UNAIR NEWS Dalam upaya menyinergikan inovasi teknologi dengan pelestarian budaya lokal, Himpunan Mahasiswa Rekayasa Nanoteknologi (HIMANO) 51动漫 menyelenggarakan kegiatan Festival Budaya NABDIDAYA pada Sabtu (5/7/2025) di Taman Prestasi, Surabaya. Kegiatan itu menjadi puncak dari program pengabdian masyarakat bertajuk Nano Mengabdi dan Berbudaya (NABDIDAYA) yang didanai oleh SDGs UNAIR.
Melalui konsep kolaboratif antara bank sampah, akuaponik, dan tari tradisional, HIMANO berupaya menghadirkan solusi berkelanjutan yang tidak hanya berfokus pada inovasi lingkungan, tetapi juga pemberdayaan kearifan lokal di Kampung Bakat Sonokwijenan.
Tari Remo Gagrak Anyar hingga Dolanan Tradisional
Festival Budaya dibuka dengan penampilan Tari Remo Gagrak Anyar oleh tujuh anak dari sanggar Kampung Bakat. Tarian yang merupakan simbol perjuangan arek-arek Suroboyo ini disuguhkan dalam versi 済agrak anyar atau gaya baru yang menggugah antusiasme penonton.
Tak hanya itu, acara turut diramaikan dengan modern dance oleh FNC UPN Surabaya, Tari Lebah oleh anak-anak usia 36 tahun, dan ditutup dengan sesi akustik yang menghadirkan suasana hangat dan kebersamaan. 淜ami ingin menghadirkan perpaduan antara budaya tradisional dan modern yang mampu menjangkau generasi muda, jelas Nadea Argis Awaha, Ketua NABDIDAYA.
Panggung untuk Anak Kampung Bakat
Festival itu sekaligus menjadi ajang apresiasi bagi anak-anak Kampung Bakat untuk menampilkan bakat seni mereka. Penonton yang berjumlah lebih dari 230 orang turut menyaksikan live painting oleh pengajar sanggar, yang memperkenalkan kekayaan visual budaya lokal secara langsung di atas kanvas.
淜ami ingin anak-anak memiliki panggungnya sendiri untuk tampil dan percaya diri. Ini bukan hanya soal seni, tetapi juga tentang memanusiakan potensi, tambah Aleind Aloysius Gonzaga, Wakil Ketua NABDIDAYA.
Pelestarian Budaya melalui Akses Terbuka
Berlangsung di ruang terbuka dan gratis untuk umum, kegiatan itu menjadi sarana edukasi dan pengenalan budaya tradisional kepada masyarakat Kota Surabaya. Selain menyasar budaya tari, HIMANO juga memperkenalkan sanggar tari dan lukis di Sonokwijenan sebagai pusat pembelajaran budaya anak-anak.
淜egiatan ini sejalan dengan SDGs nomor 11 tentang Kota dan Permukiman Berkelanjutan, khususnya upaya melindungi warisan budaya lokal, terang Nadea.
Dampak Positif dan Harapan Ke Depan
Festival Budaya NABDIDAYA tak hanya memberikan ruang ekspresi, tetapi juga menghidupkan kembali aktivitas sanggar dan mendukung perekonomian lokal. Selain itu, kegiatan ini membuka ruang interaksi antara mahasiswa dan masyarakat dalam semangat kolaborasi antargenerasi.
淜ami berharap kegiatan ini bisa memantik kepedulian generasi muda terhadap budaya lokal dan menjadi gerakan nyata pelestarian di era digital, tutup Aleind. (*)
Penulis: Nafiesa Zahra
Editor: Khefti Al Mawalia





