Penyakit tropis di Indonesia masih menjadi permasalahan utama. Setelah melewati masa pandemik COVID-19, Indonesia masih belum terbebas dari penyakit infeksi seperti tuberkulosis dan permasalahan yang terkait resistensi antibiotik. Infeksi yang disebabkan oleh bakteri resisten seperti methicillin resistant Staphylococcus aureus (MRSA) dan Eschericia coli extended spectrum beta-lactamase (ESBL) menjadi ancaman di negara tropis seperti Indonesia. Berbagai penyebab terjadinya resistensi mulai dari kepatuhan pasien dalam minum obat antibiotik sampai dengan pola perkembangan penyakit dan perilaku mikroba patogen, menjadi trending topic yang masih belum tuntas dibahas untuk mengatasinya. Berbagai terobosan telah ditempuh untuk mengeksplorasi bahan baku obat antimikroba, terutama yang bersumber dari bahan alam.
Sebagai negara tropis, Indonesia memiliki diversitas hayati yang mengagumkan. Lebih kurang 80.000 spesies tanaman yang menghasilkan senyawa aktif, baru 30% yang sudah dieksplor bahkan beberapa masih dalam proses penelitian. Keragaman buah-buahan tropis di Indonesia dengan rasa dan aroma yang variatif serta banyak keunggulan, salah satunya adalah sebagai sumber probiotik alami galur lokal. Bakteri probiotik telah banyak dilaporkan berhasil diisolasi dari buah-buahan. Markisa merah (Passiflora edulis Sims.) adalah salah satu buah tropis yang kaya bahan berkhasiat. Termasuk famili Passifloraceae, buah markisa merah berlimpah kandungan nutrisi, vitamin, mineral dan senyawa metabolit sekundernya yang bermanfaat seperti flavonoid. Dibandingkan markisa kuning, buah markisa merah tidak banyak digunakan untuk sirup atau bahan minuman, karena rasanya yang sangat asam.
Isolasi tiga bakteri probiotik dari buah markisa merah telah berhasil dilakukan oleh Iif dkk. (2022) dan salah satunya adalah spesies baru Bacillus sp. Isolat bakteri juga telah diidentifikasi karakter probiotiknya dan kemampuannya sebagai anti bakteri terhadap patogen Escherichia coli ESBL dan MRSA. Kompatibilitas ke-tiga isolat telah diuji, untuk studi kelayakan dikembangkan sebagai bahan baku obat antibakteri multi strain probiotik. Isolasi bakteri probiotik dari biji berselaput dalam buah markisa merah dilakukan dengan media selektif untuk bakteri asam laktat De Man Rogose Sharp (MRS), demikian juga untuk media fermentasinya. Isolat yang sudah diidentifikasi dan dimurnikan diinokulasikan dalam media cair MRS pada rotary shaker dengan kecepatan putar (rotary per minutes/rpm) 150, suhu kamar selama 24 jam.
Suspensi masing-masing isolat probiotik MM1, MM2, dan MM3 umur 24 jam diencerkan hingga diperoleh jumlah koloni sekitar 106 – 109 cfu/mL (setara dengan 25% T). Masing-masing suspensi probiotik dipipet 5 mL, disuspensikan dan difermentasi dalam 45 mL media cair MRS pada suhu kamar, 150 rpm selama 24 jam, kemudian disaring dengan filter Millipore berukuran 0,2碌m. Filtrat fermentasi bebas sel probiotik yang diperoleh diuji daya hambatnya terhadap Mycobacterium tuberculosis H37Rv, MRSA dan Eschericia coli ESBL. Konsentrasi filtrat yang digunakan untuk uji 100%, 75%, 50%, dan 25%. Metode yang digunakan untuk uji daya hambat adalah metode dilusi cair untuk mengetahui konsentrasi hambat minimum (KHM) dan Konsentrasi bunuh minimum (KBM). Selain dilakukan pengukuran nilai KHM dan KBM juga dilakukan analisis rasio potensinya terhadap vankomisin, antibiotik pilihan untuk melawan mikroba patogen yang resisten.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilaporkan Iif dkk. (2022) diperoleh informasi bahwa filtrat hasil fermentasi (bebas sel) probiotik isolat MM1 dan MM2 mampu menunjukkan potensi yang kuat dalam menghambat pertumbuhan Escherichia coli ESBL dan MRSA dengan nilai KHM dan KBM masing-masing 25% dan 50%, namun tidak mampu menghambat Mycobacterium tuberculosis H37Rv. Sedangkan filtrat hasil fermentasi (bebas sel) probiotik isolat MM3 tidak memberikan aktivitas hambatan terhadap Escherichia coli ESBL dan Mycobacterium tuberculosis H37Rv, namun mampu menghambat MRSA pada konsentrasi 100%. Hasil analisis rasio potensi MM1 dan MM2 terhadap vankomisin masing-masing 82,77% dan 92,70%. Informasi ilmiah ini penting sebagai plat form untuk pengembangan formula sediaan multi strain probiotik sebagai anti bakteri terhadap Escherichia coli ESBL dan MRSA serta dapat dijadikan model untuk penelitian lebih lanjut terkait eksplorasi bakteri probiotik dari tanaman khususnya buah-buahan. Optimasi formula dapat dikembangkan untuk meningkatkan potensi sediaan sebagai antibakteri terehadap patogen yang resisten.
Hasil penelitian Iif dkk. (2022) menyimpulkan bahwa filtrat hasil fermentasi bebas sel probiotik isolat buah markisa merah (Passiflora edulis Sims.) dengan kode MM1, MM2 dan MM3 tidak dapat menghambat pertumbuhan Mycobacterium tuberculosis H37Rv, tetapi MM1 dan MM2 berpotensi dikembangkan sebagai bahan baku probiotik untuk menghambat pertumbuhan Escherichia coli ESBL dan MRSA, sedangkan isolat MM3 tidak direkomendasikan untuk melawan Escherichia coli ESBL tetapi dapat dioptimasi untuk meningkatkan kemampuannya dalam menghambat MRSA patogen. Rasio potensi MM1 terhadap vankomisin relatif lebih besar dibandingkan isolat MM2.
Penulis: Iif Hanifa Nurrosyidah, Ni Made Mertaniasih, Isnaeni Isnaeni
Informasi detail riset ini dapat diakses di: . Iif Hanifa Nurrosyidah, Ni Made Mertaniasih, Isnaeni Isnaeni (2022). Antibacterial Activity of Probiotics Cell-Free Fermentation Filtrate from Passiflora edulis Sims. againts Pathogen bacteria; Research Journal of Pharmacy and Technology 2022; 15 (12): 5767- 5773.





