51动漫

51动漫 Official Website

Gambaran Perilaku Pemilih pada Pemilihan Umum Tahun 2014

Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2014 untuk memilih Presiden dan Badan Legislatif  menarik untuk dikaji mengingat pelaksanaan pemilu pada tahun tersebut terlaksana dimana tidak ada incumbent serta para pasangan calon berasal dari kombinasi partai yang saling bersaing pada periode sebelumnya. Tanpa adanya incumbent pada tahun pemilu menyebabkan persaingan antar pasangan calon (paslon) semakin tinggi. Berbagai upaya untuk mendapatkan porsi suara pemilih dilakukan masing-masing paslon, baik menggunakan media kampanye maupun propaganda lainnya, termasuk media massa cetak, TV, radio dan media sosial kekinian (youtube, WA, facebook, istagram, twitter, dan lain-lain).

Pada tahapan akhir dari pemilu tahun 2014 menempatkan 2(dua) pasangan  calon, yaitu Prabowo Soebinato dan Hatta Rajasa atau dikenal juga sebagai pasangan Koalisi Merah Putih; serta paslon Joko Widodo dan Jusuf Kalla yang juga dikenal dengan pasangan Koalisi Indonesia Hebat. Koalisi Merah Putih mendapat nomor urut 2(dua), didukung oleh Partai Gerindra, sedangkan koalisi Indonesia Hebat mendapat nomor urut 1(satu), dan didukung oleh PDI-P. Paslon 1 yaitu Joko Widodo, bertugas sebagai Gubernur DKI Jakarta pada saat itu,  berpasangan dengan Jusuf Kalla, mantan Wakil Presiden Republik Indonesia periode 2004-2009, atau era SBY. Paslon nomor urut 2 (Prabowo-Hatta), dimana Prabowo adalah mantan Panglima Kostrad pada era orde baru, berpasangan dengan Hatta Rajasa, mantan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian 2009-2014.

Keketatan persaingan antara dua paslon ini didukung oleh peran media yang sangat massif. Metro TV, salah satu TV swasta terbesar di Indonesia, dimiliki oleh Surya Paloh (Partai Nasdem) cenderung memaparkan berita baik atas paslon Jokowi-JK, sebaliknya bagi paslon Prabowow-Hatta, siaran TV One, ANTV, dan MNC TV cenderung mendukung kampanye paslon ini. Dua TV pertama dimiliki oleh Keluarga Bakrie (Partai Golkar) dan MNC TV sebagai salah satu media TV dan radio terbesar di Indonesia yang berafiliasi dengan partai Hanura, Nasdem, dan Perindo.

Bagaimanakah para pemilih menentukan pilihannya atas banyaknya informasi dari media atas paslon yang ada? Menggunakan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2014 Modul Hansos, dengan jumlah responden sebanyak 71.446 orang, studi ini menemukan ada 4(empat) hal yang membuat pemilih mendukung paslon tertentu, yaitu: kesamaan agama, mendapat uang untuk memilih, tingkat Pendidikan paslon, dan status sosial paslon. Temuan ini dapat dimaknai sebagai pemilih Indonesia cenderung bersifat rasional, dimana kesediaan memilih kondisional pada ada tidaknya uang saku, yang dalam bahasa ekonomi politik dikenal dengan vote buying. Jenjang Pendidikan paslon, yang mungkin dikaitkan dengan potensi kepemimpinan juga menjadi dasar memilih yang rasional. Di sisi yang lain, karakteristik primordialisme nampak pada pilihan yang terkait dengan kesamaan agama dan status sosial paslon. Tahun 2024 akan diadakan pemilu lagi, apakah pemilih Indonesia akan memilih engan pertimbangan yang rasional?.

Penulis: Dr. Ni Made Sukartini, S.E., M.Si., MIDEC.

Jurnal: Do Indonesians rationally or irrationally vote? Evidence from the 2014 Indonesian general election

AKSES CEPAT