51动漫

51动漫 Official Website

FPsi UNAIR Ajak Deteksi Dini Kesehatan Mental di Bali

UNAIR NEWS – Sebagai wujud kontribusi terciptanya kesehatan mental di masyarakat, 51动漫 melakukan kegiatan pengabdian masyarakat dengan mengusung tema Mental Health First Aid atau pertolongan pertama pada kasus kesehatan mental. Desa adat Busungbiu di Kabupaten Buleleng menjadi lokasi pilot project untuk memberikan pelatihan kepada pengurus desa adat.

Ketua Desa Adat Busungbiu Gede Yasa menjelaskan bahwa pengetahuan akan kesehatan mental yang masyarakat desa miliki masih terbatas. Sehingga, masyarakat tidak dapat melakukan upaya yang tepat dalam mengatasi permasalahan ini. Oleh karena itu, kegiatan pelatihan pertolongan pertama pada masalah kesehatan mental (mental health first aid) Fakultas Psikologi UNAIR lakukan di Desa Adat Busungbiu, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali.

Pelatihan Mental Health First Aid berlangsung di Balai Banjar Adat Busungbiu selama dua hari, yaitu pada hari Sabtu (8/7/2023) dan Minggu (9/7/2023) . Mental Health First Aid merupakan langkah pertolongan pertama yang bisa seseorang berikan kepada orang lain yang mengalami permasalahan kesehatan mental.

Metode Pelatihan

Metode selama pelatihan ini adalah dengan memakai Training of Trainers (TOT). Tujuannya, untuk meningkatkan kompetensi calon fasilitator yang akan menangani secara langsung permasalah kesehatan mental di Desa Adat Busungbiu. Mengingat masyarakat di Desa Adat Busungbiu masih memiliki kepercayaan yang kuat terkait budaya dan keyakinan, pendekatan adat melalui aspek biopsikospirit ditekankan pada pelatihan ini.

Dua dosen psikologi UNAIR Dian Kartika Amelia Arbi MPsi Psikolog dan Atika Ariana MSc MPsi Psikolog menjadi pemateri dalam pelatihan. Pada hari pertama, Atika membawakan materi kesehatan mental dan isu-isu kesehatan mental. Berikutnya materi Mental Health First Aid dan Pengelolaan Stres oleh Dian. Setelah materi, kegiatan berlanjut dengan aktivitas kelompok mengidentifikasi stres dan kopingnya.

Antusias Peserta

Para peserta terlihat antusias selama melakukan aktivitas kelompok dan saat mempresentasikan hasil. Pada hari kedua, terdapat pemberian materi depresi dan bunuh diri oleh Atika Ariana MSc MPsi Psikolog. Lalu, lanjut dengan materi kecemasan oleh Dian Kartika Amelia Arbi MPsi Psikolog. Pada hari kedua ini, peserta mendapatkan kesempatan mendiskusikan rencana pertolongan pertama pada kasus-kasus gangguan psikologis.

Kegiatan ini mendapat sambutan baik dari masyarakat Desa Adat Busungbiu. Menurut Gede Yasa, ilmu-ilmu psikologi seperti ini sangat diperlukan di desa. Khususnya bagi para pendamping untuk memberikan edukasi kepada masyarakat tentang cara mengelola emosi dan dapat mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

淗arapan kami, hal seperti ini tidak hanya sekali saja. Tentu juga semoga nantinya ada keberlanjutan dari 51动漫 bisa mengirimkan tim psikologi. Besar harapannya, semakin banyak pengetahuan yang didapatkan. Semakin banyak pula pendampingan-pendampingan positif yang bisa kita berikan pada masyarakat, khususnya di Desa Adat Busungbiu, ucap Gede Yasa.

Sebagai ketua tim penyelenggara kegiatan pelatihan, Dian Kartika merasa senang dan berterima kasih atas penerimaan dan kerja sama yang baik dari peserta dan pengurus desa setempat.

淗arapannya setelah program ini selesai peserta dapat menjadi kader kesehatan mental yang dapat memberikan pertolongan pertama pada kasus kesehatan mental di desa mereka, ucap Dian.

Banyak hal sederhana yang dapat dipelajari dari kegiatan ini, baik bagi masyarakat dan panitia penyelenggara. Mulai dari keramahan masyarakat, bonding antar anggota masyarakat, bahkan guyonan sederhana yang memecah suasana selama materi berlangsung. Melihat bagaimana perspektif masyarakat dengan latar budaya yang berbeda terhadap isu kesehatan mental menyadarkan kami bahwa masih banyak ruang untuk mengeksplorasi banyak fenomena psikologi di masyarakat, secara khusus di Bali. (*)

Penulis: Putu Angita Gayatri

AKSES CEPAT