Kenari (Serinus canaria) telah lama menjadi burung penyanyi yang populer di kalangan masyarakat Indonesia karena kicauannya yang merdu dan bulunya yang menarik. Popularitas burung ini telah menyebar ke luar Indonesia dan dikenal luas di berbagai negara. Kenari mudah dikenali dari ciri morfologinya yang khas, seperti bulunya yang cerah dan bersih, ukuran tubuhnya yang kecil, paruhnya yang tebal dan pendek, serta kakinya yang berwarna putih transparan dengan tiga jari kaki mengarah ke depan dan satu ke belakang.
Klebsiella pneumoniae adalah bakteri Gram-negatif berkapsul yang dikenal sebagai patogen oportunistik yang menyebabkan berbagai infeksi serius, termasuk pneumonia, infeksi saluran kemih, bakteremia, meningitis, dan abses hati. Berbagai galur K. pneumoniae telah menjadi ancaman klinis global karena hipervirulensi dan resistensinya terhadap berbagai kelas antibiotik. Galur yang resistan terhadap berbagai obat (MDR) adalah isolat yang menunjukkan resistensi terhadap tiga atau lebih kelas antibiotik. Meningkatnya prevalensi isolat MDR dan isolat penghasil Extended-Spectrum 尾-Lactamase (ESBL) telah banyak dilaporkan di berbagai negara, termasuk pada ternak dan hewan peliharaan. ESBL adalah enzim yang mampu menghidrolisis dan menonaktifkan berbagai antibiotik 尾-laktam, termasuk sefalosporin generasi ketiga dan monobaktam. Lebih lanjut, bakteri penghasil ESBL sering menunjukkan resistensi silang terhadap golongan antibiotik lain seperti aminoglikosida, kuinolon, dan trimetoprim-sulfametoksazol.
Gen pengkode ESBL yang paling umum adalah blaTEM dan blaSHV. Gen blaTEM biasanya ditemukan pada plasmid, sedangkan blaSHV dapat dikode oleh gen resistensi yang terletak pada kromosom. Infeksi yang disebabkan oleh galur penghasil ESBL dikaitkan dengan peningkatan risiko mortalitas dibandingkan dengan infeksi oleh galur non-ESBL. Secara khusus, mortalitas lebih tinggi pada pasien yang terinfeksi K. pneumoniae penghasil ESBL. Sebuah Penelitian yang dilakukan oleh Yang dkk. (2020) menunjukkan bahwa K. Pneumoniae memiliki tingkat resistensi yang tinggi terhadap berbagai golongan antibiotik, termasuk penisilin, sefalosporin generasi ketiga, monobaktam, makrolida, tetrasiklin, fluorokuinolon, trimetoprim, dan kloramfenikol.
Meskipun K. pneumoniae telah banyak dilaporkan sebagai agen infeksi nosokomial dan zoonosis, studi tentang keberadaan galur penghasil ESBL pada unggas impor masih sangat terbatas. Mengingat tingginya volume perdagangan internasional kenari, terutama dari negara-negara seperti Malaysia, pengawasan yang memadai diperlukan untuk mendeteksi keberadaan K. pneumoniae penghasil ESBL pada spesies ini. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi isolat K. pneumoniae yang resisten terhadap antibiotik dan mendeteksi keberadaan gen pengkode ESBL, yaitu blaTEM dan blaSHV, pada kenari impor. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi kenari sebagai reservoir resistensi antimikroba dan memberikan gambaran awal tentang risiko penyebaran lintas batas melalui perdagangan hewan peliharaan global.
Berdasarkan hasil isolasi, koloni yang diduga K. pneumoniae diperoleh dengan karakteristik merah muda dan penampakan mukoid. Penampakan mukoid koloni K. pneumoniae disebabkan oleh keberadaan kapsul polisakarida, yang merupakan faktor virulensi penting dan berkaitan erat dengan tingkat keparahan infeksi. Dari 150 sampel yang ditumbuhkan pada media MacConkey Agar (MCA), 12 sampel diidentifikasi positif sebagai K. pneumoniae. Perubahan warna media dan koloni menjadi merah muda pada MCA menunjukkan bahwa K. pneumoniae mampu memfermentasi laktosa menjadi asam, sehingga menyebabkan perubahan warna indikator pH (merah netral) pada media. Secara mikroskopis, koloni yang diamati menunjukkan karakteristik bakteri gram negatif, non-motil, dan berbentuk batang pendek. Identifikasi lebih lanjut dilakukan melalui serangkaian uji biokimia IMViC (Indole, Methyl Red, Voges-Proskauer, dan Citrate), serta uji Sulfide Indole Motility (SIM). Uji biokimia ini bertujuan untuk menentukan identitas spesies bakteri berdasarkan karakteristik metabolik dan fisiologisnya. Pada uji SIM, ditemukan bahwa K. pneumoniae bersifat non-motil, ditandai dengan tidak adanya penyebaran dari garis inokulasi. Uji indole dilakukan untuk mengevaluasi kemampuan bakteri dalam memecah triptofan menjadi indole.
Hasil identifikasi molekuler dengan PCR dalam penelitian ini menunjukkan bahwa gen blaTEM terdeteksi positif pada 6 dari 10 isolat K. pneumoniae MDR. Gen blaTEM mengkode enzim 尾-laktamase yang umum ditemukan pada isolat ESBL, terutama pada galur K. pneumoniae dan Escherichia coli. Anggota lain dari famili 尾-laktamase, seperti blaSHV dan blaCTX-M, juga sering ditemukan pada bakteri dari famili Enterobacteriaceae. Penelitian sebelumnya pada isolat K. pneumoniae positif-ESBL dari hewan penghasil pangan menggunakan PCR multipleks menunjukkan keberhasilan amplifikasi gen blaTEM dan blaCTX-M. Hasil elektroforesis DNA yang diperoleh dari isolat-isolat ini menunjukkan pita DNA spesifik gen blaTEM yang diamplifikasi menggunakan primer blaTEM-F dan blaTEM-R. Dari 10 sampel yang diuji, 9 isolat (90%) menunjukkan hasil positif untuk gen blaTEM, yang memperkuat temuan dalam penelitian ini.
Kemampuan galur penghasil ESBL untuk menghidrolisis antibiotik 尾-laktam umumnya disebabkan oleh mutasi pada gen pengkode enzim 尾-laktamase, salah satunya adalah blaTEM. Mutasi yang terjadi pada sisi aktif enzim tersebut dapat meningkatkan aktivitas enzimatik terhadap berbagai antibiotik. Enzim 尾-laktamase yang dihasilkan oleh bakteri pembawa ESBL mampu menghidrolisis antibiotik 尾-laktam, termasuk sefalosporin generasi ketiga dan keempat. Beberapa varian gen ESBL yang sering ditemukan antara lain blaTEM, blaSHV, dan blaCTX-M, yang umumnya terletak pada plasmid dan berkontribusi pada transmisi horizontal antar. Peningkatan interaksi antara manusia, ternak, dan satwa liar dapat meningkatkan risiko penularan lintas spesies K. pneumoniae penghasil ESBL. Dalam studi ini, dari 10 isolat K. pneumoniae MDR yang diuji dengan PCR, satu isolat terdeteksi positif membawa gen blaSHV. Deteksi gen ini menunjukkan bahwa isolat yang berasal dari feses burung kenari impor berpotensi menghasilkan enzim ESBL. Gen blaSHV pertama kali diidentifikasi sebagai SHV-1, yang awalnya ditemukan pada plasmid dan kromosom K. pneumoniae yang resisten terhadap penisilin. Enzim SHV yang diproduksi oleh bakteri diduga diperoleh melalui seleksi bersamaan dengan munculnya gen resistensi lainnya. Meskipun tidak mengalami penyebaran eksplosif seperti varian CTX-M, gen SHV telah ditemukan pada beberapa spesies Enterobacteriaceae di luar inang klinis tipikal seperti K. pneumoniae dan E. coli, dengan tingkat variasi alel yang semakin meningkat.
Temuan penelitian ini mengonfirmasi bahwa K. pneumoniae yang diisolasi dari feses burung kenari impor tidak hanya menunjukkan karakteristik fenotipik bakteri MDR, tetapi juga membawa gen mengkode enzim ESBL blaTEM dan blaSHV. Keberadaan gen resistensi ini menunjukkan potensi peran burung peliharaan sebagai reservoir bakteri resisten yang dapat berkontribusi pada penyebaran resistensi antimikroba lintas spesies, termasuk manusia. Mengingat tingginya tingkat interaksi antara burung peliharaan dan pemiliknya, hasil ini menyoroti pentingnya pemantauan penggunaan antibiotik dan deteksi molekuler rutin pada hewan non-produktif untuk mengantisipasi risiko penularan zoonosis dan mendukung upaya pengendalian resistensi antibiotik dalam pendekatan One Health. Kenari impor dapat menjadi reservoir bagi K. pneumoniae yang resisten antibiotik dan berkontribusi pada penyebaran resistensi antimikroba lintas spesies. Oleh karena itu, pemantauan ketat terhadap lalu lintas burung impor dan penerapan pendekatan One Health untuk memitigasi risiko resistensi antimikroba diperlukan.





