Glanders adalah penyakit zoonosis yang sering kali terabaikan namun memiliki dampak serius, disebabkan oleh bakteri Burkholderia mallei. Meskipun penyakit ini terutama memengaruhi hewan equin, seperti kuda, keledai, dan mule, manusia juga dapat terinfeksi. Meskipun Burkholderia mallei pertama kali diisolasi pada tahun 1882 dan glanders telah diberantas di banyak negara industri, wabah sporadis masih terjadi di Asia, Afrika, dan beberapa kawasan di Amerika Latin. Ini menunjukkan bahwa glanders tetap menjadi ancaman transborder yang sangat nyata. Penyakit glanders pernah dipandang sebagai masalah sejarah yang sudah berlalu, tetapi kemunculannya yang kembali beberapa dekade terakhir menegaskan bahwa glanders adalah infeksi yang muncul kembali, terutama di negara-negara dengan sistem veteriner yang kurang memadai. Keberadaan penyakit ini berbeda dengan banyak penyakit equin lainnya yang telah menurun secara global, menunjukkan perlunya perhatian lanjut dalam aspek ilmiah dan kebijakan.
Glanders juga memiliki relevansi historis yang unik. Penyakit ini adalah salah satu patogen awal yang digunakan sebagai agen senjata biologi selama Perang Dunia I dan II. Hingga kini, Burkholderia mallei masih diklasifikasikan sebagai Tier 1 Select Agent oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) karena kemampuannya untuk menyebar melalui aerosol dan tingkat letalitas yang tinggi. Identitas ganda ini攕ebagai zoonosis terabaikan dan agen ancaman biologi攎enjadikan glanders berada di persimpangan antara kedokteran hewan, kesehatan masyarakat, dan keamanan internasional. Secara epidemiologis, glanders sering kali dianggap sebagai penyakit langka atau menurun. Namun, survei serologis dan laporan wabah terbaru dari Asia Selatan, Timur Tengah, dan Amerika Selatan menunjukkan adanya pola underdiagnosis dan underreporting yang signifikan. Bahkan, beberapa negara yang telah mendeklarasikan diri bebas glanders mengalami reintroduksi penyakit ini karena pergerakan kuda yang tidak terkontrol di sepanjang perbatasan dan kapasitas veteriner yang tidak memadai.
Para ahli berpendapat bahwa ketiadaan resmi glanders di suatu negara lebih mencerminkan kebutaan diagnostik dan bukan penghapusan yang sebenarnya, menciptakan rasa aman yang salah dalam kebijakan perdagangan dan kesehatan hewan. Hal ini menegaskan perlunya pemahaman yang lebih mendalam dan analisis kritis terhadap data epidemiologi yang ada. Glanders pada hewan dan manusia biasanya ditandai dengan gejala seperti demam, kesulitan bernapas, nodul, dan septicemia. Namun, tumpang tindih dengan penyakit infeksi lainnya menyulitkan untuk melakukan pengenalan awal. Meskipun beberapa sumber membahas diagnosis banding, tidak banyak yang memberikan analisis komparatif yang dapat membantu tenaga medis membedakan secara akurat di daerah endemik. Kebingungan dalam diagnosis ini dapat meningkatkan angka kematian baik pada hewan maupun manusia, terutama di tempat di mana konfirmasi laboratorium terbatas.
Pengobatan dan pencegahan glanders juga tidak kalah menantang. Kuda yang terdeteksi positif biasanya harus dimusnahkan untuk mencegah penyebaran lebih lanjut, dan saat ini belum tersedia vaksin. Untuk manusia, terapi antibiotik jangka panjang telah dicoba dengan mengacu pada protokol pengobatan melioidosis.
Namun, evaluasi sistematis terhadap regimen ini masih jarang, dan penelitian eksperimen terbaru tentang antibiotik baru dan intervensi imunologis belum ditinjau secara komprehensif. Aspek biosecurity semakin mempertinggi pentingnya penelitian tentang glanders. Penggunaan Burkholderia mallei sebagai senjata oleh Jerman dan Jepang selama Perang Dunia serta klasifikasi penyakit ini sebagai agen potensial bioterorisme semakin menguatkan kekhawatiran akan keamanan berkelanjutan. Namun, literatur yang ada seringkali hanya menceritakan sejarah ini tanpa menghubungkannya dengan strategi biodefense saat ini. Diskusi kritis diperlukan terkait kelemahan dalam kesiapsiagaan, kebijakan pengendalian laboratorium, dan integrasi pengawasan glanders ke dalam kerangka kerja yang lebih luas untuk patogen berisiko tinggi. Artikel ini tidak hanya mengulangi aspek klinis dan sejarah glanders. Keunikan artikel ini terletak pada sintesis wawasan molekuler baru, pengkajian ulang pola epidemiologi dalam cahaya underreporting, serta analisis implikasi biosecurity dalam konteks biodefense modern.
Penulis: Prof. Dr. Imam Mustofa, drh., M.Kes.





