51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Hubungan Radang Usus dengan Kualitas Sperma dan Kadar Testosterone Pria

Ilustrasi sperma. (Sumber: Kompas Lifestyle)

Penyakit radang usus atau dikenal dengan Inflammatory Bowel Disease (IBD) adalah salah satu penyakit kronis yang menyerang saluran pencernaan pada manusia. Berdasarkan studi literatur, penyakit inidisebabkan oleh berbagai macam faktor. Seperti kelemahan sistem kekebalan tubuh, faktor lingkungan, ketidakseimbangfan pada flora usus, dan juga keterlibatan genetika. IBD memiliki gejala seperti diare kronis dan juga berdarah.

IBD dibagi menjadi dua subtipe: kolitis ulseratif (UC) dan penyakit Crohn (CD). Kejadian penyakit ini diperkirakan sekitar Itu 2,1“6 per 100.000 orang untuk tipe CD. Sedangkan 2,2“4,5 per 100.000 orang pada tipe UC. Studi lain melaporkan bahwa angka kejadian CD dan UC pada kelompok 20“29 tahun adalah 16,6“18,7 per 100.000 orang. Menariknya beberapa studi melaporkan bahwa kejadian penyakit ini meningkat termasuk pada populasi di Asia, Timur Tengah, dan Amerika Selatan.

Selain menunjukkan gejala pada sistem pencernaan, ternyata penyakit ini dapat mempengaruhi kadar hormon seks seperti testosterone di dalam tubuh atau yang lebih dikenal dengan istilah Hipogonadisme. Kejadian hipogonadisme pada penyakit IBD sekitar 40% pasien. Hal ini disebabkan oleh efek langsung dari mediator inflamasi pada proses poros pembentukan hormon seks dan reproduksi juga fungsi testis.

Selain itu, beberapa ahli berpendapat, inflamasi kronik yang terjadi pada usus menyebabkan penerapan nutrisi yang buruk sehingga bahan baku pembentukan hormon terganggu. Selain itu penyakit ini sehubungan dengan penurunan kadar leptin, juga efek pengobatannya sendiri yang dalam jangka panjang berakibat fatal pada poros pembentukan hormon seks.

Dampak penurunan kadar hormon seks ini bukan hanya berdampak pada fungsi umum tubuh manusia namun bisa berdampak pada kesuburan termasuk pria, dikarenakan proses pembentukan sperma yang membutuhkan hormon testosterone mengalami penurunan. Oleh sebab itu kami melakukan investigasi pada populasi pasien IBD yang datang berkunjung ke rawat jalan. Kami melakukan pemeriksaan sperma dan hormon testosterone pada pasien IBD.

Para pasien IBD dilakukan pemeriksaan menyeluruh mengenai gejala, laboratorium, dan juga kolonoskopi. Tujuannya untuk menstratifikasi penderita berdasarkan derajat keparahan. Derajat keparahan yang digunakan adalah skor Mayo. Setelah itu setiap pasien akan dilakukan pemeriksaan sperma meliputi konsentrasi sperma, motilitas (pergerakan) sperma dan bentuk sperma. Di hari yang berbeda setelah puasa, pasien dilakukan pemeriksaan hormon testosterone, SHBG, dan estrogen setelah puasa minimal 8 jam.

Hasil pada studi ini menunjukkan bahwa konsentrasi, motilitas, dan morfologi sperma ditemukan menurun secara signifikan seiring dengan peningkatan keparahan IBD. Selain itu kami juga menemukan hasil bahwa nilai skor Mayo menunjukkan korelasi negatif dengan konsentrasi sperma sebesar r = −0.375, lalu dengan pergerakan sperma yang cepat sebesar r = −0.660, dan juga jumlah kadar testosteron bebas sebesar r = −0.732 serta kadar testosteron total sebesar r = −0.721.

Hasil-hasil yang signifikan ini menunjukkan hubungan yang konsisten bahwa IBD memiliki dampak negatif pada fungsi seksual dan reproduksi pria. Sehingga temuan ini dapat dijadikan acuan untuk memperhatikan kualitas hidup pasien IBD terlebih pasien IBD muda yang mungkin masih menginginkan anak atau keturunan. keparahan pada kualitas air mani dan hormon seks.

Penulis: Cennikon Pakpahan, dr., Sp.And

Sumber Lengkap 

Darmadi, Darmadi1,*; Pakpahan, Cennikon2,3,*; Singh, Rajender4; Saharan, Ankur5; Pasaribu, Wanly Syahrizal2; Hermansyah, Hermansyah2; Rezano, Andri2,6. Inflammatory bowel disease (ulcerative colitis type) severity shows inverse correlation with semen parameters and testosterone levels. Asian Journal of Andrology 26(2):p 155-159, Mar“Apr 2024. |

AKSES CEPAT