Perkembangan industri di Indonesia memberikan dampak positif, salah satunya kesempatan kerja bagi masyarakat di sekitar industri. Dampaknya secara tidak langsung mempengaruhi peningkatan ekonomi di masyarakat. Namun, industri yang berkembang akan merusak lingkungan dan kesehatan pekerja. Masalah pencemaran lingkungan akan muncul seperti pencemaran udara, air, dan tanah. Masalah kesehatan yang akan muncul akan memberikan dampak yang buruk bagi kesehatan pekerja dan masyarakat yang berada di sekitar industri.
Hampir setengah dari populasi Indonesia, atau sekitar 120 juta orang bekerja di sektor pertanian. Industri kapuk merupakan salah satu industri yang berkecimpung di sektor pertanian. Menurut Organisasi Perburuhan Internasional (ILO), sekitar 2,3 juta orang di dunia meninggal (karena pekerjaan) karena terjadinya kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. Penyakit akibat pekerjaan mendominasi kasus kematian sebesar 2,02 juta kasus sehingga perlu meningkatkan kesehatan dan keselamatan bagi pekerja. Bentuk penyakit umum yang ditemukan adalah pneumokoniosis. ILO menyatakan bahwa penyakit pneumokoniosis adalah salah satu penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan yang diderita oleh banyak pekerja.
Penelitian menunjukkan terdapat hubungan antara tingkat debu dengan gejala masalah pernapasan pada pekerja. Debu kapas di lingkungan industri kapas yang melebihi nilai ambang batas (threshold limit value atau TLV) mengakibatkan penurunan fungsi paru yang disebabkan oleh peradangan saluran pernapasan. Selama peradangan, banyak jenis sel inflamasi diaktifkan. Masing-masing melepaskan sitokin dan mediator untuk memodifikasi aktivitas sel inflamasi lainnya. Orkestrasi sel dan molekul ini menyebabkan perkembangan peradangan.
Kapasitas paru yang rendah dapat menyebabkan peningkatan C-Reactive Protein (CRP). Adanya pengangkatan sitokin dalam tubuh (TNF-α, IL-1, IL-6) mengakibatkan aktivasi sel inflamasi dan merangsang hati untuk menghasilkan CRP. CRP diproduksi dengan cepat dan menyebabkan peningkatan jumlah CRP. CRP adalah protein plasmatik dari keluarga pentraxin dan reaktan fase akut, yang sangat berguna sebagai penanda inflamasi umum.
Debu kapuk masuk melalui jalur pernapasan pada subjek sehat dengan dosis berbeda yang menghasilkan reaksi inflamasi epitel pernapasan, dan pelepasan sitokin tertentu. Hal ini menyebabkan penurunan aliran udara, peningkatan CRP, gejala klinis demam, dan penurunan fungi paru. Selama peradangan, ada endotoksin dalam debu kpukj yang merangsang makrofag untuk melepaskan sitokin proinflamasi dan CRP. Kadar serum CRP dapat mendiagnosa proses kejadian inflamasi dalam tubuh. Peningkatan CRP dapat mengakibatkan peningkatan viskositas plasma sehingga laju sedimentasi eritrosit darah akan meningkat. Kehadiran CRP yang tinggi menunjukkan infeksi persisten. CRP diproduksi oleh hati sebagai reaksi inflamasi sitokin.
Industri Kapuk merupakan salah satu industri yang memiliki risiko terpapar debu di udara yang dapat membahayakan kesehatan pernapasan karyawan jika tidak dikelola dengan baik. Rendahnya kesadaran pekerja untuk menggunakan alat pelindung pernapasan yang baik menyebabkan risiko lebih tinggi pekerja terkena gangguan pernapasan. Pekerja yang tidak menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) memiliki risiko 5,38 kali lebih tinggi untuk gangguan pernapasan dibandingkan dengan pekerja yang menggunakan APD seperti masker. Masker merupakan salah satu APD yang harus digunakan di lingkungan kerja produksi debu. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian hubungan karakteristik pekerja dan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) dengan meningkatnya kadar serum CRP pada pekerja di industri kapuk, di Bandrek, Kecamatan Mojotengah, Kabupaten Pasuruan.
Ini adalah penelitian observasional dengan desain kohort longitudinal prospektif. Responden dalam penelitian ini adalah 11 pekerja. Pengumpulan data karakteristik pekerja dilakukan dengan wawancara dan observasi. Data kandungan debu pribadi dikumpulkan menggunakan personal dust sampler (PDS) dengan metode perhitungan gravimetri. peningkatan pengumpulan data CRP menggunakan pengumpulan spesimen darah sebelum dan sesudah dan dilakukan pengujian laboratorium menggunakan i-chroma reader. Pengukuran kadar debu kapuk di udara tempat bekerja rata-rata 5,49 mg/m3.
Tidak ada korelasi yang signifikan antara kadar debu personal (p = 0,324) dan penggunaan APD (p= 0,925) dengan peningkatan kadar serum CRP. Terdapat korelasi yang signifikan antara usia pekerja (p = 0,005), tahun kerja (p = 0,006), dan lama kerja (p = 0,004) dengan peningkatan kadar serum CRP.
Disimpulkan bahwa semakin tua pekerja, semakin lama masa kerja dan semakin lama jam kerja, semakin tinggi peningkatan kadar serum CRP. Disarankan mengukur kadar endotoksin lipo-polisakarida (LPS) di dalam debu kapuk, karena yang memberikan reaksi inflamasi pada saluran pernapasan adalah kandungan endotoksin lipo-polisakarida (LPS) di dalam debu kapuk.
Penulis: Prof. Soedjajadi Keman, dr., MS., Ph.D.
Referensi:
Fitrotuz Zahroh and Soedjajadi Keman (2022) Relationship Of Workers™ Characteristics And The Use Of Personal Protective Equipment Against The Enhancement Of C-Reactive Protein Serum On Kapok-Processing Industry Workers at Bandrek, Pasuruan. The Indonesian Journal of Public Health, 17(2):285-296





