Penyakit Graves adalah gangguan autoimun yang ditandai dengan produksi Thyroid-Stimulating HormoneReceptorAntibody (TRAb) yang mengaktifkan dan menyebabkan sintesis dan pelepasan hormon tiroid yang berlebihan. Penyakit Graves adalah penyebab paling umum dari hipertiroidisme, presentasi khas di antara wanita berusia 40 “ 60 tahun. Etiologi kekambuhan pada penyakit Graves masih belum diketahui, bukti terbaru menghubungkan alergi serbuk sari sebagai salah satu faktor yang dapat menyebabkan kekambuhan pada penyakit Graves. Alergi serbuk sari merupakan salah satu penyakit yang berhubungan dengan sintesis Immunoglobulin-E (IgE). IgE berperan dalam menginduksi kekambuhan Penyakit Graves. Level IgE meningkat sebesar 29% pada pasien dengan penyakit Graves.
Studi sebelumnya telah menemukan bahwa 30%-40% orang dengan penyakit Graves memiliki peningkatan kadar Imunoglobulin-E (IgE). Beberapa bukti juga menunjukkan hubungan antara penyakit tiroid autoimun dan respons alergi. Namun, tidak ada penelitian untuk mengkonfirmasi apakah IgE berkorelasi langsung dengan perkembangan penyakit Graves. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kadar IgE dan kadar TRAb pada pasein penyakit Graves berdasarkan status atopi.
Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional yang dilakukan pada bulan April sampai Agustus 2012 di Poliklinik Endokrinologi RSUD Dr. Soetomo Surabaya, Indonesia. Subjek adalah pasien penyakit Graves berusia 18 tahun ke atas yang memenuhi kriteria diagnostik dan mendapat pengobatan Propylthiouracil (PTU) minimal selama delapan minggu. Dengan menggunakan perhitungan ukuran sampel, diperoleh persyaratan minimum adalah 38 sampel. Peneliti memperoleh responden melalui wawancara dengan menggunakan kuesioner terstruktur yang terdiri dari data sosiodemografi, kondisi penyakit, data pengobatan, dan riwayat alergi. Kemudian dilakukan pemeriksaan fisik untuk mendapatkan informasi tanda-tanda vital responden (tekanan darah, denyut jantung, laju pernafasan, dan suhu tubuh) dengan menggunakan protokol yang baku. Sampel darah diambil menggunakan spuit steril 5 mL, dimasukkan ke dalam tabung EDTA, dan dianalisis untuk Routine Blood Count, kadar IgE, dan kadar TRAb. Data pemeriksaan feses dan skin prick test juga dikumpulkan dari responden untuk mengetahui riwayat atopi.
Sebanyak 131 responden dilibatkan dalam penelitian ini, terdiri dari 28 laki-laki (20,6%) dan 103 perempuan (79,4%). Responden selanjutnya dikategorikan berdasarkan riwayat atopi; distribusi usia. Pada kelompok dengan riwayat atopi, durasi atopi rata-rata adalah 26,5 tahun, dan jenis atopi yang paling umum adalah rinitis alergi (42,6 %), alergi makanan (32,3 %), asma (16,1 %), dan alergi obat (8,8%). Peneliti menganalisis data laboratorium yang dikumpulkan dari responden. Ditemukan bahwa rata-rata kadar IgE total pada responden dengan dan tanpa riwayat atopi berturut-turut 407 IU/mL dan 23,9 IU/mL. Kadar TRAb total pada responden dengan dan tanpa riwayat atopi berturut-turut 9,2 IU/mL dan 1,4 IU/mL.
Temuan
Ditemukan bahwa kadar IgE dan kadar TRAb total pada responden dengan riwayat atopi lebih tinggi dibandingkan responden tanpa riwayat atopi. Peneliti menganalisis lebih lanjut korelasi antara tingkat IgE dan tingkat TRAb pada responden dengan riwayat atopi. Ditemukan bahwa kadar TRAb berkorelasi positif dengan kadar IgE (r=0,580; p<0,0001). Penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan penyakit Graves menyerang perempuan 4 “ 5 kali lebih mungkin dibandingkan laki-laki. Dengan kelompok usia 30 “ 50 tahun menjadi yang paling rentan terhadap penyakit ini. Penelitian ini menemukan bahwa 51,9% responden dengan penyakit Graves memiliki riwayat atopi. Temuan ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang melaporkan 30% – 50% responden dengan penyakit Graves memiliki setidaknya satu jenis atopi.
Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Pertama, penelitian ini hanya dilakukan di satu pusat, Pelayanan Kesehatan yang mungkin tidak mewakili populasi Indonesia atau Surabaya. Kedua, keterbatasan dana yang tersedia untuk penelitian ini, yang menyebabkan lebih sedikit parameter yang dapat diteliti dalam penelitian ini. Oleh karena itu, penulis merekomendasikan penelitian lebih lanjut pada subjek penyakit Graves dengan riwayat atopi untuk mendapatkan hasil pengobatan yang optimal dan mencegah kekambuhan di kemudian hari.
Kesimpulan yang didapatkan dari penelitian yaitu bahwa tingkat IgE dan tingkat TRAb pada responden penyakit Graves dengan riwayat atopi secara signifikan lebih tinggi daripada mereka yang tidak memiliki riwayat atopi. Kami juga menemukan korelasi positif antara kadar IgE dan kadar TRAb pada responden penyakit Graves dengan riwayat atopi. Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk menyelidiki lebih lanjut hubungan antara penyakit Graves dan riwayat atopi.
Penulis: Rio Wironegoro, dr., SpPD., KEMD., FINASIM
Link:





