UNAIR NEWS – Untuk kesekian kalinya, Fakultas Kedokteran 51动漫 kembali mengapresiasi jasa para guru besar FK UNAIR yang telah banyak berkontribusi memajukan pendidikan kedokteran. Kali ini Prof. Dr. Djohansjah Marzoeki, dr., Sp.B., Sp.BP-RE(K), Guru besar bidang Ilmu Kedokteran Bedah Plastik FK UNAIR terpilih sebagai sosok inspiratif dalam acara tribute lecture XVII. Acara diselenggarakan di Aula FK UNAIR, Kamis (12/7).
Prof Djo, begitu ia akrab disapa, merupakan tokoh pionir ilmu bedah plastik di Indonesia. Sepak terjangnya dalam merintis serta mengembangkan bidang ilmu bedah plastik rekonstruksi dan estetika dapat dirasakan hingga saat ini.
Pria berusia 78 tahun itu mulai memperkenalkan dan membangun ilmu bedah plastik di FK UNAIR dan RSUD Dr. Soetomo sejak tahun 1973. Tahun 1980, ia bersama delapan sejawat dokter lainnya membentuk Perhimpunan Ahli Bedah Plastik Indonesia. Ia kemudian didapuk menjadi ketua perhimpunan sejak 1985 hingga 1997.
Selama empat periode menjabat, selama itu pula Prof Djo berupaya keras memperjuangkan pendidikan kedokteran ilmu bedah plastik. Alhasil, program studi ilmu bedah plastik akhirnya dapat diakui, bahkan perhimpunan bedah plastik juga diakui sebagai organisasi spesialis. Di tingkat nasional, Prof Djo juga berhasil memperjuangkan terbentuknya Kolegium Ilmu Bedah Plastik Indonesia yang bertugas mengurus pendidikan.
Pria kelahiran 11 Maret 1940 ini juga dipercaya menjadi ketua Asean Federation of Plastic Surgery, dan menjadi Co-founder dari berdirinya Federation Of Asia Pacific Craniofacial Surgery yang semula diketuai oleh Prof David J.David dari Australia.
Totalitas dalam memajukan pendidikan tidak hanya dirasakan dalam lingkup ilmu kedokteran saja. Prof Djo juga menaruh perhatian atas nasib para pelajar, mahasiswa, juga masyarakat kurang mampu.
Tahun 1990 Prof Djo mendirikan yayasan sosial bernama Johan Foundation untuk membantu para pelajar dan mahasiswa yang memerlukan bantuan biaya pendidikan. Tak hanya itu, tahun 2000 ia bersama Pop Mulhadi, Reny Brahmana serta dr. Sulung Budianto mendirikan Badan sosial Cleft Lip and Palate Foundation dan Center Celah Bibir dan langit-langit.
Badan sosial ini bergerak membantu para pasien penderita bibir sumbing secara bertahap dan berkesinambungan sejak masih bayi hingga remaja secara gratis.
淒ananya kami peroleh dari Yayasan Smile Train USA dan bantuan dari beberapa yayasan lain, ungkapnya.
Selain melibatkan dokter ilmu bedah plastik rekonstruksi dan estetik, badan sosial tersebut juga menggandeng sejawat dokter ortodonsi dari fakultas kedokteran gigi, ahli rehab medik, serta dokter bidang THT.
Dalam sejarahnya, tahun 1970 bedah plastik di Surabaya masih awam di kalangan masyarakat, serta belum jelas bidang pelayanannya. Ini yang kemudian mendorong Prof Djo mengambil pendidikan Spesialis di luar negeri. Tahun 1975 Prof Djo berangkat ke Groningen University, Belanda, untuk memperdalam keahlian bidang bedah plastik rekonstruksi dan estetika. Di samping belajar di Groningen, ia juga mengikuti beberapa kursus microsurgery, kongres, dan kursus internasional di Glasgow Scotland.
Setelah lulus, Prof Djo memilih kembali ke Indonesia dan bertekad merintis dan mengembangkan bedah plastik di Surabaya.
淪atu pengalaman berkesan bagi saya adalah ketika masih menjadi mahasiswa dokter spesialis atau PPDS. Setiap kali mendapat kasus pasien bibir sumbing kami saling menghindar karena tidak tahu bagaimana teknik operasinya, kenangnya.
Hingga kini, di usia ke 78 tahun Prof Djo masih memberikan perhatian mendalam kepada para juniornya. Ini pula yang dirasakan oleh Prof. Dr. dr. David Sontani Perdanakusuma, SpBP (K). Wakil Dekan I FK FK UNAIR yang telah mengenal Prof Djo selama 21 tahun.
淏eliau sangat mendukung segala bentuk pengembangan pendidikan ilmu bedah. Beliau selalu mendukung para juniornya untuk bisa sekolah lagi ke luar negeri. Dengan harapan para juniornya bisa memiliki kemampuan yang terstandar dengan di luar negeri.,漸ngkapnya
Acara tribute lecture kali ini berlangsung hangat dan meriah. Pada puncak acara, Prof Djo menghadiahkan beberapa karya buku kepada sejumlah tamu. Salah satunya kepada Dahlan Iskan. Acara ditutup dengan penampilan Dorce Gamalama. Dorce bernyanyi serta menghibur puluhan tamu undangan sambil beramah tamah. (*)
Penulis : Sefya Hayu Istighfaricha
Editor: Binti Q. Masruroh





