UNAIR NEWS – Masih dalam rangkaian perayaan Dies Natalis ke-71, 51动漫 (UNAIR) kali ini selenggarakan Gebyar Langgam Orang Madura (). Kegiatan tersebut secara resmi dibuka pada Kamis (13/11/2025) dan akan terselenggara hingga Minggu (16/11/2025) di Airlangga Convention Center (ACC) Kampus MERR-C UNAIR.
Sekretaris 51动漫, Prof Dr Dwi Setyawan SSi MSi Apt menyampaikan bahwa GeLORa merupakan momentum penting untuk menghidupkan kembali semangat kebangsaan melalui pelestarian nilai-nilai lokal. Ia juga menegaskan kegiatan ini merupakan hasil inisiatif kolaborasi berbagai lembaga di lingkungan UNAIR.
Perguruan Tinggi sebagai Pelestari Budaya
Bagi Prof Dwi, perguruan tinggi memiliki peran penting sebagai penggerak pelestarian budaya yang berkelanjutan. 淏udaya Madura mengajarkan kita nilai-nilai luhur seperti keberanian, kesetiaan, kerja keras, dan penghormatan terhadap kemajuan bangsa. Nilai-nilai ini justru semakin relevan di tengah arus globalisasi dan benturan budaya asing yang kerap menenggelamkan identitas lokal kita, ujarnya.

Lebih lanjut, Prof Dwi menyebut bahwa UNAIR memiliki komitmen kuat untuk membangun generasi muda yang berbudaya, berkarakter, dan berkelanjutan. Ia menyebut generasi tersebut sebagai generasi Tunas Hijau. 淛adi mereka bukan hanya mencintai budaya, tetapi juga mampu mengolahnya menjadi kekuatan ekonomi kreatif, diplomasi kebudayaan, dan inovasi sosial, pungkasnya.
Pilar Budaya
Sementara itu, Prof Dr Bambang Tjahjadi SE Ak MBA CMA CPM CA CSSL, selaku penanggung jawab GeLORa menjelaskan bahwa pemilihan tema budaya Madura bukan tanpa alasan. Menurutnya, Madura memiliki kontribusi besar dalam membentuk karakter budaya Jawa Timur.
淜ita tahu bahwa di Jawa Timur terdapat tiga pilar budaya utama. Yakni budaya Mataraman, budaya Arek, dan budaya Pandalungan. Budaya Madura menjadi unsur penting yang mewarnai ketiganya, terutama dalam karakteristik bahasa dan kehidupan sosial masyarakat, jelasnya.

Prof Bambang menuturkan bahwa kegiatan GeLORa telah menjadi tradisi tahunan UNAIR sejak 2015, dengan setiap tahun mengangkat tema budaya yang berbeda. Sebelumnya, GeLORa pernah menyoroti budaya Jawa Timuran, Majapahit, hingga budaya pesantren.
淒alam setiap perayaan budaya, kami selalu menghadirkan unsur-unsur yang telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia, seperti batik, wayang, tari, dan keris. Tahun ini, semua unsur itu kami tampilkan dalam konteks budaya Madura yang sangat kaya, tambahnya.
Prof Bambang juga menyampaikan bahwa di GeLORa ini akan ada penampilan berbagai pementasan seni khas Madura. Mulai dari wayang wayang orang berbahasa Madura, pameran lukisan, fotografi, batik, pusaka dan kuliner khas Madura.
Penulis: Adinda Octavia Setiowati
Editor: Yulia Rohmawati





