Stunting merupakan gangguan kesehatan yang disebabkan berbagai kondisi seperti kekurangan nutrisi berkepanjangan, ketidaksesuaian pola konsumsi dalam rumah tangga, terbatasnya akses kesehatan, makananan bergizi dan air bersih. Di Indonesia kasus stunting tahun 2023 mencapai 21,5% dan masih tergolong masalah masalah gizi yang serius. Pada stunting, asupan protein (hewani dan nabati) yang memadai memiliki peran penting dalam membantu pertumbuhan dan perkembangan. Umumnya pemberian makanan tambahan yang tersedia secara luas berbentuk biskuit dimana hal ini cenderung menunjukan daya terima yang rendah pada balita yaitu sebesar 32,2%.
Pada penelitian, pemberian makanan tambahan berupa pasta coklat yang diformulasikan dengan tepung lele (3,3%), tepung fermentasi ubi jalar (9,8%) dan isolat protein (3,3%) dapat memenuhi kebutuhan zat gizi pada pemberian makanan tambahan khususnya tinggi protein, kalsium, asam lemak (omega) serta memenuhi daya terima dengan skor rata-rata 4,08 (skor >4,00 dari 5,00). Berdasarkan uji efikasi pada tikus malnutrisi, pasta coklat yang disubstitusi terbukti dapat meningkatkan Indeks Massa Tubuh (IMT) dan memberikan efek signifikan terhadap kadar serum albumin, total protein, kalsium , zink dan besi sehingga kadar tersebut sama seperti kelompok tikus normal.
Penulis : Annis Catur Adi, Wizara Salisa, Noni Angelina Tazky Aulia, Emyr Reisha Isaura, Febi Dwirahmadi, Heni Rachmawati
Detail tulisan ini dapat dilihat di: Discover Food, Volume 5, Article number 184 (2025)





