UNAIR NEWS Lembaga Penelitian dan Antariksa Nasional (LAPAN) yang bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) 51动漫 menggelar Seminar Nasional Kebijakan Penerbangan dan Antariksa Ke-III, Senin (6/8). Bertema 淎rtikulasi Strategis Kebijakan Antariksa Menuju Pencapaian Visi Keantariksaan Indonesia 2016-2040 yang Mandiri, Maju, dan Berkelanjutan, seminar nasional itu berlangsung di Aula Amerta, Kantor Manajemen Kampus C UNAIR.
Tujuan kegiatan itu adalah memperoleh masukan guna menyusun strategi dan arah kebijakan nasional di bidang teknologi penerbangan dan keantariksaan. Sejumlah mahasiswa, dosen, dan umum hadir. Seminar nasional itu terdiri atas dua sesi. Yakni, sesi pleno dan paralel.
Dalam sesi pleno, tiga pembicara dihadirkan. Yakni, Kepala LAPAN Prof. Dr. Thomas Djamaluddin; Guru Besar Tidak Tetap UNAIR Prof. Dr. Makarim Wibisono, MA-IS., MA.; dan Wakil Rektor I UNAIR Prof. Djoko Santoso, dr., Ph.D., K-GH., FINASIM.
Selanjutnya, dalam sesi paralel, terdapat tiga tema besar yang dibahas. Yakni, Kebijakan Pengembangan Teknologi Keantariksaan, SDGs (Sustainable Development Goals) dan Ekonomi Keantariksaan, serta Peran dan Kepentingan RI dalam Forum Internasional.
Menjadi pembicara pertama dalam sesi pleno, Kepala LAPAN Prof. Dr. Thomas Djamaluddin menjelaskan Strategi Pencapaian Visi Keantariksaan Indonesia 2016-2040. Sebagai salah satu amanat UU No. 21 tahun 2013 tentang Keantariksaan, Presiden Joko Widodo telah menandatangi Peraturan Presiden (Perpres) No. 45 tahun 2017 tentang Rencana Induk Penyelenggaraan Keantariksaan Tahun 2016-2045 yang merupakan pedoman nasional untuk penyelenggaraan keantariksaan nasional.
漋isi Penyelenggaraan keantariksaan yang tercantum dalam Rencana itu adalah: Keantariksaan Indonesia yang mandiri, maju, dan berkelanjutan, ujarnya.
Mandiri, lanjut dia, berarti mencirikan suatu bangsa dalam menguasai IPTEK yg sejajar dengan negara maju dan membangun jejaring. Maju, Sumber Daya Manusia (SDM) mempunyai kepribadian bangsa, punya kontribusi di sektor-sektor industri jasa keantariksaan yg konsisten dan adaptif.
滵an, berkelanjutan artinya terjaminnya keamanan dan kesejahteraan bagi umat manusia pada masa depan, imbuhnya.
Prof. Thomas menyatakan, di lingkup nasional terkait penerbangan, telah dipersiapkan lingkungan penerbangan tanpa awak. Pemanfaatan satelit, misalnya, yang saat ini sudah menjadi bagian kehidupan manusia modern perlu kita kuasai teknologi, juga cara penggunaannya.
漇ebab, penggunaan antariksa secara berkelanjutan menjadi bagian terpenting dalam kehidupan nasional pada masa depan, ujarnya.
Karena itu, Prof. Thomas berharap kebijakan penerbangan dan antariksa dengan tiga tema itu dapat tercapai. Sebab, SDGs sangat penting dalam kehidupan manusia untuk mewujudkan teknologi yang berkelanjutan.
Sementara itu, menggantikan rektor UNAIR, Wakil Rektor I Djoko Santoso menjelaskan Prospek dan Peluang Space Economi. Pada abad 21, lanjut dia, semuanya bisa dihadirkan dengan kecanggihan.
Meski memiliki keberbedaan, dengan komitmen bersama, pada 2045 Indonesia diharapkan menjadi negara adidaya. Itu juga harus dilandasi dengan komitmen kerja keras.
Menurut dia, pada abad 21, ketergantungan pada teknologi sungguh luar biasa. Jadi, sisi kesejahteraan dan kemudahan menjadi harga mati. Namun, di sisi lain, kemajuan itu memiliki dampak negatif saat kemajuan antariksa luar biasa.
滻ni mengandung pesan atas kemanfaatan manusia secara penuh sesuai dengan amanah SDGs, terutama kebutuhan manusia dan alam, sebutnya.
滽arena itu, marilah kita menjadikan mahasiswa kita, good service untuk menguasasi ilmu dasar dari domain masing-masing sampai ilmu spesifik atau profesional, tambahnya.
Mahasiswa nanti, kata dia, mesti menjadi insan yang profesional mematuhi regulasi, etika, dan bekerja sama, sampai ke tingkat global (SDGs masyarakat global), dan santun berkomunikasi. Khususnya menjadikan mahasiswa berbasis bukti dan sistematis.
漃ada abad revolusi 4.0 otomasi terpadu, disadarkan kepada mahasiswa jangan memakai cara konvensial, tapi spirit relation supaya tercipta sebagai sisi tanggung jawab moral, tuturnya.
Di sisi lain, Prof. Makarim Wibisono menjelaskan peran space diplomacy untuk pencapaian Kepentingan RI di bidang keantariksaan. Antariksa itu penting bagi RI karena posisi geografisnya terletak di garis khatulistiwa, dua samudera (Hindia-Pasifik) dan dua benua (Asia-Australia).
Antariksa, imbuh dia, menjadi prioritas Nasional, yaitu seperti dalam UU RI tahun 2013 tentang keantariksaan, Perpres RI NO 45 2017 tentang Rencana Induk Penyelenggarakan Keantariksaan, dan PP RI No 11 tahun 2018 tentang Tata Cara Penyelenggaraan Kegiatan Inderaja (Penginderaan Jauh).
滷aktanya, antariksa saat ini telah meningkatkan IPTEK negara-negara bukan karena manuver politik. Berbeda dengan dulu hanya kepentingan politik AS dan US (Uni Soviet), ujarnya.
Menurut Prof. Makarim langkah yang harus dilakukan RI (agar aman) adalah menempatkan Atase LAPAN di PTRI Wina untuk aktif memonitor, agar tidak mengancam kepentingan RI. Termasuk memperkuat direktorat yang kini menangani space diplomacy dan berpartisipasi aktif dalam pembicaraan mengenai antariksa. Juga, negosiasi code of conduct. (*)
Penulis: Fariz Ilham Rosyidi
Editor: Feri Fenoria Rifa檌





