UNAIR NEWS Dari data World Health Organization (WHO), pada 2016, terdapat 1.020.000 pengidap Tuberculosis (TB) di Indonesia. Angka itu menjadikan Indonesia berada di peringkat kedua kasus TB terbanyak di dunia setelah India.
Beragam upaya dari ahli kesehatan pun dilakukan untuk menanggulangi masalah tersebut. Salah satunya adalah tindakan preventif (pencegahan) yang dilakukan Program Studi (Prodi) Magister Fakultas Keperawatan (FKp) UNAIR di Puskesmas Tanah Kali Kalikedinding (Takal) Surabaya pada Sabtu (1/9).
Kegiatan pengabdian masyarakat yang dibiayai Kemristekdikti itu mengusung tema 淧enanggulangan Tuberculosis (TB) Menggunakan Model Interaksi Guna Mencegah kejadian Drop Out (DO) di Surabaya. Materi tersebut disampaikan tiga pembicara. Yakni, Dr. Tintin Sukartini, S.Kp., M.Kes.; Laili Hidayati, S.Kep., Ns, M.Kep.; dan Ika Nur Pratiwi, S.Kep., Ns. M.Kep. khususnya ditujukan kepada 22 kader kesehatan di sekitar Tanah Kalikedinding
Menurut Dr. Tintin, materi itu berkenaan dengan sistem interaksi kader dan pasien dalam mencegah kejadian drop out TB. hal tersebut disebabkan Surabaya adalah kota yang mempunyai jumlah penderita yang terbanyak di Jawa Timur.
滿asih ada banyak jumlah penderita TB di Surabaya. Khususnya di Tanah Kalikedinding. Meski tingkat kesembuhan TB sebesar 91 persen di Surabaya, namun tantangan terbesar kita pada masa depan adalah 2050. Indonesia harus bebas TB. Jadi, angka 91 persen belum angka yang tinggi mencapai kepatuhan 100 persen, jelas dosen yang mengagumi Florence Nighting Angley tersebut.
Lebih lanjut, dosen yang menjadi kepala program studi (KPS) S2 FKp UNAIR itu menyatakan bahwa pelatihan kader itu dilakukan supaya para ahli kesehatan bisa terus memantau kasus TB di Surabaya. 滽ita bisa berinteraksi dengan pasien. Supaya pasien bisa sembuh secara tuntas dan tidak menimbulkan penularan kepada masyarakat, terangnya.
Harapan dari kegiatan itu adalah, tidak terjadi drop out TB dengan melatih kader lewat penyuluhan. Tujuannya, agen bisa menemukan kasus dan mendampingi pasien berobat masa penyembuham selama kurang lebih enam bulan. (*)
Penulis: Fariz Ilham Rosyidi
Editor: Feri Fenoria Rifa檌





