Kehamilan bagi sebagian wanita dianggap sebagai beban tambahan dalam beraktivitas keseharian. Hal ini yang mendasari sebagian ibu hamil memilih untuk malas bergerak (Ma-Ger). Menurut Aspetar Sport Medicine Journal, rerata ibu hamil yang Ma-Ger menghabiskan kurang dari 1,5 satuan luaran energi Mets (). Sebagai gambaran, 1,5 satuan luaran energi Mets setara dengan energi yang dikeluarkan ibu pada saat duduk dan berbaring. Beberapa contoh aktivitas ibu hamil yang Ma-Ger antara lain: nonton televisi, bermain smart phone, laptop atau tablet, membaca, bermain kartu, mengendarai mobil, traveling naik bis, kereta api atau pesawat dan duduk lama pada jam kerja atau kuliah.
Selama kehamilan, tubuh akan memacu pertumbuhan pembuluh darah baru di sekitar selaput ketuban dan tali pusat dalam rahim. Pembentukan pembuluh darah baru melibatkan respon keradangan dan faktor pertumbuhan, seperti nuclear factor kappa beta (NFKB), placentae growth factor (PlGF) dan vascular endothelial growth factor (VEGF). Stimualsi PlGF dan VEGF terhadap vascular endothelial growth factor receptor 1 (FLT-1) pada membran sel endotel, memicu aktivitas enzim endothelial nitric oxide synthetase (eNOS) dalam menghasilkan nitric oxide (NO). Semakin tinggi kadar PlGF dan VEGF menyebabkan jumlah pembuluh darah dan sel endotel baru juga semakin banyak. Produksi NO selama kehamilan meningkat seiring dengan peningkatan kebutuhan suplai darah menuju plasenta.
Gerak tubuh dibutuhkan untuk menjaga aliran darah menuju ke plasenta ibu hamil tetap lancar. Gerakan yang teratur dalam intensitas yang ringan menciptakan aliran laminar yang tenang dalam pembuluh darah. Aliran laminar dibutuhkan untuk menstimulasi reseptor integrin pada membran sel endotel pembuluh darah. Stimulasi reseptor integrin berperan penting dalam menjaga stabilitas sintesis NO oleh endotel. Selain itu, stimulasi reseptor integrin juga memicu efek genomik terhadap sintesis FLT-1 dan ekspresinya di membran sel endotel. Gerakan menjaga konsistensi endotel pembuluh darah menghasilkan NO melalui proses katalisasi enzim e-NOS dan sintesis protein FLT-1. Produksi NO berlangsung terus menerus dalam pembuluh darah untuk menjaga lumen pembuluh darah tetap luas, sehingga kecepatan alir darah dan tekanan darah ibu hamil terjaga stabil.
Bagi ibu hamil yang Ma-Ger, minimnya gerak tubuh menurunkan stimulasi integrin dan sintesis FLT-1 endotel. Aktivitas eNOS dalam menghasilkan NO di dalam darah menurun. Kadar NO yang rendah menyebabkan lumen pembuluh darah menyempit, suplai oksigen dan nutrisi melalui plasenta berkurang memicu hipoksia. Sel endotel merespon hipoksia dengan mengaktifkan sinyal HIF-1伪. Aktivitas HIF-1伪 menghasilkan versi soluble dari reseptor FLT-1 (sFLT-1) yang disekeresi ke dalam darah. Reseptor sFLT-1 merampok PlGF dan VEGF dalam darah, sehingga secara kompetitif menghambat kemampuan reseptor FLT-1 pada membran sel endotel untuk menangkap PlGF dab VEGF. Lambat namun pasti, reseptor FLT-1 diturunkan. Hal ini menyebabkan produksi NO semakin rendah, lumen pembuluh darah semakin sempit dan hipoksia plasenta semakin memburuk.
Tubuh merespon dengan cepat hipoksia plasenta yang terjadi pada kehamilan. Sel endotel menghasilkan endotelin-1 (ET-1) untuk merangsang otot polos pembuluh darah berkontraksi. Kontraksi otot polos menyebabkan lumen pembuluh darah semakin menyempit, tahanan aliran darah plasenta semakin meninggi dan tekanan darah meningkat. Menurut Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) dalam Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran, ibu menderita pre-eklmapsia bila ditemukan tekanan darah (sistole > 140 mmHg dan diastole> 90 mmHg) pada usia kehamilan 20 minggu atau lebih. Tekanan darah yang meningkat pada pre-eklamsia disebabkan oleh kegagalan endotel dalam mempertahankan luas permukaan lumen pembuluh darah. Kegagalan ini disebut dengan istilah disfungsi endotel pembuluh darah.
Sampai saat ini pre-eklamsia belum dapat dicegah dan diterapi. Bahkan, Dokter spesialis obstetri dan ginekologi menyarankan agar ibu menunda kehamilan, bila tidak siap dengan resiko pre-eklamsia. Di Indonesia, prevalensi pre-eklamsia adalah 5,3 % dari total kehamilan, lebih tinggi dari prevalensi di negara maju seperti Amerika Serikat dan negara Eropa. Pre-eklamsia sering menyebabkan penyulit antara lain: gangguan pembekuan darah, gangguan fungsi filtrasi ginjal dan kejang. Kejang menandai perubahan fase eklamsia dari pre-eklamsia. Pre-eklamsia dan eklamsia menjadi penyebab kematian ibu nomer dua (25% dari total kematian ibu) setelah perdarahan.
Menurut Hamimatus Zainiyah dalam artikel riset yang diterbitkan di jurnal Medicinal and Pharmaceutical Chemistry Research, mengungkap keharusan ibu hamil untuk terus bergerak agar terhindar dari hipertensi akibat pre-eklamsia. Latihan senam Yoga yang dilakukan secara rutin 5x/ minggu dengan durasi latihan selama 30 menit selama 4 minggu dapat mencegah peningkatan tekanan darah pada ibu hamil dengan resiko pre-eklamsia. Senam Yoga terbukti meningkatkan kadar NO dalam darah dan menurunkan rasio ET-1/ NO yang menjadi parameter risiko pre-eklamsia pada ibu hamil. Senam Yoga direkomendasikan dilakukan ibu hamil yang beresiko tinggi menderita pre-eklamsia.
Senam Yoga hanya satu dari sekian banyak pilihan aktivitas fisik untuk mencegah pre-eklamsia. Semua gerakan yang memiliki kemiripan karakteristik dengan Yoga diduga juga dapat bermanfaat bagi Kesehatan ibu hamil. Hal yang terpenting adalah ibu hamil tidak boleh Ma-Ger, teruslah bergerak dengan intensitas yang rendah dan kecepatan yang lambat.
Penulis: Prof. Dr. Bambang Purwanto, dr., M.Kes.
Informasi detail terkait artikel ini dapat dilihat pada:





