Tanda dimulainya periode anak usia sekolah adalah sejak anak masuk ke dalam lingkungan sekolah dasar pada usia enam tahun atau tujuh tahun hingga anak mengalami masa pubertas pada usia 12 tahun.1 Dalam tahapan masa tumbuh kembang anak usia sekolah, banyak permasalahan yang dihadapi orang tua salah satunya adalah masalah berkemih yaitu enuresis (mengompol).
Enuresis merupakan salah satu masalah gangguan tumbuh kembang pada anak yang harus diperhatikan. Enuresis sendiri artinya yaitu pengeluaran air kemih yang tidak disadari yang sering dijumpai pada anak umur diatas tiga tahun karena seharusnya pada usia empat tahun otak dan otot-otot kandung kemih sudah sempurna sehingga dapat mengontrol dan membantu anak memperkirakan kapan BAK dan BAB.2 Menurut WHO, diagnosis enuresis jika pengeluaran urin terjadi 2 kali dalam sebulan pada anak kurang dari 7 tahun dan 1 kali dalam sebulan pada anak 7 tahun dan anak yang lebih dari 7 tahun.3 Enuresis merupakan masalah yang sering ditemukan pada anak-anak. Enuresis memberikan pengaruh buruk baik secara psikologis dan sosial sehingga bisa mengganggu kehidupan anak dan mempengaruhi kualitas hidupnya saat dewasa.
Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross sectional untuk mengetahui apakah ada hubungan antara variabel stres dengan enuresis yang terjadi pada anak usia sekolah. Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh anak usia sekolah yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eklusi, yaitu berusia 7 tahun sampai dengan usia 12 tahun dan jenjang pendidikan sekolah dasar. Dengan menggunakan teknik simple random sampling didapatkan sampel sejumlah
32 anak. Instrumen yang digunakan untuk menilai stres pada anak menggunakan instrumen PSS-C (the Perceived Stress Scale For Children) oleh Barbara Prudhomme White (2014) yang telah melakukan penilaian bahwa instrumen tersebut efektif dan efisien untuk mengidentifikasi stres pada anak.11 Semakin tinggi skor semakin tinggi stres yang dialami. Selanjutnya data dianalisis secara univariat dan bivariat dengan uji statistik Chi-Square. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Petak Kecamatan Pacet Kabupaten Mojokerto.
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar anak usia sekolah mengalami stres yang tinggi (62%). Hal ini dapat disebabkan oleh faktor usia, dimana sebagian besar yang mengalami stres yang tinggi berusia 7 dan 8 tahun dengan proporsi yang sama 30%. Usia ini juga menunjukkan anak baru menempuh Sekolah Dasar kelas 1. Menurut Fatmawati & Mariyam bahwa anak yang mengalami stres berat dikarenakan mereka memasuki sekolah baru yang memiliki lingkungan yang berbeda saat mereka dirumah dan proses adaptasi dengan peraturan- peraturan yang harus dilaksanakan selama belajar di sekolah.7
Pada penelitian ini menunjukkan bahwa 38% anak mengalami stres yang rendah. Hal ini dapat disebabkan karena sebagian besar responden dengan stres rendah berusia 10 tahun dan 11 tahun dengan proporsi yang sama 30%. Hasil studi Jannah menunjukkan bahwa semakin tua usia anak, tingkat stres dan kekuatan seseorang semakin konstruktif dalam menggunakan koping terhadap masalah yang dihadapi.12
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar anak mengami enuresis (56%). Hal ini dapat disebabkan karena kurangnya kesiapan psikologis anak dalam melakukan toilet training. Hal ini sesuai dengan studi Adawiyah & Adiguna menyatakan bahwa ada hubungan kesiapan psikologis anak dengan kejadian enuresis. Faktor usia juga dapat menentukan anak mengalami enuresis. Sebagian besar responden yang mengalami enuresis berusia 7 tahun (33 %).
Hasil penelitian ini menunjukkan ada hubungan antara stres dengan enuresis pada anak sekolah yang ditunjukkan dengan nilai Pvalue = 0,000 (Pvalue > ). Adanya hubungan ini sesuai dengan teori Aziz bahwa enuresis dapat disebabkan karena faktor kejiwaan, yang terpenting diantaranya adalah rasa takut, baik dia berdiri sendiri maupun termasuk ke dalam konstruksi emosi yang kompleks.15 Enuresis merupakan gangguan fisik, akan tetapi dapat menyebabkan gangguan psikologis atau yang disebut dengan gangguan somatoform. Menurut Wiramihasdja terdapat tiga model bagaimana faktor-faktor psikologis dapat mempengaruhi timbulnya gangguan fisik
: 1) Model efek langsung, yang mengemukakan bahwa faktor-faktor psikologis, seperti pengalaman yang mene- gangkan dan karakteristik kepribadian tertentu, menyebabkan atau memperburuk secara lang- sung keadaan sakit.
2) Model interaktif, bahwa pengalaman atau faktor psikologis itu tidak langsung menyebabkan timbulnya penyakit atau memperburuk keadaan fisik yang telah sakit. Faktor psikologis ini baru berpengaruh pada timbulnya sakit hanya jika telah berinteraksi dengan faktor resiko yang telah ada. 3) Model efek tak langsung, menjelaskan bahwa individu berperilaku yang tidak sehat, seperti merokok atau mengalami gangguan tidur sehingga terjadi penurunan daya tahan tubuh, yang selanjutnya akan menyebabkan ke- rusakan pada tubuh.17 Selain proses di atas Wiramihardjajuga mengungkapkan 淭eori Kerawanan Konstitusional (Constitutional vuPlnerability [weak-link] theories). Teori ini menyatakan bahwa organ yang paling rawan akan mengalami cacat dan malfungsional dalam berespon terhadap rangsangan yang menegangkan.
Penulis: Dr. Yunias Setiawati, dr.,Sp.K.J(K)
Untuk mengetahui lebih detail dapat mengunjungi https://jks-fk.ejournal.unsri.ac.id/index.php/jk_sriwijaya/article/view/89





