UNAIR NEWS – Dalam upaya memenuhi target peringkat 500 besar dunia, 51动漫 kian intensif melakukan berbagai gebrakan. Bidang inovasi dan riset menjadi salah satu fokusnya.
Mengacu pada instruksi rektor yang mewajibkan mahasiswa pascasarjana untuk memublikasi jurnal internasional, maka Himpunan Mahasiswa S2 Ilmu Linguistik FIB UNAIR (Hima Lingua) mengadakan Pelatihan Penulisan Artikel Ilmiah Jurnal Internasional 2017. Kegiatan tersebut berlangsung pada Kamis siang (26/10).
“Ini adalah acara perdana, dalam arti eksternal,” ucap Kahima Lingua Robby Andre., S.Hum.
Bertempat di Ruang Siti Parwati FIB UNAIR, pelatihan itu diikuti 120 peserta. Pesertanya tidak hanya berasal dari lingkup internal, UNAIR. Beberapa mahasiswa kampus luar pun turut hadir. Ada dari Institut Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Negeri Surabaya (Unesa), dan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Surabaya serta berbagai kampus lainnya.
“Dari UNAIR, sebanyak 20 mahasiswa. Mereka adalah angkatan 2017. Dari luar, ada seratus peserta,” ungkap Ketua Pelaksana Fallianda, S.S. “Ada juga dari instansi dan mahasiswa Madura,” imbuhnya.
Denny A. Kwary, Ph.D menjadi satu-satunya penyaji materi dalam pelatihan tersebut. Menurut Robby, Denny merupakan salah seorang akademisi yang memiliki banyak pengalaman terkait penerbitan jurnal, terutama skala internasional.
“Selain itu beliau (Denny, Red) merupakan reviewer di beberapa jurnal internasional seperti SpringerLink, Oxford, dan Cambridge,” tuturnya.
Selaku pemateri, Denny menekankan beberapa hal seputar faktor teknis yang termasuk tantangan terberat yang sering dihadapi mahasiswa. Kualitas artikel dengan nilai kesesuaian pada jurnal harus benar-benar bisa ditimbang. Sebab, setiap jurnal memiliki persyaratan masing-masing. Artinya, cara dan etika penulisannya berbeda sehingga harus disesuaikan.
“Konten mesti benar-benar diperhatikan. Sudah memenuhi kriteria apa tidak,” ungkap Denny. “Caranya, ya, kita harus paham. Artikel kita memiliki impact yang besar atau tidak itu yang menjadi hal utama,” tambahnya.
Di akhir, Fallianda berharap pelatihan tersebut dapat dikembangkan. Artinya, bisa kembali diadakan pada tahun-tahun berikutnya oleh Hima Lingua angkatan di bawahnya. Termasuk pelatihan-pelatihan yang berhubungan dengan akademisi dapat sering diadakan.
Sementara itu, soal pelatihan tersebut, Ketua Program Studi S-2 Ilmu Linguistik Dra. Ni Wayan Sartini, S.S, M.Hum. sangat mengapresiasi dan mendukung kegiatan itu. Mengingat, pada 2017, sebagian besar program studi megister memang mensyaratkan publikasi di prosiding Scopus.
“Seperti di pertemuan KPS (ketua program studi, Red) prodi linguistik tadi malam, kebanyakan program megister memang demikian,” tambahnya.
Dia berharap kegiatan semacam itu bisa memberikan iklim publikasi artikel ilmiah bagi mahasiswa. Termasuk menggugah minat mereka untuk menulis.
Penulis : Feri Fenoria R
Editor : Nuri Hermawan





