Green Intellectual Capital (GIC) merupakan sebuah paradigma baru yang dikembangkan dari Intellectual Capital. Seiring dengan tingkat kepedulian lingkungan oleh perusahaan merupakan hal yang sangat penting dalam meningkatkan kinerja yang menunjukkan bahwa aset tak berwujud menjadi hal yang sangat penting untuk disajikan dalam pelaporan keuangan. Kepedulian lingkungan telah menjadi salah satu fokus utama perusahaan selain memperoleh laba (Chang & Chen, 2012). Kepedulian lingkungan juga menjadi bagian dari competitive advantage yang harus diperhatikan oleh perusahaan(Yusoff et al., 2019). Bentuk kepedulian lingkungan perusahaan lebih dikenal dengan istilah CSR (Corporate Social Responsibility). Perpaduan antara intellectual capital dan kepedulian lingkungan telah menjadi awal perkembangan penelitian mengenai GIC.
Dimensi dari GIC terdiri atas tiga yakni green human capital, green structural capital dan green relational capital(Chen, 2008). GIC merupakan penggabungan dari kepedulian karyawan, kecerdasan, pengetahuan, pengalaman serta informasi yang dapat digunakan dalam jangka panjang(H. Ullah et al., 2022). GIC bukan hanya dapat memenuhi aturan lingkungan internasional yang ketat dan kesadaran lingkungan dari konsumen namun juga mendapatkan keunggulan bersaing(Chen, 2008)
GIC memberikan peluang bagi perusahaan untuk fokus pada pengembangan produk berkelanjutan bersama dengan praktik green manufaktur sehingga dengan cara tersebut perusahaan mampu meningkatkan kinerja bisnis dengan bantuan pelestarian lingkungan(Yusliza et al., 2020)h
Beberapa penelitian telah dilakukan untuk menguji hubungan antara intellectual capital dengan kinerja keuangan yang dimoderasi oleh family ownership diantaranya ditemukan tidak terdapat pengaruh yang menguatkan hubungan antara intellectual capital dengan kinerja keuangan (Cinintya Pratama & Wibowo, 2017) namun terdapat hasil yang menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kinerja perusahaan pada perusahaan yang memiliki karakter family ownership (Alrawashedh, 2021; Pratama & Innayah, 2019))) Penelitian yang dilakukan dengan family ownership dihubungkan langsung dengan intellectual capital disclosre menunjukkan hubungan yang negative (Mubarik et al., 2019). Berdasarkan hal tersebut, pada artikel ini menjadikan family ownership sebagai moderasi hubungan antara green intellectual capital disclosure terhadap financial performance
Atas hal tersebut pada penelitian ini diajukan hipotesis sebagai berikut:
H1: Green intellectual capital disclosure berpengaruh positif terhadap financial performance
H2: Green intellectual capital disclosure berpengaruh positif terhadap financial performance yang dimoderasi oleh family ownership
Penelitian ini mengambil sampel penelitian pada perusahaan sektor pertambangan dan sektor industri dasar dan kimia yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia Alasan pemilihan sampel tersebut adalah kedua sektor tersebut merupakan perusahaan yang termasuk memiliki tingkat sensitivitas tinggi pada lingkungan. Adapun laporan tahunan diambil selama periode tahun 2019 hingga tahun 2021 sebanyak 92 perusahaan.
Hasil penelitian ini secara statistik menunjukkan bahwa green intellectual capital disclosure tidak memiliki pengaruh langsung terhadap kinerja keuangan perusahaan. Namun family ownership memiliki pengaruh dan mampu menguatkan hubungan antara green intellectual capital disclosure dengan kinerja keuangan perusahaan.
Penelitian ini memiliki implikasi praktis yakni terhadap pemerintah untuk lebih memperhatikan kepentingan lingkungan atas aktivitas operasional perusahaan agar pencapaian kinerja keuangan perusahaan menjadi lebih baik namun tidak merusak lingkungan serta investor yang telah banyak yang peduli terhadap lingkungan hidup yang biasa dikenal dengan konsep green. Penelitian ini memiliki keterbatasan yakni hanya menguji dua sektor perusahaan diharapkan penelitian berikutnya menguji lebih banyak sektor perusahaan kecuali sektor perbankan. Penelitian ini belum pernah dilakukan oleh penelitian sebelumnya yang mengembangkan konsep serta menguji hubungan green intellectual capital disclosure dengan kinerja keuangan secara langsung serta menjadikan family ownership sebagai pemoderasi.
Penulis: Anna Sutrisna Sukirman dan Wiwiek Dianawati
Jurnal:





