Penuaan berkaitan dengan disfungsi imun yang kompleks dan berkontribusi terhadap timbul serta progresi geriatric giants, termasuk frailty, sarkopenia, penurunan kognitif, risiko jatuh, dan inkontinensia. Inti dari kondisi-kondisi ini adalah imunosenesens, yang ditandai oleh involusi timus, penurunan sel T na茂f, kelelahan sel T (T-cell exhaustion), gangguan class switch recombination pada sel B, serta peningkatan autoreaktivitas. Secara bersamaan, imunitas bawaan mengalami penurunan akibat disfungsi makrofag, neutrofil, dan sel pembunuh alami (NK), sementara inflamasi kronik derajat rendah攁tau inflammaging攎emperberat kemunduran sistemik. Jalur molekuler kunci seperti NF-魏B, mTOR, dan inflammasom NLRP3 berperan dalam penuaan sistem imun, dengan interaksi erat bersama stres oksidatif, disfungsi mitokondria, dan modifikasi epigenetik. Proses-proses ini tidak hanya menurunkan kemampuan kontrol infeksi dan respons terhadap vaksin, tetapi juga mendorong degenerasi jaringan dan terjadinya multimorbiditas. Meskipun terdapat kemajuan signifikan, tantangan tetap ada dalam menerjemahkan wawasan imunologis ke dalam strategi klinis yang terpersonalisasi bagi populasi lanjut usia. Standardisasi dalam uji klinis berbasis mikrobioma serta optimasi keamanan terapi senolitik merupakan langkah krusial berikutnya. Integrasi pendekatan gerosains ke dalam praktik klinis berpotensi mengurangi beban penyakit terkait penuaan dengan menargetkan penggerak fundamental disfungsi imun.
Penulis:
Dr. dr. Deasy Fetarayani, Sp.PD, K-AI, FINASIM, dr. Mega Kahdina, dr. Alief Waitupu, dr. Laras Pratiwi, dr. Mukti Citra Ningtyas, dr. Galih Januar Adytia, dr. Henry Sutanto
Informasi lebih lengkap dari tinjauan pustaka ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Immunosenescence and the Geriatric Giants: Molecular Insights into Aging and Healthspan
Deasy Fetarayani, Mega Kahdina, Alief Waitupu, Laras Pratiwi, Mukti Citra Ningtyas, Galih Januar Adytia, and Henry Sutanto





