Keputihan kerap dikeluhkan oleh remaja putri, terutama mereka yang duduk di bangku sekolah menengah. Hampir semua remaja putri pernah mengalami keputihan di Indonesia. Keputihan merupakan cairan berwarna putih yang keluar dari vagina wanita. Umumnya ditemukan sekitar periode ovulasi yang menandai fase keseburan seorang wanita. Pada periode ini, kelenjar di dalam vagina menghasilkan banyak sekret yang melembapkan dan melicinkan liang senggama.
Kondisi yang lembap di dalam vagina merupakan lingkungan yang mendukung untuk pertumbuhan patogen, seperti jamur candida atau bakteri. Pertumbuhan patogen tak akan pernah terjadi selama tingkat keasaman vagina dipertahankan oleh keberadaan bakteri Lactobacillus sp. Bakteri ini menghasilkan asam laktat yang bersifat asam di dalam vagina.
Populasi bakteri Lactobacillus sp ditemukan berkurang secara bermakna pada individu yang menderita stres psikologis. Stres psikologis memicu sekresi hormon stres kortisol. Hormon kortisol menekan pertumbuhan bakteri Lactobacillus sp di vagina, sehingga produksi asam laktat menurun dan keasaman vagina tak bisa dipertahankan. Jika dalam periode stress psikologis, seorang wanita memiliki perilaku yang kurang hygiene, dapat menjadi penyebab jamur atau bakteri pathogen tumbuh dalam vagina yang lembap dan kurang asam. Perilaku kurang hygiene antara lain: cara cebok yang salah, jarang ganti celana dalam, dan penggunaan pembersih vagina yang memiliki pH terlalu tinggi.
Pertumbuhan pathogen di dalam vagina akan mengubah keputihan yang fisiologis menjadi keputihan yang patologis. Keputihan patologis ditandai dengan gejala penyerta seperti : keputihan yang berwarna hijau atau kuning, berbau khas seperti ikan asin atau busuk, dan gatal atau nyeri di area kewanitaan. Penelitian yang dilakukan di Surabaya, tahun 2024 pada siswi SMA full day diperoleh data yang tidak diharapkan. Sebagian besar responden (71% dari 131 siswa) mengaku menderita gejala keputihan patologis. Gejala patologis yang paling dominan ditemukan adalah gatal di sekitar area kewanitaan sebesar 55,7%.
Hasil penelitian juga mengkonfirmasi bahwa gejala keputihan patologis yang dialami siswi SMA full day di Surabaya bukan disebabkan oleh masalah kecukupan gizi atau perilaku hygiene yang keliru. Faktor yang terbukti mempengaruhi gejala keputihan patologis muncul adalah stress psikis dan status imunitas yang rendah. Hasil skrining tingkat stress psikologis menggunakan kuesioner DASS 42 diperoleh data 81,6 % responden tak mampu menerima tekanan psikologis di sekolah. Hasil skrining status imunitas menggunakan keusioner modified ISQ diperoleh data 78,2% responden memiliki status imunitas yang rendah.
Metode full day yang diterapkan di banyak sekolah favorit di Surabaya diduga menjadi penyebab fenomena ini. Metode full day memberikan tekanan psikologis yang lebih tinggi kepada siswa, dengan tugas yang lebih banyak dan kedisiplinan ketat. Siswa dari sekolah full day tidak cukup beraktivitas di luar kelas. Sebagian besar waktu dihabiskan di dalam kelas, bahkan tak sedikit sekolah yang memindahkan aktivitas olahraga dan upacara bendera dari outdoor ke indoor. Sekilas taka da masalah dari perubahan ini, namun tanpa disadari hal ini berdampak kepada waktu pajanan sinar matahari yang berkurang untuk anak didik. Lalu apa masalahnya?
Sinar matahari menjadi komponen penting dalam aktivasi vitamin D3 dari pro vitamin D3 di kulit manusia. Vitamin D3 berperan menjaga status imunitas mukosa, seperti dalam vagina. Hasil pemeriksaan kadar vitamin D3 responden diperoleh data yang cukup mengkhawatirkan. Sebagian besar responden berada dalam status kadar vitamin D3 yang rendah. Memang belum sampai ke tingkat defisiensi, namun ini sudah cukup untuk memicu gejala keputihan patologis. Hasil riset kekinian mengungkap bahwa rendahnya kadar vitamin D3 berkorelasi dengan pertumbuhan jamur candida albicans dalam vagina yang menyebabkan keluhan gatal selama keputihan berlangsung. Bahkan, suplementasi vitamin D3 saat ini disarankan sebagai terapi pendamping pada infeksi candida albican.
Sudah saatnya kita sebagai orang tua lebih memperhatikan kesehatan reproduksi remaja putri. Orang tua dapat berperan dalam membantu siswa untuk mengendalikan stres, memberikan asupan gizi yang baik, mengajarkan perilaku hygiene yang benar dan memberikan waktu pajanan sinar matahari yang cukup. Ke depan diharapkan perlu dilakukan skrining masal kecukupan kadar vitamin D3 kepada remaja putri demi mencegah penurunan status imunitas tubuh dan resiko keputihan patologis yang bergejala.
Penulis : Bambang Purwanto
Guru Besar Ilmu Faal FK Unair
Sumber :
Rini Tri Y, Rize Budi A, Atika A, Bambang P, Eka Arum P. The Relationship of Perceived Immune Status, Psychological Distress, and Nutritional Status with Pathological Leukorrhea among Full-day School Students in Surabaya, Indonesia. Journal of Midwifery and Reproductive Health. 2026; 14(1): 5174-5180. DOI: 10.22038/jmrh.2025.78553.2343





