UNAIR NEWS Terjadinya dinamika sosial yang berada di sekitar kita memicu timbulnya polarisasi politik yang berpengaruh pada persatuan umat. Dalam hal ini, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) 51动漫 (UNAIR) mengadakan seminar dalam rangka Festival Toleransi pada Selasa (28/5/2024).
Seminar ini memberikan arti dari toleransi umat beragama melalui tiga pemateri. Yakni Dzulfikar Al Ghofiqi SAP MKP, pegiat toleransi jaringan Gusdurian; Hizkia Trianto SH, sekretaris pemuda Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) wilayah Jawa Timur; dan Ni Putu Sri Listya Dewi, Kepala Divisi Pengabdian Masyarakat UKM Kerohanian Hindu Dharma UNAIR.
Dzulfikar memulai seminar menyampaikan pemahaman sudut pandang toleransi dalam konteks polarisasi, guna menciptakan harmoni dalam mengatasi perpecahan sosial. 淧emahaman tentang sudut pandang toleransi dibutuhkan untuk mencapai sebuah harmoni sosial, ungkapnya.
Polarisasi pada Masyarakat Modern
Dzulfikar mengutip kata-kata dari Abdurrahman Wahid atau akrab dikenal sebagai Gus Dur, 減erbedaan itu fitrah, dan ia harus diletakan dalam prinsip kemanusiaan universal. Ia menjelaskan kalimat tersebut bermaksud bahwa sebuah perbedaan itu memang sudah seharusnya ada. Sehingga dengan adanya perbedaan itu, dapat tercipta sebuah kerukunan dan tidak menjadi penyebab kerusuhan.

Ia meneruskan, polarisasi politik yang terjadi pada masyarakat modern seharusnya menjadi penguat dalam persatuan. 淎danya polarisasi modern seharusnya dapat menciptakan sebuah persatuan dengan menghindari ekstremisme, mendorong dialog komunikasi terbuka, dan mendorong partisipasi inklusif, jelasnya.
Toleransi Sesama Manusia
Sementara itu, Sri Listya menerangkan, dalam agama Hindu terdapat sebuah ajaran Tat Twam Asi yang berarti 榠tu adalah engkau. “Tat Twam Asi mengajarkan selalu merasa bahwa Tuhan ada dalam diri kita. Selain itu, Tat Twam Asi juga mengajarkan bagaimana cara kita memperlakukan orang lain dapat menjadi acuan bagaimana cara memperlakukan diri sendiri, terangnya.
Menurut Listya, dalam ajaran agama Hindu, manusia tercipta secara berbeda, tetapi masih terikat dalam saudara walaupun tidak secara biologis. “Mungkin secara biologis kita bukan saudara, tetapi di umat Hindu kita percaya secara kasat atau tidak kita semua adalah saudara. Sehingga kita harus memperlakukan orang lain dengan baik, ungkapnya.
Pengaruh Politik
Untuk mengatasi polarisasi dan menciptakan toleransi, Hizkia Trianto memiliki pandangan tersendiri. Ia menjelaskan bahwa peran politik memiliki pengaruh besar dalam polarisasi. 淧engaruh besar dan politik menentukan polarisasi keberagaman dan keagamaan di Indonesia, ucapnya.
Hizkia menuturkan bahwa bangsa ini memang sudah merdeka, tetapi semakin merdeka, semakin banyak yang tidak suka. “Ada riset tentang pandangan siswa SMA terhadap toleransi. Dari riset itu ditemukan tidak hanya polarisasi pemilu yang dekat, tetapi radikalisme juga cukup dekat di Indonesia, terangnya.
Dalam seminar tersebut, Hizkia menegaskan kembali, bahwa seharusnya generasi Z sebagai generasi penerus dapat menciptakan ruang kebersamaan. “Sehingga ketika di masa depan ada polarisasi pemilu kita harus dapat menciptakan kebersamaan, tutupnya.
Penulis: Ahmad Hanif Musthafa
Editor: Yulia Rohmawati





