Sejak coronavirus menyebar dan ditetapkan sebagai pandemi oleh World Health Organization (WHO) di tahun 2019, pelaksanaan sistem pembelajaran memiliki tantangan tersendiri. Proses ujian akhir nasional residen ilmu kesehatan mata memerlukan adaptasi dalam implementasi untuk mempertahankan jumlah lulusan. Objective Structured Clinical Examination (OSCE) merupakan salah satu jenis metode ujian yang memerlukan kontak erat antara penguji dan kandidat ujian. Situasi pandemi menyebabkan perubahan metode OSCE dengan memaksimalkan penggunaan platform digital. Penelitian ini bertujuan untuk mendokumentasikan pengalaman dalam pelaksanan OSCE pada residen ilmu kesehatan mata di Indonesia saat pandemi.
Kolegium Ilmu Kesehatan Mata Indonesia (KIKMI) berperan sebagai penyusun ujian nasional OSCE residen ilmu kesehatan mata dengan mengikuti kurikulum International Council of Ophthalmology (ICO). Indonesia memiliki 12 institusi program ilmu kesehatan mata yang tersebar di berbagai pulau dan provinsi. Metode ujian yang diselenggarakan oleh KIKMI adalah ujian tulis, portfolio atau wawancara, dan OSCE. Sebelum pandemi ujian ini dilakukan di satu center selama 3 kali dalam setahun sehingga semua partisipan (penguji, kandidat, dan panitia) berada di satu tempat. OSCE dilakukan dengan 10 station dengan waktu 15 menit setiap station. Penilaian dilakukan dengan rubrik dan Global Rating Scale (GRS) yang menggunakan kertas.
Pada saat pandemi, persiapan OSCE dilakukan dengan pencarian literatur referensi dan koordinasi melalui daring untuk menghindari pertemuan jumlah besar. Ujian diselenggarakan 2 kali setahun saat pandemi melalui hybrid daring. Proses persiapan bertujuan menciptakan desain yang sesuai dengan tetap mempertahankan validitas dan reliabilitas. Keamanan meliputi pengadaan hand sanitizers, penggunaan masker dan sarung tangan, serta menjaga jarak antar partisipan. Tempat ujian dilakukan di ruang skill lab dan bukan rumah sakit. Sebelum memulai ujian dilakukan skrining pada setiap partisipan. Proses penilaian dilakukan metode digital dan bukan menggunakan kertas.
Station ujian OSCE berkurang menjadi 5 station tanpa jeda, dengan waktu tiap station adalah 10 menit dalam 1 ruang yang sama tanpa rotasi ruangan. Setiap institusi pendidikan menyiapkan ruang pre dan post ujian dengan posisi duduk berjarak 1 meter tiap partisipan. Ruang ujian dilengkapi kamera untuk monitor, alat audiovisual, dan komputer untuk pertanyaan ujian. Manekin atau simulator lebih dipilih daripada pasien standar. Kandidat dan penguji tidak boleh dari satu institusi yang sama pada satu sesi ujian untuk mempertahankan objektivitas. Briefing dan rehearsal dilakukan sebelum melakukan OSCE untuk mengidentifikasi area of improvement. Evaluasi pasca ujian diberikan secara daring dengan form feedback kepada semua partisipan tepat setelah ujian selesai untuk menghindari recall bias.
Dari hasil evaluasi didapatkan angka kegagalan kandidat adalah 10 dari 70 kandidat. Hal ini tidak berbeda jauh dari OSCE sebelum pandemi dimana angka kelulusan adalah 80-90%. Nilai validitas dan reliabilitas tetap dipertahankan sesuai kurikulum pendidikan. Keuntungan dari OSCE modifikasi adalah cost-efffective karena meminimalisir biaya akomodasi menuju lokasi sentral ujian. Keterbatasan pada OSCE modifikasi ini adalah variasi ketersediaan alat dan ruang tiap insitusi ujian, kemampuan staff IT, dan stabilitas internet. Hal ini menimbulkan keterlambatan pada saat melaksanakan ujian.
Sebagai kesimpulan, dengan tantangan dan keterbatasan yang ada, OSCE modifikasi ini dapat menjadi metode terbaik untuk melaksanakan ujian nasional selama pandemi dengan tetap mempertahankan validitas dan reliabilitas. Hasil ini juga didukung dengan feedback positif dari partisipan. Hal ini dapat menjadi acuan untuk melaksanakan metode OSCE modifikasi secara berkelanjutan.
Penulis: Syntia Nusanti, Dearaini, Anna P. Bani, Arief S. Kartasasmita, Andi Muhammad Ichsan, Rova Virgana, Neni Anggraini, Tri Rahayu, Irawati Irfani, Lukman Edwar, Maula Rifada, Anggun R. Yudantha, Muhammad Abrar Ismail, Evelyn Komaratih, Arief Wildan, Andrew M. H. Knoch
Link Jurnal: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/34875158/





