51动漫

51动漫 Official Website

Green Jobs Festival, Ubah Kepedulian Lingkungan Menjadi Karier Profesional

Green Jobs Festival (GJF) 2026 terselenggara pada Sabtu (18/4/2026) bertempat di Airlangga Medical Education Center (AMEC), Kampus A 51动漫 (Foto: UKM Wanala)

UNAIR NEWS – Isu lingkungan saat ini tidak lagi sekadar menjadi gerakan relawan, melainkan telah bertransformasi menjadi peluang karier profesional yang menjanjikan bagi generasi muda. Fenomena ini dikupas tuntas dalam gelaran Green Jobs Festival (GJF) 2026 yang diselenggarakan pada Sabtu (18/4/2026) bertempat di Airlangga Medical Education Center (AMEC), Kampus A 51动漫 (UNAIR) Surabaya. Acara ini menghadirkan kolaborasi antara praktisi lingkungan, akademisi, dan mahasiswa untuk membedah potensi besar di sektor ekonomi hijau.

Dalam sesi wawancara, Founder Profauna Indonesia, Rosek Nursahid, menekankan bahwa meskipun lowongan pekerjaan di bidang lingkungan sangat luas, seringkali terdapat kesenjangan pada kualifikasi sumber daya manusia. “Peluang itu ada, cuma persoalannya ada di orangnya. Kita harus menguasai, menempat diri kita ketika kita masih kuliah,” ungkap Rosek. Beliau juga mendorong mahasiswa untuk aktif berorganisasi karena pengalaman manajemen dan survival di lapangan merupakan modal penting sebelum lulus. Sebagai langkah nyata, Profauna sendiri membuka program magang staf minimal tiga bulan bagi mereka yang tangguh untuk terjun langsung memetakan hutan rimba.

Sejalan dengan hal tersebut, Amirudin Mutaqin selaku Deputi Riset Ecoton menyoroti kondisi pencemaran sungai di Jawa Timur yang masih menjadi tantangan besar. Namun, di balik krisis tersebut, ia melihat peluang luar biasa untuk kerja-kerja yang berkelanjutan. “Peluang untuk bicara green job itu masih luar biasa peluangnya, tinggal kita sebagai individu ini mau nggak untuk investasi terhadap lingkungan,” jelas Amirudin. Ecoton sendiri terus konsisten memproduksi data riset mikroplastik untuk mengedukasi publik dan membuka pintu kolaborasi bagi komunitas anak muda yang berani melakukan aksi nyata di lapangan.

Edukasi yang inovatif juga menjadi sorotan Nurul Chasanah dari Bank Sampah Induk Surabaya (BSIS). Ia memaparkan bahwa kesadaran masyarakat dalam memilah sampah kini semakin meningkat berkat pengaruh positif media sosial. “Dengan sosial media, nasabah individu kita itu nambah. Walaupun kesadarannya itu hanya dari satu orang, tapi itu sudah lumayan banyak perkembangannya,” tutur Nurul. BSIS pun menawarkan kesempatan magang selama 3 hingga 6 bulan melalui program MBKM agar mahasiswa dapat merasakan langsung dinamika pemberdayaan masyarakat dan pengelolaan sampah secara profesional. Melalui GJF 2026, diharapkan mahasiswa tidak hanya menyalurkan hobi petualangan, tetapi juga mampu mengasah kemampuan analisis lingkungan yang kuat.

Penulis: UKM WANALA

AKSES CEPAT