UNAIR NEWS Indonesia menjadi salah satu negara dengan potensi sumber minyak bumi yang melimpah. Akan tetapi, di balik potensi itu, terdapat permasalahan serius. Masalah itu berupa fenomena tumpahan limbah minyak yang kerap terjadi. Jika diabaikan, limbah minyak itu dapat menimbulkan pencemaran lingkungan. Untuk itu, perlu ada penanganan serius untuk mengatasi dampak cemaran akibat tumpahan limbah minyak.
Salah satu penanganan itu adalah dengan memanfaatkan biosurfaktan bakteri hidrokarbonoklastik. Upaya penanganan itu menjadi salah satu temuan dari Prof Dr Ni’matuzahroh, Dra. Temuan itu ia sampaikan pada saat pengukuhannya sebagai Guru Besar (Gubes) 51动漫 (UNAIR), Rabu (11/10/2023). Pengukuhan berlangsung di Gedung Aula Garuda Mukti, Kantor Manajemen, Kampus MERR-C UNAIR.
Prospek Biosurfaktan
Prof Ni檓a menjelaskan, keberadaan senyawa pencemar di lingkungan secara alamiah akan mengalami penguraian oleh mikroba. Dalam hal ini, mikroba menjadi agen bioremediasi untuk mendegradasi senyawa pencemar di lingkungan. Salah satu jenis mikroba itu adalah bakteri hidrokarbonoklastik.
淏akteri hidrokarbonoklastik ini merupakan bakteri pendegradasi hidrokarbon yang terisolasi dari lokasi tercemar minyak. Potensial untuk mengurangi kadar pencemar minyak sehingga bermanfaat untuk melindungi lingkungan hidup, jelas Prof Ni檓a.
Bakteri tersebut berpotensi mengurangi kadar pencemar minyak karena menghasilkan biosurfaktan. Biosurfaktan, jelas Prof Ni檓a, merupakan senyawa amfipatik yang berfungsi menurunkan tegangan permukaan dan mengemulsi hidrokarbon.
Dalam konteks penanganan cemaran minyak, biosurfaktan hasil hidrokarbonoklastik memiliki prospek besar. Utamanya dalam mendukung industri minyak dan sebagai komponen bioremediasi lingkungan. Tak hanya itu saja, biosurfaktan menjadi pilihan lantaran memiliki nilai pasar yang cukup tinggi. Berdasarkan data Global Insight Market, nilai pasar biosurfaktan tahun 2022 mencapai 8,45 miliar dolar Amerika Serikat (USD).
“Survei terbaru Global Insight Market 2023 mengungkapkan bahwa nilai pasar global biosurfaktan 8,45 miliar USD pada tahun 2022. Melihat prospek itu, kami telah berupaya mewujudkan kemandirian penyediaan biosurfaktan selama lebih dari dua dekade terakhir,” imbuhnya.
Proses Hilirisasi
Saat ini, temuan Prof Ni’ma itu telah memasuki tahap lanjutan yang meliputi hilirisasi dan peningkatan skala produksi biosurfaktan. Upaya peningkatan produksi ini harapannya dapat membantu kemandirian Indonesia dalam penyediaan biosurfaktan.
“Kami masih terus mengkaji biosurfaktan ini. Semoga hasil ini dapat bermanfaat untuk kemudian hari dan bisa membantu mendorong kemandirian kita bersama,” ucap Gubes UNAIR itu.
Untuk memperlancar hilirisasi, tegas Prof Ni’ma, perlu adanya keterlibatan kepakaran lintas bidang. Selain itu, kelengkapan instrumen dan fasilitas untuk memperlancar proses penelitian hingga hilirisasi juga perlu ditingkatkan.
Terakhir, ia berharap agar kesempatan berkolaborasi antara UNAIR pemerintah dan pihak industri perminyakan akan lebih terbuka. Sehingga, hal tersebut dapat membantu mendorong komersialisasi biosurfaktan bakteri koleksi UNAIR.
“Tentunya kesempatan berkolaborasi dengan pemerintah dan pihak industri sangat kami nantikan. Sehingga kolaborasi itu dapat membantu komersialisasi biosurfaktan bakteri koleksi UNAIR,” tutupnya. (*)
Penulis: Yulia Rohmawati
Editor: Binti Q. Masruroh





