51动漫

51动漫 Official Website

Hidrasi Kulit pada Pasien dengan Dermatitis Atopik

Ilustrasi Kadar Leukotrien E4 Urin
Ilustrasi Dermatitis Atopik. (Foto: bisnis.com)

Dermatitis atopik (DA) adalah penyakit kulit inflamasi kronis yang seringkali bermanifestasi pada usia anak-anak dan memiliki riwayat yang bervariasi. Penyakit ini memiliki gejala khas berupa rasa gatal yang tidak kunjung hilang yang mengganggu tidur, ekskoriasi, serta menyebabkan kulit menjadi rawan infeksi. Pasien yang memiliki DA biasanya memiliki komorbid atopic, seperti rhinitis alergi dan asma, serta kualitas hidup sehari-hari menjadi terganggu secara signifikan. Sebanyak 2.4% populasi dunia diperkirakan memiliki penyakit ini. Prevalensi DA bervariasi antara satu negara dan lainnya. Sebagai contoh, prevalensi DA pada orang dewasa di Amerika Serikat adalah sebanyak 4.9%, sementara di Jepang sebanyak 2.1%. Di beberapa negara, frekuensi DA pada anak-anak dapat mencapai 20%. Dalam penelitian selama 3 tahun ini, 327 pasien baru telah diterapi dan diteliti di Unit Rawat Jalan Dermatologi dan Venereologi Rumah Sakit Akademik Dr. Soetomo di Surabaya, Indonesia.

Terdapat berbagai macam standard diagnostik yang dapat digunakan untuk menegakkan DA. Kriteria Hanifin-Rajka adalah kriteria yang paling signifikan dan yang paling banyak digunakan. Hanifin dan Rajka mengusulkan seperangkat kriteria yang disebut sebagai 淜riteria Hanifin-Rajka untuk DA dalam rangka menegakkan diagnosis DA yang akurat. Kriteria Hanifin-Rajka (KRH) adalah kriteria yang pertama dibuat dan sering digunakan sebagai standar diagnostic dalam berbagai penelitian. Kriteria ini sudah digunakan sejak sekitar tahun 1980 dalam rangka standarisasi diagnosis. Dermatologis mendefinisikan secara eksperimental KRH untuk digunakan di lingkungan rumah sakit berdasarkan pengalaman klinis dan konsensus para ahli.

Terdapat 4 kriteria mayor dan 23 kriteria minor, dimana minimal 3 kriteria mayor dan 3 kriteria minor wajib terpenuhi untuk menegakkan diagnosis dermatitis atopik. Mayoritas penderita DA didapatkan memiliki kulit kering, termasuk area yang tidak terdampak. Hal ini timbul sebagai akibat dari terganggunya barrier kulit yang terkait dengan DA, memungkinkan alergen untuk menembus kulit dengan lebih mudah, mengakibatkan peningkatan iritasi serta peradangan. Tanda-tanda klinis dari barier epidermal yang terganggu meliputi peradangan, kulit kering, dan kulit bersisik, yang merupakan karakteristik khas dari DA. Stratum korneum memiliki fungsi utama sebagai barier kulit. Kurangnya hidrasi pada stratum korneum dan pH permukaan kulit dapat menyebabkan kerusakan pada barier kulit dan DA. Penggunaan pelembab pada pasien DA sangat penting untuk meningkatkan hidrasi kulit.

Menurut data yang ada, diperkirakan sebanyak 23.67% populasi Indonesia mengalami berbagai kondisi yang mengarah pada DA. DA ditandai dengan adanya rasa gatal dengan etiologi multifaktorial dan pemicu patologis. Diketahui bahwa DA merupakan suatu kondisi yang mempunyai faktor pemicu yang berupa faktor internal. Beberapa contonya adalah keturunan, karakteristik kulit, stres, gangguan imunologi, atau faktor luar berupa iritan, alergen, makanan, mikroorganisme, dan cuaca. Diagnosa dari DA ditegakkan berdasarkan riwayat dan klinis manifestasi. Ada berbagai kriteria diagnostik untuk DA, di antaranya yang paling sering digunakan adalah Kriteria Hanifin-Rajka mayor dan minor. Patogenesis terjadinya disfungsi barrier pada pasien DA ditunjukkan oleh adanya mutasi pada gen filaggrin (FLG). Barrier kulit terdiri dari kornifikasi selubung, struktur yang saling terhubung, fleksibel, dan tidak dapat larut terdiri dari korneosit, lipid, involucrin, loricrin, dan filaggrin. Kulit penderita DA mempunyai ciri kering dan terkelupas.

Kulit kering biasanya dikaitkan dengan penurunan kadar Faktor Pelembab Alami (NMF), yang diperlukan stratum korneum untuk mempertahankan tingkat kelembaban. Dikarenakan sejumlah penting dari Komponen NMF terdiri dari produk sampingan metabolisme filaggrin, telah dihipotesiskan terdapat kemungkinan bahwa secara tidak langsung filaggrin mempengaruhi aktivitas enzim tertentu. Adanya mutasi FLG-null atau penurunan kadar filaggrin akan menyebabkan penurunan tingkat SC-NMF. Penurunan tingkat NMF telah terbukti ada pada pasien AD. Pemecahan protein filaggrin bergantung pada kelembaban lingkungan. Kulit manusia yang terpapar Kelembaban Relatif (RH) yang rendah tampak lebih rentan terhadap stres mekanis dibandingkan kulit dengan kelembaban relatif yang tinggi. Secara umum, penurunan fungsi barrier epidermis disebabkan oleh suhu dingin, peningkatan sel mast kulit, pelepasan keratinosit sitokin proinflamasi dan kortisol, dan kulit menjadi lebih sensitif terhadap alergen dan iritan.

Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan kriteria Hanifin-Rajka dan hidrasi pasien pada pasien dewasa dengan dermatitis atopik ringan-sedang di Unit Rawat Jalan Dermatologi dan Venereologi Rumah Sakit Akademik Dr. Soetomo di Surabaya, yang dilakukan pada Maret hingga Mei 2022. Studi ini merupakan studi deskriptif cross-sectional yang dilakukan terhadap pasien DA ringan-sedang berusia 18-64 tahun. Kriteria Hanifin-Rajka digunakan untuk menegakkan diagnosis, beserta corneometer CM825 dari Courage Khazaka digunakan untuk meneliti level kelembaban kulit.

Didapatkan xerosis pada semua partisipan. Sebanyak 27 (84.3%) partisipan memiliki kecenderungan terhadap infeksi kulit dan eksim puting, diikuti dengan adanya pengaruh faktor lingkungan serta faktor emosional (78.1%), dan adanya gatal saat berkeringat (71.8%). Pemeriksaan hidrasi kulit dilakukan menggunakan corneometer. Hasil yang didapatkan menunjukkan rerata hidrasi kulit adalah 39.8 12.1. Hasil terendah adalah 21.4 sementara tertinggi adalah 87.4. Kesimpulan yang didapatkan kebanyakan pasien dengan dermatitis atopik ringan sampai sedang memiliki tiga dari empat kriteria utama Hanifin-Rajka, dan separuh peserta memiliki kulit kurang terhidrasi.

Penulis : Menul Ayu Umborowati, dr., Sp.DVE

Informasi lengkap dari artikel ini dapat diunduh pada:

Description of Hanifin-Rajka Criteria and Skin Hydration in Adult Patients with Mild-Moderate Atopic Dermatitis at Tertiary Hospital

Menul Ayu Umborowati, Faradistiani Rakhmawati Jastika, Made Putri Hendaria, Sylvia Anggraeni, Damayanti, Maylita Sari, Cita Rosita Sigit Prakoeswa

BACA JUGA: Keragaman Fucoidan, Polisakarida Kompleks Tersulfatasi dari Ganggang Cokelat

AKSES CEPAT