51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Hiit dan Mict Selama Empat Minggu Menurunkan Kadar Fetuin-A

Jenis makanan berminyak dan berlemak saat ini makin banyak, pun jumlah konsumsinya meningkat. Makanan atau jajana gofengan dan restoran cepat saji Sebagian besar menyediakan junk food yang mempunyai kandungan lemak cukup tinggi. Pola makan dengan jenis makanan yang mengandung lemak tinggi dapat berperan dalam meningkatkan berat badan dan menyebabkan obesitas, yang merupakan suatu penyakit kronis ditandai dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) yang tinggi (>25 kg/m2).

Akumulasi lemak tubuh yang berlebih pada obesitas disebabkan oleh interaksi kompleks berbagai faktor genetik, metabolisme, perilaku, dan lingkungan. Prevalensi obesitas terus meningkat dan saat ini dikatakan merupakan sebuah epidemi global. Beberapa studi epidemiologi menggambarkan adanya hubungan antara IMT yang tinggi dengan beberapa penyakit kronis lainnya seperti Non-Alcoholic Fatty Liver Disease (NAFLD) atau perlemakan di hati yang disebabkan selain minumam beralkohol, penyakit kardiovaskular, dan diabetes mellitus tipe 2. Peningkatan kadar fetuin-A didapatkan pada kasus obesitas. Fetuin-A merupakan sebuah hepatokin yang dapat menekan produksi adiponektin oleh adiposit, menginduksi toksisitas sel beta pankreas, serta memiliki efek proinflamasi yang dapat menyebabkan resistensi insulin dan peningkatan kadar glukosa darah.

Perubahan gaya hidup yang ditandai dengan menurunnya aktivitas fisik dan pola makan tinggi lemak berperan dalam menyebabkan obesitas. Salah satu terapi untuk obesitas selain pembatasan kalori dan intervensi farmakologis adalah dengan meningkatkan latihan fisik atau olahraga. Olahraga diketahui dapat menurunkan kadar fetuin-A, insulin, glukosa darah, dan IMT, namun perbandingan efektivitas antara olahraga dengan intensitas dan durasi yang berbeda terhadap parameter tersebut belum banyak diteliti. Saat ini terdapat dua jenis latihan fisik yang diminati, yaitu High Intensity Interval Training (HIIT) dan Moderate Intensity Continuous Training (MICT). HIIT ditandai dengan intensitas olahraga tinggi dengan durasi lebih pendek dan diselingi oleh periode istirahat atau olahraga intensitas rendah, sedangkan MICT dilakukan dengan durasi yang lebih lama dan intensitas olahraga yang sedang. Keduanya diketahui memiliki manfaat terhadap kebugaran dan perbaikan parameter metabolik tubuh.

Penelitian terkait hal tersebut telah dilakukan. Subjek penelitian hewan coba tikus diberikan diet tinggi lemak berupa pakan standar ditambah setiap hari diberi sonde minyak lemak babi 10 ml/kg berat badan tikus. Kelompok tikus dibagi menjadi empat kelompok yaitu diet biasa saja, diet tinggi lemak saja, HIIT pada subjek diet tinggi lemak, dan MICT pada subjek diet tinggi lemak. Baik HIIT dan MICT berupa renang dilakukan sebanyak lima hari dalam seminggu dan total 4 minggu.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kadar fetuin-A pada kelompok yang diberi diet tinggi lemak saja, dan kadar fetuin-A pada kelompok HIIT dan MICT secara signifikan lebih rendah dibandingkan kelompok yang diberi diet tinggi lemak saja. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok HIIT dan MICT dalam menurunkan kadar fetuin-A, sehingga kedua jenis latihan tersebut dapat disarankan untuk dilakukan. HIIT dan MICT berperan dalam meningkatkan oksidasi asam lemak bebas pada tubuh, dan hal tersebut diduga berperan dalam mengurangi kadar fetuin-A dalam sirkulasi. Namun, hal yang berbeda ditemukan pada parameter glukosa darah puasa.

Setelah empat minggu perlakuan, didapatkan kelompok MICT dapat menurunkan kadar glukosa darah puasa secara signifikan, namun penurunan tersebut tidak didapatkan pada kelompok HIIT. Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan hasil yang berbeda, sehingga diperlukan eksplorasi lebih lanjut terkait hubungan intensitas olahraga yang berbeda dan pengaruhnya terhadap kadar glukosa darah. Selain parameter tersebut, tidak didapatkan perbedaan kadar insulin yang signifikan antar kelompok setelah empat minggu perlakuan, dan tidak didapatkan perubahan IMT yang signifikan setelah perlakuan pada semua kelompok dibandingkan IMT awal.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, didapatkan bahwa latihan fisik baik HIIT dan MICT selama empat minggu dapat menurunkan kadar fetuin-A pada tikus yang diberi tinggi lemak. Sebagai tambahan, MICT juga dapat menurunkan kadar glukosa darah puasa. Hasil penelitian ini dapat meningkatkan kewaspadaan untuk menurunkan konsumsi makanan dengan kadar lemak yang tinggi serta pentingnya olahraga untuk menurunkan kejadian penyakit metabolik.

Penulis: dr. Citranggana Prajnya Dewi, M.Si; Dr. Lilik Herawati, dr., M.Kes

Informasi detail mengenai research artikel ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

Dewi, C. P., Qurnianingsih, E., Lukitasari, L., Setiawan, H. K., Othman, Z., & Herawati, L. (2024). Tanto el entrenamiento en intervalos de alta intensidad como el continuo de intensidad moderada disminuyen los niveles de fetuina-A en ratas macho alimentadas con dieta rica en grasas (Both High-Intensity Interval and Moderate-Intensity Continuous Training Decrease Fetuin-A Levels in High Fat Diet Fed Male Rats). Retos56, 208“215.

AKSES CEPAT