UNAIR NEWS Jika tiba-tiba ada orang tak sadarkan diri dan detak jantungnya terhenti, siapakah yang kali pertama dapat menolongnya? Jawabnya, bukan dokter spesialis jantung atau tenaga medis lainnya, melainkan orang-orang yang berada di dekatnya.
Peran orang-orang di sekitar dapat menyelamatkan nyawa seseorang pada menit-menit awal kejadian. Tidak peduli sang penolongnya itu berprofesi akuntan atau agamawan. Bahkan pedagang sayur atau penyair sekalipun.
Itulah alasan mengapa setiap orang mesti memiliki kemampuan menolong seseorang (juga diri-sendiri) dalam keadaan darurat. Pembelajaran mengenai bantuan hidup dasar atau basic life support (BLS) sangat layak diberikan kepada semua orang.
Mengenai BLS, Fakultas Kedokteran (FK) 51动漫 melalui Departemen Anestesiologi dan Reanimasi memperhatikan pentingnya hal tersebut. Beberapa waktu lalu tim dokter Departemen Anestesiologi dan Reanimasi FK UNAIR melatih puluhan karyawan serta dosen soal cara mengaplikasikan teknik BLS di Aula FK UNAIR, Jum檃t (9/3).
Selain menambah wawasan, peserta pelatihan berkesempatan praktik melakukan pijat jantung dan belajar cara menggunakan alat pacu jantung otomatis atau Automatic External Defibrillation (AED).
Instruktur BLS dari Departemen Anestesiologi & Reanimasi FK UNAIR April Poerwanto Basoeki, dr., Sp.An KIC mengungkapkan bahwa di negara-negara maju seperti Inggris, salah satu syarat memiliki surat izin mengemudi (SIM) adalah yang bersangkutan telah mengikuti kursus singkat BLS.
“Bahkan, di Swedia maupun Norwegia, setiap penduduk pemilik KTP berarti dia sudah menjalani pelatihan BLS. Bandingkan dengan Indonesia. Bagi bangsa ini, nyawa masih tidak terlalu mahal,” ujarnya.
Fakta menunjukkan, cukup banyak kejadian korban yang dilarikan ke IGD Dr Soetomo yang berakhir pada kematian. Penyebabnya, saat kejadian, orang terdekat korban tidak mampu melakukan bantuan hidup dasar. Yang bersangkutan hanya panik, lalu teriak minta tolong ke sana kemari tanpa tahu yang harus diperbuat.
“Memang semuanya membutuhkan dokter dan petugas medis untuk memberikan pertolongan. Namun, dokter bukanlah 渏in yang bisa langsung muncul di TKP. Seperti halnya Aladin saat gucinya digosok,” tuturnya.
Kehadiran tim medis ke TKP pasti membutuhkan waktu. Termasuk melarikan korban ke rumah sakit. Karena itu, ada detik-detik kritis yang membutuhkan orang yang berada di dekat korban saat kejadian. Di situlah perlunya pengetahuan BLS. (*)
Penulis: Sefya Hayu Istighfaricha
Editor: Feri Fenoria





