51动漫

51动漫 Official Website

Identifikasi Molekuler Jenis Kepiting Dari Teluk Pangpang

Foto by Grid Kids

Kawasan Teluk Pangpang merupakan pesisir laut di Kabupaten Banyuwangi dengan keanekaragaman fauna perairan yang melimpah. Ekosistem ini berfungsi sebagai habitat, perlindungan fisik garis pantai, pemijahan, pembibitan, dan tempat mencari makan, sehingga sangat penting untuk melindungi dan melestarikan komoditas seperti kepiting yang berperan sebagai spesies kunci.

Produksi perikanan tangkap rajungan di Banyuwangi mencapai 4.566 ton/tahun, dan pada tahun 2018 turun menjadi 289 ton/tahun. Hingga saat ini, belum ada data yang menyebutkan melimpahnya produksi kepiting di Teluk. Hal ini mungkin disebabkan oleh banyaknya nelayan yang menjual hasil tangkapannya langsung ke pengepul atau seringkali tidak tercatat oleh petugas dari dinas perikanan setempat. Ketiadaan atau kekurangan data tersebut menyulitkan untuk mengetahui keanekaragaman jenis kepiting dari hasil tangkapan nelayan.

Banyaknya variasi warna berdasarkan kebiasaan makan (Han et al. 2018), ukuran, spinasi, habitat, dan karakteristik kepiting lainnya menyebabkan kebingungan dalam proses identifikasi. Teknik identifikasi kepiting biasanya dilihat dari ciri morfologi dan karakternya (Hidayani et al. 2018). Selain itu, dapat diperkuat dengan mengacu pada kunci identifikasi kepiting. Berdasarkan kunci identifikasi dari satu spesies kepiting ke spesies lainnya masih memiliki tingkat keragaman morfologi yang tinggi (Dharmayanti 2011), sehingga perlu dilanjutkan teknik identifikasi yang akurat dengan identifikasi molekuler (Vartak et al. 2018). Beberapa daerah DNA mitokondria telah digunakan untuk identifikasi, seperti COI, 16S rDNA (Hidayania et al. 2015), dan 12 S rDNA (Klinbunga et al. 2010). Dalam penelitian ini untuk pertama kalinya identifikasi molekuler sebagian wilayah COI untuk spesimen rajungan dari Teluk Pangpang, Banyuwangi.

HASIL

Spesimen yang diperoleh dari Teluk Pangpang, Banyuwangi menghasilkan 2 spesies yang berbeda, yaitu 2 Portunus pelagicus dan 1 Portunus sanguinolentus. Perbedaan yang paling mencolok antara masing-masing spesies adalah pada warna dan pola karapas (Gambar 1). Kemudian beberapa parameter lain juga diukur (Tabel 1) dan dibandingkan dengan buku identifikasi kepiting untuk mendukung tingkat akurasi yang tinggi sehingga proses identifikasi morfologi dapat dilanjutkan dengan identifikasi molekuler (Lai et al. 2010).

Morfologi kepiting (Portunus pelagicus) memiliki bentuk karapas yang cenderung lonjong dan warnanya bervariasi, dari karapas coklat sampai hijau kebiruan (Gambar 1). Kepiting biru P. pelagicus biasanya memiliki warna karapas coklat kehijauan (Anbarasu et al. 2019). Selain itu juga terdapat warna hijau kebiruan (de Lentang et al. 2003), jenis ini memiliki warna yang bervariasi yang dapat membedakan jantan dan betina melalui warna dan bentuk karapas (Lai et al. 2010). Pola warna dan bintik-bintik putih pada karapas menunjukkan bahwa P. pelagicus jantan memiliki warna biru kehijauan dengan chelipeds ungu-kebiruan dan bintik-bintik putih pada karapas, sedangkan betina cenderung memiliki warna karapas kehijauan disertai dengan bintik-bintik putih. Ciri-ciri tersebut menunjukkan bahwa kode spesimen BWIPP001 adalah betina dan kode spesimen BWIPP003 adalah jantan.

Identifikasi molekuler adalah langkah selanjutnya dalam mengkonfirmasi identifikasi morfologi. Spesimen diuji kebenaran spesiesnya dengan menyelaraskannya dengan situs web (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/) dan Basic Local Alignment Search Tool Nucleotide (BLASTN) untuk melihat tingkat kemiripannya. Urutan kode sampel BWIPP001 mengidentifikasi spesies Portunus pelagicus, BWIPS002 mengidentifikasi spesies Portunus sanguinolentus, dan BWIPP003 mengidentifikasi spesies Portunus pelagicus (Tabel 2).

Data identifikasi berdasarkan ciri morfologi, identifikasi berdasarkan teknik barcode DNA dan status konservasi (Tabel 3). Pohon filogenetik dihasilkan menggunakan MEGAX termasuk jarak genetik (Gambar 2). Pohon filogenetik terdiri dari spesies yang ditangkap dari Teluk Pangpang dan spesies yang sama dari database Genbank. Kemudian ditambahkan KC959891 atau Panulirus homarus sebagai out group.

Kesimpulan

Baik P. pelagicus maupun P. sanguinolentus sering ditemukan pada hasil tangkapan nelayan dari Teluk Pangpang, Banyuwangi karena memiliki habitat yang sama yaitu berlumpur hingga berpasir dan nutrisi yang melimpah. Biomassa tinggi pada fauna non-ikan mengidentifikasi jenis kepiting P. pelagicus dan P. sanguinolentus sebanyak 13.609,38 gr (Buwono et al. 2015). Kondisi tekstur dasar perairan di kawasan Teluk Pangpang yang berdekatan dengan pemukiman didominasi oleh jenis substrat lempung-pasir dan sedangkan kawasan yang berdekatan dengan tambak memiliki substrat dominan berupa lempung berpasir (Munirul dan Ardiyansyah 2018). . Kondisi lain juga diperkuat dengan kawasan mangrove di Teluk Pangpang yang masih baik dalam mensuplai ketersediaan unsur hara berupa detritus serasah daun dan mampu meningkatkan unsur hara tanah dan air (Kawamuna et al. 2017).

Status IUCN (International Union for Conservation of Nature) untuk dua spesies kepiting (P. pelagicus dan P. sanguinolentus) adalah Not Evaluated (NE) (Cites 2017). Namun, eksploitasi spesies ini cukup tinggi sebagai sumber makanan dan protein. Selain itu, penggunaan alat tangkap yang tidak dipilih juga mengurangi stok alami kepiting di beberapa daerah (Andriyono dan Suciyono 2020). Dengan demikian, perlu memperhatikan stok alami kepiting dengan melakukan pemantauan secara berkala dan melarang penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan.

Penulis: Dr. Eng. Sapto Andriyono

Tulisan lengkap dapat ditemukan melalui:

Andriyono, S., Hidayah, R. I., Sulmartiwi, L., Hidayani, A. A., & Alam, M. J. Molecular Identification and Phylogenetic Trees Reconstruction of Blue Swimming Crabs (Decapoda: Portunidae) from Pangpang Bay, Banyuwangi. ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences27(2), 93-100.

DOI: 

Link :

AKSES CEPAT