UNAIR NEWS Munculnya pandemi Covid-19, menyebabkan cakupan imunisasi menurun sebesar 28,6 persen pada semester pertama tahun 2020 (Januari Juni 2020) jika dibandingkan dengan semester yang sama di tahun 2019. Jika kondisi ini dibiarkan berlanjut, maka cakupan imunisasi nasional pun akan turun. Tentunya, kekebalan komunitas juga menurun sehingga menyebabkan risiko terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB) Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I).
Melihat hal tersebut dibutuhkan suatu upaya kolaboratif sebagai upaya untuk meningkatkan cakupan imunisasi. Bersama UNICEF dan Dinas Kesehatan Jawa Timur, 51动漫 (UNAIR) menggelar Workshop Penguatan Imunisasi Rutin Lengkap Bersama Tokoh Agama dengan Melibatkan Pondok Pesantren di Provinsi Jawa Timur. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Rabu (2/11) di Hotel Ibis Styles Jemursari Surabaya.
淜ita upayakan, paling tidak kerjasama ini kita tingkatkan karena jumlah imunisasi yang akan diberikan kepada putra putri kita akan bertambah dengan tujuan agar mendapatkan perlindungan yang lebih baik, ujar perwakilan UNICEF Indonesia, Dr Armunanto MPH.
Menurutnya, jangkauan imunisasi di Jawa Timur tergolong lebih baik ketika dibandingkan dengan daerah lain di luar pulau jawa, bahkan terdapat daerah yang cakupannya hanya 16 persen. Melihat hal tersebut, menandakan banyak anak Indonesia yang belum terlindungi secara maksimal.
Sebagai tambahan, terdapat beberapa penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi, diantaranya, polio, hepatitis B, pertussis, difteri, haemophilus influenzae tipe B, campak dan tetanus.
Tentunya, hal tersebut harus disosialisasikan secara masif, salah satunya pondok pesantren. Maklum saja, sebagai lembaga pendidikan yang cukup besar, apalagi di wilayah Jawa Timur, Pondok Pesantren diharapkan mampu menjadi motor penggerak dalam bidang kesehatan.
淚ni semua menunjukan kepedulian kita tentang permasalahan kesehatan. Kita tau bahwa imunisasi ini merupakan salah satu program yang sangat post-effective. Dianggap paling murah untuk penanggulangan masalah kesehatan terutama untuk penyakit menular, pungkas perwakilan Gerakan Peduli Ibu dan Anak sehat (Geliat) Airlangga, Dr Arief Hargono drg MKes.
Pada survei UNICEF Indonesia, didapati bahwa tenaga kesehatan kesulitan memberikan imunisasi ganda yang disebabkan oleh tidak setujunya orang tua sejumlah 69,06 persen, rasa takut akan efek samping yang lebih berat bagi bayi sejumlah 31,09 persen, serta adanya potensi penolakan pada imunisasi selanjutnya sejumlah 69 persen.
淜etika pandemi ini terjadi, cakupan imunisasi yang programnya untuk memberikan pencegahan kepada bayi dan anak untuk pencegahan penyakit, ini programnya menurun, tambahnya. (*)
Penulis: Afrizal Naufal Ghani
Editor: Nuri Hermawan





