UNAIR NEWS – Himpunan Mahasiswa Departemen (HMD), Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), 51动漫, menggelar Airlangga Webinar on Climate Change in Philology Study. Acara yang berlangsung pada Sabtu (16/9/2023), merupakan rangkaian webinar yang bertujuan dalam menghadapi perubahan iklim yang ada dalam naskah kuno yang terkaji studi filologi.
Acara itu terbagi menjadi tiga hari. Pada hari pertama mengusung tema 淐limate Change in Science and Biomedical Perspective. Dalam kesempatan itu Wakil Rektor Bidang Bidang Riset, Inovasi dan Community Development (RICD), Prof. Dr. Ni Nyoman Tri Puspaningsih, M.Si hadir sebagai pemateri.
Tantangan RICD UNAIR
Dalam kesempatan itu, Prof Nyoman menjelaskan bahwa Bidang Riset, Inovasi dan Community Development (RICD) berkontribusi dalam berbagai sektor. Beberapa di antaranya, jelas Prof Nyoman, seperti blue economy, green economy, kesehatan, ekonomi digital, pariwisata dan konservasi, ketahanan pangan.
Ia juga memaparkan bahwa adanya perbedaan SDGs dengan Megatren Dunia. 淎nda dapat melihat perbedaan antara Sdgs dengan Megatren Dunia. Harapannya bahwa semua masalah di antara kita akan bisa teratasi pada 2030, tapi kita tidak tahu, ujarnya.

Lebih lanjut Prof Nyoman juga mengatakan, hal tersebut tergantung dari individu masing-masing. 淏agaimana mereka sadar akan perubahan iklim atau masalah iklim yang ada di sekitar kita, tandasnya.
Prof Nyoman juga menegaskan bahwa kesadaran dan dukungan dari semua pihak sangat dibutuhkan. Terlebih dalam mengatasi dampak perubahan iklim memang perlu guna menjaga ekosistem dunia.
淭anpa adanya hal tersebut, maka upaya dari berbagai lembaga tak akan membuahkan hasil, paparnya.
Dampak Iklim
Selanjutnya, Guru Besar FST UNAIR itu juga memaparkan bahwa perubahan iklim global dapat menjadi masalah besar terhadap kesehatan manusia. Prof Nyoman memberikan contoh dengan adanya gempa bumi berkekuatan 7,8 SR yang melanda Turki dan Suriah pada awal tahun dan beberapa pekan lalu yang juga terjadi di Maroko dan Libya.
淧erubahan iklim juga berdampak pada ekosistem dan penyakit menular. Hal ini merupakan peran penting pengurutan yaitu dampak iklim, efek, alat dan metode, jelasnya.
Pada akhir, Prof Nyoman juga mengatakan bahwa perubahan iklim dapat berdampak pada perubahan lingkungan, suhu, air (air, banjir -red), dan perubahan tanah. Efek yang terjadi, sambungnya, adalah munculnya spesies invasif, bermasalah pada populasi manusia, pertumbuhan, migrasi, dan persinggungan dengan penyakit menular zoonotik.
淎lat dan metode yang dapat digunakan dalam mengatasi permasalahan tersebut dengan pengawasan dan penemuan biosurveilans, deteksi molekul dan pengurutan metagenomik, pungkasnya.
Penulis: Christopher Hendrawan
Editor: Nuri Hermawan





