UNAIR NEWS Kunjungan Prof. Abdul Al-Fattah M. El-Awaisi ke 51动漫 dalam Kuliah Umum tentang Baitul Maqdis, mendorong ilmuwan Indonesia untuk melahirkan kerangka pemikiran guna mengatasi permasalahan dunia Islam.
Guru Besar Ilmu Sejarah dan Hubungan Internasional Universitas Istanbul Sabahattin Zaim Turki tersebut memaparkan gagasan di hadapan ratusan sivitas akademika di Aula Amerta Kampus C UNAIR, Selasa (22/8).
Sebelum Prof. Awaisi menyampaikan materi, terlebih dahulu Santi Soekanto selaku perwakilan dari Institut Study for Al Aqso (ISA) menyampaikan beberapa hal seputar latar belakang kuliah umum diberikan. Santi mengatakan bahwa adanya kuliah umum ini bertujuan untuk memberikan gambaran yang lebih mendalam mengenai Baitul Maqdis kepada muslim di Indonesia, utamanya kalangan akademisi.
淜arena ada beberapa hal yang belum dipahami mengenai Baitul Maqdis, sehingga membuat umat muslim di Indonesia binggung dalam mengambil sikap. Tidak sekedar memberikan bantuan saja. Ada beberapa hal yang masih perlu didalami, paparnya.
Di awal paparannya, Awaisi mengatakan umat Islam tidak memiliki kerangka teori dan gagasan untuk memecahkan permasalahan di dunia Islam sendiri. Akibatnya, mereka sulit mengkaji permasalahan dunia Islam.
淪elama ini kita masih menggunakan kerangka orang Barat, bahkan dalam menyelesaikan permasalahan umat Islam. Dalam pengalaman studi internasional, dunia akademisi butuh kerangka dari perspektif Islam untuk menyelesaikan permasalahan dunia, terangnya.
淒an selama ini saya belum menemukan teori dari sumbangan kaum muslimin Indonesia untuk problem dunia, tambahnya.
Awaisi juga menilai, penggunaan kerangka berpikir Barat dalam penyelesaian masalah muslim adalah kesalahan besar. Ia sungguh berharap bahwa kalangan muslim sendiri yang mampu mengatasi permasalahan dunia Islam.
淪ungguh kita membutuhkan kerangka berfikir kaum muslim untuk memecahkan hal yang terjadi di kalangan umat sendiri, harapnya.
Permasalahan Baitul Maqdis
Memandang permasalahan di Baitul Maqdis, Awaisi memecahnya menjadi beberapa hal. Pertama, adanya banyak literatur tentang Baitul Maqdis utamanya mengenai permasalahan di Al-Aqsa yang berasal dari sekolah Israel dan orientalis.
Ia juga menambahkan bahwa banyak permasalahan disekitar Al-Aqsa yang diterbitkan jurnal internasional dari para pemikir Israel. Bahkan Alquran, hadis, sejarah Islam, dan fikih Islam semua sudah dipelajari orang Israel.
淒ari sekian hal tersebut bertujuan untuk mengubah cara pandang umat Islam agar menilai bahwa Al-Aqsa tidak penting bagi muslim. Jadi pada prinsipnya mereka akan menghilangkan hubungan muslim dengan Masjidil Aqsa, terangnya.
淟ebih jauh lagi hal ini bertujuan untuk melegitimasi secara religi dan historis berdirinya negara Israel, imbuhnya.
Perihal banyaknya artikel dan jurnal yang ditulis baik dalam Scopus atau jurnal bereputasi lainnya, Awaisi menyayangkan minimnya pemikir muslim yang menulis mengenai Al-Aqsa. Hal ini menjadi salah satu bukti bahwa tidak ada pemikiran muslim yang berdampak pada dunia internasional.
淏encana intelektual yang melanda Israel dan Palestina adalah bencana yang lebih besar dampaknya, tandasnya.
Untuk menjawab permasalahan tersebut, Awaisi melahirkan Teori Lingkaran Barakah. Teori yang sudah digunakan diberbagai kampus di Malaysia, Turki, dan Inggris ini berdasarkan surat Al-Isra ayat satu.
淭eori yang saya kemukakan ini, saya fokuskan pada kata di sekelilingnya. Yang di dalam ayat disebut dikatakan dibarakahi, terangnya.
Berbicara Baitul Maqdis, Awaisi berkali-kali menegaskan bahwa Baitul Maqdis tidak sekedar Al Aqso atau Palestina. Lebih dari itu Baitul Maqdis adalah pusat barakah yang ada di dunia. Jika pusat hidayah ada di Masjidil Haram Mekkah, pusat rahmah ada di Madinah, maka pusat barakah ada di Baitul Maqdis.
淎pakah Indonesia bisa merasakan keberkahan dari Baitul Maqdis? Iya, sudah tentu, terangnya.
Peran Indonesia
Mengenai perkembangan propaganda barat terhadap dunia Islam di timur tengah, Awaisi mengatakan bahwa misi barat sudah berhasil menghancurkan negara-negara Islam yang punya andil penting di Timur Tengah. Negara-negara penting di Timur Tengah seperti Irak, Mesir, dan Syiria sudah berhasil dihancurkan. Untuk mengatasi permasalahan umat Islam di dunia, Awaisi berharap ada peran lebih dari ilmuwan muslim di Indonesia sebagai negara muslim terbesar di dunia.
淚ndonesia apakah ada peran? Sangat. Karena menjadi negara dengan penduduk Islam terbesar di dunia. Bahkan jika negara-negara Islam di timur tengah digabung menjadi satu belum bisa melebihi penduduk muslim di Indonesia, paparnya.
Terakhir, Awaisi kembali menegaskan bahwa menjadi suatu hal yang aneh jika sebuah negara muslim terbesar di dunia tidak ada perguruan tinggi yang membahas tentang kajian seputar Baitul Maqdis.
淪emoga UNAIR menjadi pilar untuk hal itu, pungkasnya.
Penulis: Nuri Hermawan
Editor: Defrina Sukma S





