51动漫

51动漫 Official Website

Hubungan Keparahan COVID-19 dengan Kelainan Fungsi Hati

Hubungan Derajat Keparahan COVID-19 dengan Kelainan Fungsi Hati
Ilustrasi hati (Sumber: Orami)

Pada tahun 2020, dunia dilanda pandemi COVID-19 yang disebabkan oleh infeksi virus SARS-CoV-2. Kemunculan virus ini pertama kali terdeteksi di Wuhan, Cina pada Desember 2019, sebelum akhirnya menyebar secara luas. WHO mendeklarasikan status pandemi di seluruh dunia pada 11 Maret 2020. COVID-19 memiliki spektrum klinis yang luas dengan derajat keparahan, mulai dari ringan hingga kritis. Gambaran klinis yang paling umum adalah gangguan sistem pernapasan, ditandai dengan batuk dan sesak napas, dengan radiografi hasil yang konsisten dengan pneumonia. Namun, manifestasi ekstrapulmonal, termasuk stroke, kerusakan hati, cedera ginjal akut, dan gastroenteritis, juga pernah dilaporkan. Temuan ini mungkin disebabkan oleh penyebaran ekstrapulmoner dan replikasi SARS-CoV-2 atau gejala sisa imunopatologis yang luas dari penyakit ini.

Sejumlah laporan menunjukkan bahwa lebih dari setengah pasien dengan COVID-19 menunjukkan kelainan fungsi hati dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda. Terdapat penelitian yang menemukan bahwa SARS-CoV-2 berikatan dengan angiotensin-converting enzyme 2 (ACE2) pada kolangiosit, yang menyebabkan disfungsi kolangiosit dan menginduksi respon inflamasi sistemik yang mengarah pada cedera hati. Manifestasi gangguan fungsi hati yang ditemukan berupa peningkatan kadar alanine aminotransferase (ALT), aspartate aminotransferase (AST), dan bilirubin total.

Berdasarkan pemaparan di atas, tim peneliti dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran, RSUD Dr. Soetomo, 51动漫 berhasil mempublikasikan original article di salah satu jurnal internasional terkemuka, yaitu Narra J. Peneliti melaporkan kejadian kelainan fungsi hati pada pasien COVID-19 serta menganalisis hubungan antara derajat keparahan penyakit COVID-19 dengan kelainan fungsi hati yang terjadi.

Data dari 339 pasien yang dianalisis pada penelitian ini, menunjukkan terdapat 189 (55.75%) kasus dengan derajat keparahan COVID-19 ringan sedang dan 150 (44.25%) kasus dengan derajat berat. Secara keseluruhan rerata usia pasien adalah 51.22+13.04 tahun, berdasarkan derajat keparah penyakitnya, rerata usia lebih tua ditemukan pada kelompok penyakit berat. Rasio laki-laki dan perempuan adalah 0.9:1 untuk kasus ringan-sedang dan 3:2 untuk kasus berat. Gejala awal berupa sesak napas, batuk,  dan demam, semuanya secara signifikan lebih banyak dijumpai pada kelompok kelompok kasus derajat berat.

Peningkatan penanda serum fungsi hati, AST, ALT, dan bilirubin total serta kejadian cedera hati akut (acute liver injury, ALI) secara signifikan lebih tinggi pada kelompok derajat berat. Sebaliknya, kadar albumin lebih rendah secara signifikan ditemukan pada kelompok tersebut. Analisis multivariat menunjukkan bahwa ALI berkorelasi secara signifikan dengan infeksi human immunodeficiency virus (HIV), kadar hemoglobin, dan hipoalbuminemia. Komorbid penyakit hati yang sudah ada sebelumnya ditemukan pada 6,5% pasien. Tidak ada perbedaan signifikan antara derajat keparah COVID-19 dan kejadian ALI berdasarkan ada tidaknya komorbid penyakit hati terdahulu. Penelitian ini menyimpulkan terdapat hungungan antara derajat keparaha COVID-19 terhadap kelainan fungsi hati yang terjadi. Adanya infeksi HIV, kadar hemoglobin yang tinggi, serta hipoalbuminemia merupakan faktor risiko potensial terjadinya ALI.

Penulis: Ummi Maimunah dan Willa M. Tanaya

Link:

Baca juga: Serum MMP-7 dan Fungsi Hati pada Atresia Bilier

AKSES CEPAT