51动漫

51动漫 Official Website

FKM UNAIR Bahas Peran Sosial Budaya dalam Pola Makan

FOTO Prof Dr Norhasmah Sulaiman saat menjelaskan tentang pengaruh sosial budaya. (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Lingkungan sosial dan budaya sangat mempengaruhi pola makan seseorang. Hal tersebut dibahas dalam kuliah tamu Fakultas Kesehatan Masyarakat UNAIR pada Rabu (30/4/2025) secara daring. Prof Dr Norhasmah Sulaiman dari Universiti Putra Malaysia (UPM) menekankan pentingnya memahami peran lingkungan sosial budaya sebelum merencanakan perubahan pola makan menuju pola makan yang sehat.

Prof Norhasmah menerangkan bahwa pola makan sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial. Menurutnya, seseorang cenderung mengikuti apa yang dikonsumsi oleh keluarga, teman, dan orang di sekitarnya. 

淜ita mengamati dan meniru bagaimana orang tua kita menyiapkan makanan yang kita konsumsi. Jadi, pola makan orang tua menjadi model yang kita tiru, ujarnya.

Selain lingkungan sosial, ia juga mengatakan bahwa budaya suatu daerah memiliki pengaruh kuat terhadap pola konsumsi seseorang. 淐ontohnya saat hari raya, Indonesia dan Malaysia memiliki kemiripan untuk mengonsumsi ketupat, rendang, sate yang merupakan budaya kita. Berbeda dengan negara lain yang tidak mengonsumsi hal itu karena bukan menjadi budaya mereka, ungkapnya.

Ia juga menegaskan bahwa faktor lingkungan tersebut berpengaruh besar dalam pola makan seseorang. Meskipun seseorang memiliki pengetahuan gizi yang baik tetapi jika lingkungannya mendukung untuk memperoleh makanan tidak sehat maka pola makan seseorang akan mengikuti itu. 淧engetahuan saja tidak cukup untuk mengubah pola makan seseorang karena lingkungan juga akan mempengaruhinya, ujarnya.

Prof Norhasmah menjelaskan bahwa budaya dapat menjadi tantangan tersendiri dalam upaya mengubah pola makan yang lebih sehat. Ia mencontohkan bahwa beberapa jenis makanan khas daerah menggunakan bahan-bahan yang kurang sehat, seperti santan. Menurutnya, masyarakat cenderung mempertahankan resep makanan yang memiliki nilai budaya karena berkaitan erat dengan identitas makanan tersebut.  

淜alau ingin mengganti santan dengan pilihan lain yang rendah lemak maka rasanya akan berbeda dan tidak original, terangnya.

Lebih lanjut, ia juga menerangkan bahwa tekanan sosial menjadi tantangan tersendiri. Lingkungan sosial dapat menekan seseorang untuk mengonsumsi makanan tidak sehat. 淛ika kamu tidak mau makan ini berarti kamu bukan bagian dari kami, ujar Prof Norhasmah ketika mencontohkan fenomena yang menggambarkan tekanan sosial pada anak muda.

Dalam mempromosikan pola makan yang lebih sehat, Prof Norhasmah mengatakan terdapat beberapa strategi yang dapat dilakukan. Pertama, strategi untuk level individu dapat dilakukan dengan mengajari bagaimana cara memasak yang sehat dan memilih makanan yang lebih sehat. 

Kedua, strategi untuk level organisasi seperti sekolah dapat dilakukan dengan menyediakan makanan sehat di sekolah. Dengan begitu, siswa tidak memiliki pilihan untuk mengonsumsi makanan yang tidak sehat. 淜ita punya program Rancangan Makanan Tambahan yang memberikan makanan sehat untuk siswa dari keluarga miskin, tambahnya. 

Terakhir, strategi level regulasi yang mengatur pola makan. Pemerintah dapat membuat peraturan bagi industri terkait penggunaan label hingga pengaturan batas maksimal penggunaan gula atau bahan makanan lain yang tidak sehat. 淚ndustri harus mengikuti peraturan yang berlaku jika ingin menjual produknya ke masyarakat,  tegas Prof Norhasmah.

Penulis: Septy Dwi Bahari Putri

Editor: Khefti Al Mawalia

AKSES CEPAT