51动漫

51动漫 Official Website

Gandeng Akademisi Singapura, FK Bahas Implementasi dan Tantangan AI Medis

Lou Xuanming BEng PhD, dosen Singapore University of Technology and Design (SUTD) dalam kuliah tamu bertajuk Artificial Intelligence in Healthcare: From ChatGPT to Baymax, The Singapore Perspective (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS Akal Imitasi (AI) kian menjadi perhatian dalam transformasi layanan kesehatan global. Menyadari urgensi tersebut, (GRAMIK) (FK) 51动漫 (UNAIR) menggelar kuliah tamu bertajuk Artificial Intelligence in Healthcare: From ChatGPT to Baymax, The Singapore Perspective. Kegiatan berlangsung pada Rabu (25/2/2026) secara daring melalui Zoom Meeting.

Turut hadir memberikan sambutan, Dr Dwiyanti Puspitasari dr DTMH MCTM (TP) SpA(K). Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa dunia medis berada di titik transisi yang menuntut kesiapan menghadapi teknologi yang berkembang pesat. Menurutnya, generasi dokter saat ini memegang peran strategis dalam menjembatani perubahan tersebut. 

淜ita bukan lagi sekadar dokter dalam pelatihan atau praktisi di lapangan. Kita adalah generasi yang akan menjembatani antara stetoskop tradisional dan algoritma canggih berbasis kecerdasan buatan. Masa depan layanan kesehatan sedang dibangun hari ini, dan inilah saatnya kita memahami arah dan cetak birunya, ujarnya.

Hadir sebagai pemateri utama, Lou Xuanming BEng PhD, dosen Singapore University of Technology and Design (SUTD). Lou mengawali pemaparannya dengan menjelaskan bahwa AI pada dasarnya adalah teknologi yang mensimulasikan kecerdasan manusia melalui analisis data. Mesin dapat mengenali pola, membuat prediksi, hingga membantu pengambilan keputusan. Namun, ia menekankan bahwa AI bekerja berdasarkan probabilitas, bukan pemahaman layaknya manusia.

Menurutnya, perkembangan AI di bidang kesehatan berlangsung sangat cepat, khususnya di Singapura. 淏idang AI dan kesehatan berkembang sangat cepat di seluruh dunia. Di Singapura, hampir setiap hari ada hal baru yang muncul. Bahkan saya sendiri terus belajar karena perubahan terjadi begitu cepat, jelasnya.

Lou kemudian mencontohkan karakter Baymax sebagai gambaran ideal layanan kesehatan masa depan. Sebuah robot yang mampu memindai, mendiagnosis, hingga memberikan dukungan dengan empati. Kendati masih sebatas ilustrasi, sejumlah elemennya mulai mendekati kenyataan. Seperti penggunaan AI dalam pembacaan X-ray dan MRI serta large language model (LLM) untuk pengolahan data medis.

Lebih lanjut, Lou memaparkan bagaimana AI telah diimplementasikan secara konkret dalam sistem kesehatan Singapura. Salah satunya melalui sistem pencatat medis otomatis yang membantu dokter fokus pada pasien tanpa harus sibuk mengetik. 淧asien sering merasa dokter terlalu fokus pada layar. Dengan AI, percakapan bisa ditranskripsi otomatis dan dirangkum menjadi laporan medis terstruktur, sehingga interaksi tetap terjaga, terangnya.

Selain mendukung administrasi klinis, AI juga dimanfaatkan dalam proses diagnosis. Di Singapura, teknologi berbasis computer vision telah digunakan untuk mendeteksi retinopati diabetik melalui pemindaian fundus mata. Dengan bantuan algoritma, hasil analisis yang sebelumnya membutuhkan waktu berhari-hari kini dapat diperoleh hanya dalam hitungan menit. Hal ini dinilai mampu meningkatkan efisiensi sekaligus mempercepat intervensi medis.

Kendati demikian, Lou mengingatkan bahwa percepatan inovasi ini tetap harus diimbangi dengan kesiapan regulasi, kualitas data, serta pertimbangan etika. 淎I bukanlah pengganti dokter, melainkan mitra dalam meningkatkan kualitas layanan. Manusia tetap memiliki empati, kemampuan observasi, dan penalaran yang tidak bisa digantikan oleh mesin. AI membantu mempercepat proses, tetapi keputusan akhir tetap berada di tangan manusia, pungkasnya.

Penulis: Fania Tiara Berliana M

Editor: Yulia Rohmawati

AKSES CEPAT