51动漫

51动漫 Official Website

Inklusivitas UNAIR sebagai Anggota AUN

Direktur Airlangga Global Engagement (AGE) Prof Iman Herymawan SE MBA PhD (Foto: Istimewa)
Direktur Airlangga Global Engagement (AGE) Prof Iman Herymawan SE MBA PhD (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS Postgraduate Scholarship for Student with Disability menjadi salah satu program beasiswa yang diselenggarakan oleh ASEAN University Network (AUN). Melalui AUN-Disability and public Policy (AUN-DPPnet), AUN membuka beasiswa tersebut bagi teman-teman difabel yang ingin melanjutkan pendidikan pascasarjana di universitas anggota AUN.

AUN sendiri merupakan asosiasi universitas-universitas di wilayah Asia, khususnya negara-negara yang menjadi bagian dari ASEAN. Dikutip dari laman resminya, negara yang tergabung AUN terdiri dari Brunei Darussalam, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam.

51动漫 (UNAIR) menjadi salah satu perguruan tinggi yang mewakili Indonesia sebagai bagian dari AUN. UNAIR tentu secara terbuka menerima mahasiswa asing yang hendak meneruskan pascasarjananya menggunakan beasiswa tersebut.

Direktur Airlangga Global Engagement (AGE) Prof Iman Herymawan SE MBA PhD juga mengungkapkan hal yang sama. Menurutnya, UNAIR adalah salah satu lembaga pendidikan inklusif yang tidak membatasi siapapun yang ingin menempuh pendidikannya di UNAIR.

淚tu programnya AUN. Kita adalah member Asian University Network di mana AUN itu adalah promotor aktivitas tersebut, jadi kita juga mendukung. UNAIR itu inklusi, siapa pun bisa kuliah di UNAIR, kita tidak membatasi teman-teman difabel, ungkap Prof Iman.

Komiteman UNAIR

Prof Iman juga mengatakan jika UNAIR memilki komitmen untuk mendukung teman-teman difabel yang akan kuliah di UNAIR, termasuk yang kuliah dengan beasiswa. Menurutnya, UNAIR bukan hanya menyediakan fasilitas yang akan membantu mereka, tetapi juga fasilitas secara sosial.

淜alau ada mahasiswa difabel masuk ke UNAIR dengan beasiswa, maka komitmen UNAIR adalah memfasilitasinya. Fasilitasnya dalam bentuk layanan kebutuhan sosialnya dan fasilitas infrastrukturnya juga, jelasnya.

Dalam kehidupan kampus, UNAIR tidak membedakan faslitas dasar bagi mahasiswanya, begitu juga bagi teman-teman difabel. Kendati demikan, bukan berarti UNAIR tidak menyediakan fasilitas yang dirancang khusus untuk membantu mereka.

淧oin pertama, kita tidak punya pembedaan fasilitas standar dari penerima beasiswa yang punya disabilitas dan tidak. Kemudian yang kedua kita memberikan pelengkap, ada fasilitas yang khusus dibutuhkan teman-teman difabel. Akses infrastuktur, kedekatan dengan fasilitas-fasiltas pendidikan, dan sebagainya, kata Prof Iman.

Komitmen tersebut tentu membawa manfaat besar kepada teman-teman difabel yang akan atau sedang berkuliah di UNAIR. Tidak hanya besarnya perhatian universitas pada fasilitas mereka, UNAIR juga memberikan kesempatan yang setara pada pendidikan yang boleh jadi belum ada di negara mereka. 

淧ertama, mereka dapat kesetaraan kesempatan untuk dapat pendidikan yang layak. Kedua, saya ga tahu perhatian terhadap kaum difabel di negara mereka itu lebih advance atau lebih rendah dari Indonesia. Kalau seperti ini, seharusnya manfaatnya lebih besar ke mereka karena mereka dapat kesetaraan dalam pendidikan, ungkapnya.

Prof Iman menceriakan salah satu mahasiswa difabel asing bernama Yahya Muhammed yang masuk sebagai mahasiswa doktoral di UNAIR. Yahya memiliki keterbatasan pada kakinya yang berpengaruh mobilisasinya dan membuatnya harus menggunakan kursi roda.

Yahya merupakan salah satu mahasiswa angkatan 2019 yang menempuh S3 di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Dengan mendukung Yahya, Prof Iman menyampaikan jika saat itu UNAIR juga terus belajar untuk menyediakan fasilitas-fasilitas penunjang bagi kawan difabel.

淜ita juga punya mahasiswa yang tahun 2019 masuk S3, mahasiswa FISIP namanya Yahya Muhammed dan masuk ke UNAIR dengan disabilitas pakai kursi roda. Dari situ kita belajar sebenarnya, memfaslitasi kebutuan-kebutuhan dari Yahya ini sehingga sekarang dia sudah lulus S3 dan sudah kembali ke negaranya, ujar Prof Iman.

Saat berkuliah, Yahya ditempatkan di salah satu perumahan yang ada di belakang Masjid Nuruzzaman Kampus Dharmawangsa-B. Menurut Prof Iman, penempatan tersebut bertujuan untuk kemudahan akses Yahya apabila ke masjid atau tempat lain. Prof Iman juga masih ingat bahwa Yahya sering datang ke masjid saat itu.

淒ia kita tempatkan waktu itu di belakang masjid Kampus B Masjid Nuruzzaman, di belakangnya ada perumahan. Kita tempatkan di sana agar aksesnya ke masjid dan lain-lain mudah. Sering kali kita lihat Yahya di masjid, tuturnya.

Selain itu, Infrastruktur bukanlah satu-satunya fasilitas yang disediakan UNAIR bagi kawan difabel. Menurutnya, fasilitas sosial merupakan salah satu kebutuhan yang juga dibutuhkan oleh mereka. Oleh karena itu, kawan-kawan AGE juga akan memberikan pendampingan jika dibutuhkan. 

淜emudian kalau butuh bantuan bahkan teman-teman AGE juga akan membantu, seperti mengantarkan mereka ke rumah sakit dan lain-lainnya itu kita jemput, sambungnya.

Prof Iman juga tidak merasa bosan untuk menegaskan berkali-kali jika UNAIR menjamin inklusivitasnya. Ia menyampaikan kepada semua mahasiswa agar tidak ragu mencoba untuk mendaftar sebagai salah satu bagian dari UNAIR. Dengan akdemik yang sesuai syarat, UNAIR tentu akan membuka pintu seluas-luasnya bagi mereka.

淯NAIR membuka kesempatan yang setara dan inklusif kepada siapa pun untuk belajar (di UNAIR, Red) selama memang kemampuan akademiknya sesuai dengan hasil seleksi dari persayaratan di UNAIR. Jadi kita tidak membedakan antara teman-teman yang punya keterbatasan fisik dan yang lain.

淚tu juga yang kita promote dari sejak lama. Ke depan, kita akan terus mencoba untuk meningkatkan pelayanan kepada mereka agar teman-teman ini semakin nyaman untuk bisa kuliah di 51动漫, pungkasnya.

Penulis: Muhammad Badrul Anwar

Editor: Khefti Al Mawalia

AKSES CEPAT