UNAIR NEWS – Di Indonesia kasus bayi kuning atau Hiperbilirubinemia ternyata cukup tinggi. Data di RSUD Dr. Soetomo Surabaya menunjukkan, sepanjang tahun 2016, rumah sakit tersebut telah merawat lebih dari 450 bayi dengan hiperbilirubinemia. Sementara 6-8 kasus diantaranya mengalami kondisi lebih berat, yang disebut Kernicterus.
Hiperbilirubinemia atau kadar bilirubin darah lebih dari 5 mg/dl adalah suatu gejala klinis yang sering dijumpai pada bayi berusia 1-2 minggu.Walaupun bukan gejala klinis yang langka, namun kondisi tersebut tetap memerlukan perhatian, mengingat tidak semua gejala kuning pada bayi dianggap normal.
Berangkat dari kejadian tersebut, Fakultas Kedokteran, 51动漫, melalui Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK UNAIR-RSUD Dr. Soetomo, Divisi Neonatologi kemudian berinisiatif mengembangkan sebuah aplikasi pendaftaran berbasis paperless.
Bekerja sama dengan University Medical Center Groningen the Netherlands (UMCG) untuk Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Tim Divisi Neonatologi selanjutnya meluncurkan sebuah aplikasi bernama Yellow Babies. Peluncuran aplikasi tersebut berlangsung di Aula FK UNAIR pada Ranu (22/11).
Agus Haryanto., dr., Sp.A(K) mengatakan walapun Hiperbilirubinemia banyak dijumpai pada bayi yang baru lahir, sayangnya data insiden nasional tentang kejadian ini belum ada. Oleh karena itu, penting melakukan pendataan nasional untuk bayi dengan hiperbilirubinemia berat.
淒engan mendirikan register neonatal hiperbilirubinemia Indonesia, diharapkan masalah hiperbilirubinemia di Indonesia bisa terdata secara akurat, ujarnya.
Aplikasi Yellow Babies, tambahnya, didesain dalam bentuk paperless electronic register. Seluruh tenaga kesehatan dapat mengakses aplikasi tersebut, karena bisa diunduh melalui handphone atau IOS. Aplikasi tersebut memudahkan pendataan jumlah kasus hiperbilirubinemia yang tertangani di rumah sakit. Dengan cara memasukkan data secara real time, maka data yang dimasukkan melalui aplikasi tersebut akan terkoordinasi dengan sistem di RSUD Dr. Soetomo.
淜ami berharap sistem informasi ini dapat tersinergi dengan baik, sehingga target kesehatan neonatal Indonesia akan terukur dan segala program yang ada dapat dinilai keberhasilannya, ungkapnya.
Program ini ditujukan untuk menekan angka kesakitan dan kematian akibat hiperbilirubinemia pada bayi baru lahir. 淚ni penting demi menunjang suksesnya target penurunan angka kematian bayi menjadi 13 : 1000 kelahiran hidup pada tahun 2020 sesuai dengan Sustainable Development Goals (厂顿骋蝉),渐苍驳办补辫苍测补.
Selain meluncurkan produk aplikasi Yellow Babies, pihak Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK UNAIR-RSUD Dr. Soetomo juga menyelenggarakan inagurasi penganugerahan visiting profesor kepada Prof. Arend Frederick Bos, MD, PhD dari Beatrix Children Hospital University Medical Center Groningan the Netherlands (UMCG).
UMCG merupakan pusat pendiri panduan lengkap hiperbilirubinemia di Belanda. Tak heran jika akhirnya Belanda menjadi salah satu negara bebas hiperbilirubinemia, khususnya komplikasi Kernicterus.
Untuk itu, FK UNAIR terus bersinergi menggabungkan riset dengan pendekatan klinis bersama pihak UMCG. 淢elalui kerja sama lintas negara diharapkan mampu memperbaiki hiperbilirubinemia sehingga akan memperbaiki tata laksana Hiperbilirubinemia di Indonesia. Dengan begitu bisa menekan kejadian kemikterus pada neonatus di Indonesia, ugkapnya.
Sebagai bentuk penghargaan atas kerjasama yang telah terjalin sejak 2014, Prof. Arend diundang sebagai Guru Besar Tamu FK UNAIR yang telah melakukan supervisi atas Project Plan Imroving the Management of Hyperbilirubinemia in Resources Contrained Area.
Dalam acara tersebut, Prof. Arend datang ke FK UNAIR didampingi Prof. Pieter J.J. Sauer, MD, PhD. Dihadapan tamu undangan, Prof. Arend memaparkan topik bertema Improving Health Services By Benchmarking Program Surabaya, Indoneisa-UMCG Groningan, The Netherland.
Penulis: Sefya Hayu
Editor: Nuri Hermawan





