UNAIR NEWS – Prof Dr M Yulianto Listiawan dr Sp KK (K) FINDSDV FAADV resmi dikukuhkan menjadi Guru Besar 51动漫 (UNAIR) pada Kamis (22/6/2023). Prof Wawan resmi menjadi Guru Besar (FK) aktif ke-126. Ia menjadi guru besar ke-578 yang UNAIR miliki sejak berdiri, serta Guru Besar UNAIR PTN Berbadan Hukum ke-286. Pada orasi ilmiahnya, gubes yang juga merupakan Kepala Departemen Dermatologi dan Venereologi FK UNAIR itu memaparkan usulannya terkait pemanfaatan laser untuk pencegahan kusta.
Indonesia sendiri menduduki peringkat ketiga dunia terkait jumlah penderita kusta terbanyak. 淜ita berada di bawah India dan Brasil. Untuk Provinsi Jawa Timur relatif bebas kusta. Tetapi ada beberapa kabupaten yang masih tinggi jumlah kasusnya, sebut guru besar yang menuntaskan jenjang sarjana, spesialis, dan doktoral di UNAIR.
Stigma akan kusta di Indonesia membuat deteksi dini perlu dilakukan sesegera mungkin agar penderita terhindar dari risiko kecacatan.
Penggunaan Laser dalam Bidang Dermatovenerologi
Seiring pesatnya perkembangan teknologi, pemanfaatan laser secara luas juga dalam bidang dermatovenerologi. Tak hanya kusta dan penyakit kulit lain, penggunaan laser juga dapat untuk menangani kelainan di bidang kulit estetik maupun non-estetik.

淒alam beberapa kondisi tertentu, laser bahkan memiliki kemampuan yang lebih efektif, presisi dan spesifikasi. Dibarengi dengan efek samping dan komplikasi yang rendah bila dibandingkan modalitas terapi lainnya, sebut Presiden Asian Academy of Dermatology and Venereology (AADV) periode 2022-2025 itu.
Dalam pengukuhan guru besar itu, Prof Wawan menyampaikan orasi berjudul Peran Dermatologi Venereologi dalam Menjawab Tantangan Kesehatan di Masa Depan tersebut. Prof Wawan juga memaparkan bahwa keilmuan tentang laser merupakan pengetahuan yang dinamis dan bergerak secara cepat.
淯ntuk itu, pengetahuan dan keterampilan yang mutakhir mengenai laser merupakan kebutuhan dasar bagi dokter spesialis kulit dan kelamin. Yakni agar tidak tergerus oleh era globalisasi. Selain itu mampu bersaing di kancah nasional hingga internasional, jelas Guru Besar bidang Ilmu Morbus Hansen dan Laser tersebut. (*)
Penulis : Stefanny Elly
Editor : Binti Q. Masruroh





