik, industri hingga institusi resmi. Lantaran AI menjanjikan efisiensi dan personalisasi, namun efek ini menentang nilai nilai dasar dan kompleksitas seperti bias, diskriminasi, transparansi, hingga tatanan distribusi kuasa global. Pergulatan inilah yang memantik terselenggaranya The 11th International Conference on Contemporary Social and Political Affairs (ICoCSPA) oleh FISIP UNAIR pada 27“28 Agustus 2025 di Hall Majapahit, ASEEC Kampus Dharmawangsa-B.

AI di Persimpangan Etika

Bertema œPower Structure and Ethical Imperative of Artificial Intelligence in a Fragmented Global-Order, konferensi ini memotret paradoks kecerdasan buatan (AI) sebagai teknologi yang menjanjikan efisiensi, namun menimbulkan permasalahan mendasar soal etika, transparansi, dan demokrasi. 

Melalui sambutannya, Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Community Development Prof Muhammad Miftahussurur dr MKes SpPD-KGEH PhD, menekankan bahwa AI tidak lagi sekedar instrumen teknis. œPertanyaannya kini adalah, siapa yang menentukan sistem AI? Bukan hanya perangkat lunak, AI mampu membentuk budaya politik, mempengaruhi kebijakan, bahkan menggeser struktur kuasa global, ujarnya.

Sesi Sambutan oleh Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Community Development Prof Muhammad Miftahussurur dr MKes SpPD-KGEH PhD. (Foto: Istimewa)
Arena Akademik Global

ICoCSPA ke-11 menghasilkan luaran publikasi bersama dengan partisipasi lebih dari 100 peserta lintas negara, yang kemudian dipilih dan dipublikasikan dalam jurnal bereputasi internasional terindeks Scopus. 

Puncaknya, konferensi ini menghadirkan pakar dari berbagai lintas negara seperti Prof Marko Skoric (City University of Hong Kong) yang membedah dampak AI terhadap partisipasi demokrasi. Kemudian Assoc Prof Nazli bin Ismail (Universiti Sultan Zainal Abidin, Malaysia) yang menyoroti isu kejahatan cyber security dan respons hukum Malaysia. Anita Dewi PhD (Charles Sturt University, Australia) yang mengulik tantangan, peluang dan ethical imperative hingga IGAK Satrya Wibawa PhD (Deputy Permanent Delegate RI to UNESCO) yang memaparkan tantangan etika dalam tatanan global yang terfragmentasi.

Fragmentasi dan Masa Depan

Melalui welcoming speech, Dr Irfan Wahyudi S Sos M Comms PhD, menegaskan bahwa Kecerdasan Buatan atau AI telah cepat masuk ke pusaran global yang terfragmentasi. œPertanyaan bukan lagi apakah AI akan digunakan, tetapi bagaimana kita mendesain tata kelolanya agar tidak terjebak pada bias elit dan ketidakadilan digital. Sehingga memastikan AI menjadi instrumen untuk kemajuan, bukan instrumen ketidakadilan jelasnya.

Dengan jejaring internasional, ICoCSPA ke-11 menjadi penegasan komitmen FISIP UNAIR untuk mengintegrasikan riset kelas dunia dengan isu-isu kemanusiaan. Melalui forum ini, AI tidak hanya diperlakukan sebagai future technology, melainkan sebagai medan pertarungan nilai, etika, dan demokrasi.

Penulis: Sintya Alfafa

Editor: Ragil Kukuh Imanto

AKSES CEPAT