UNAIR NEWS Perkembangan teknologi melaju dengan pesat hingga hadirnya Artificial Intelligence (AI) atau Kecerdasan Buatan yang tengah populer saat ini. AI mampu melaksanakan tugas-tugas yang awal mulanya hanya dapat dikerjakan oleh manusia, seperti halnya ChatGPT.
Dengan kemampuannya untuk menghasilkan informasi dan konten secara otomatis, AI atau ChatGPT berpotensi untuk memberikan dampak dalam era post-truth. Informasi yang diberikan dapat berupa fakta, opini, hingga disinformasi. Hal tersebut dapat memperburuk fenomena era post-truth. Sebab, itu memungkinkan adanya penyebaran dan pemanipulasian dalam mempengaruhi opini publik.
Menyikapi hal tersebut, Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin 51动漫 (UNAIR) menggelar Seminar Nasional ChatGPT dengan tema 淧ro dan Kontra Pelaksanaan Tri Dharma dengan Kecerdasan Buatan. Turut hadir , dosen FTMM sekaligus Praktisi Media, Komunikasi, dan Informasi Publik UNAIR, yang mengupas tuntas peran GPT sebagai asisten demokrasi untuk mendeteksi bias media di era post-truth.
Konglomerasi dan Bias
Menurut Fakhruzzaman, saat ini AI memiliki kedekatan yang intens dengan manusia. Sehingga dapat menjadi asisten yang membantu manusia dalam sehari-hari. Saat ini media menyediakan berbagai informasi yang memudahkan manusia dalam memilih secara rasional.
淒alam hal demokrasi, butuh jurnalisme yang dapat menjangkau berbagai kalangan. Media di Indonesia saat ini masih bersifat independen dan sangat menurun jumlahnya, ucap Fakhruzzaman.
Salah satu tantangan yang muncul dalam media massa adalah konglomerasi media dan bias algoritma. Fenomena tersebut memperlihatkan kepemilikan media massa yang terpusat pada sekelompok kecil orang atau lembaga. Hal tersebut dapat menimbulkan berbagai masalah, khususnya bias dalam pemberitaan.
Untuk menghadapi tantangan konglomerasi media dan bias algoritma, perlu adanya pengembangan kemampuan berpikir kritis. Manusia harus mampu membedakan antara fakta dan opini, serta menganalisis sudut pandang yang berbeda dalam suatu berita.

Mengenal LMMs
LMMs hadir sebagai solusi teknologi yang untuk memperkuat efisiensi, efektivitas, dan akuntabilitas dalam memastikan kebenaran yang ada. Teknologi tersebut berperan dalam menganalisis pembingkaian pemberitaan media massa. Melalui penggunaan LMMs, manusia dapat mengetahui bagaimana suatu media massa membingkai isu yang berbeda-beda.
淒alam LMMs terdapat tes untuk mengetahui apakah berita itu halusinasi atau bukan. Kita harus sadar, bahwa LMMs benar atau tidak. Yang menjadi concern, tidak adanya learning process dalam pembelajaran akibat hadirnya AI, terang Dosen Teknologi Sains Data tersebut.
Pada akhir sesi materi, Fakhruzzaman menegaskan bahwa pengguna tetap harus berhati-hati dan bertanggung jawab atas penggunaan AI. Sebab, AI tidak dapat bertanggung jawab atas apa yang ia hasilkan.
Penulis:
Editor: Feri Fenoria





