Dedak padi (RB), merupakan produk sampingan penggilingan padi yang kaya akan senyawa bioaktif seperti γ-oryzanol dan vitamin E. Dedak padi banyak terbuang, namun dilaporkan banyak mengandung bahan senyawa aktif yang dapat dimanfaatkan untuk mencegah penambahan limbah dan merupakan salah satu cara mewujudkan kondisi bebas sampah sebagai ujus sumbangsih pada SDGs 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.
Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan ekstraksi air berbantuan enzim (EAAE) minyak dedak padi (RBO) dengan menggunakan metodologi permukaan respons untuk menghasilkan RBO menggunakan kombinasi EAAE dan CO2 superkritis (EAAE+SC-CO2) dan membandingkan hasilnya dengan ekstraksi heksana (HE). Kondisi EAAE yang dioptimalkan (4:1 alkalase terhadap pentopan, pH 7, 40 °C) menunjukkan peningkatan aktivitas antioksidan dan kualitas minyak.
Meskipun HE memberikan rendemen tertinggi (9,03%), EAAE+SC-CO2 mempertahankan kadar γ-oryzanol (26,30 mg/g minyak) dan α-tocopherol (13,50 mg/g minyak) yang lebih tinggi, dan menunjukkan aktivitas antioksidan yang superior (DPPH 6,53 mg TE/g minyak; ABTS 14,37 mg TE/g minyak; FRAP 2,98 mg TE/g minyak; EC50 4,60 mg/mL), asam lemak jenuh (19,30%), dan stabilitas oksidatif. Temuan ini menunjukkan bahwa EAAE+SC-CO2 merupakan alternatif ramah lingkungan yang menjanjikan bagi HE untuk menghasilkan RBO berkualitas tinggi dan kaya antioksidan.
Semua percobaan dilakukan dengan tiga ulangan, dan hasilnya disajikan sebagai rata-rata ± simpangan baku. Analisis statistik dilakukan menggunakan perangkat lunak SPSS. Perbandingan rata-rata dilakukan menggunakan uji rentang berganda Duncan, dengan signifikansi statistik ditentukan pada p < 0,05.
Kesimpulannya, temuan studi ini menyoroti efektivitas penggabungan ekstraksi air berbantuan enzimatik dengan perlakuan CO2 superkritis (EAAE+SC-CO2) untuk memaksimalkan perolehan senyawa bioaktif utama dalam minyak dedak padi, khususnya α-tokoferol dan γ-orizanol. Pengawetan senyawa bioaktif ini meningkatkan stabilitas oksidatif dan masa simpan formulasi berbasis RBO, sehingga mengurangi ketergantungan pada pengawet sintetis. Aktivitas antioksidan EAAE+SC-CO2 RBO, sebagaimana ditunjukkan oleh nilai DPPH, ABTS, FRAP, dan EC50, semakin mendukung efikasi fungsionalnya. Pendekatan terpadu ini tidak hanya meningkatkan aktivitas antioksidan dan kualitas nutrisi, tetapi juga menawarkan alternatif yang bersih dan bebas pelarut untuk metode ekstraksi konvensional. Minyak yang dihasilkan menunjukkan karakteristik yang menguntungkan untuk digabungkan ke dalam produk pangan fungsional, memberikan manfaat yang meningkatkan kesehatan sekaligus meningkatkan stabilitas oksidatif.
Oleh karena itu, penelitian di masa mendatang perlu mengeksplorasi skalabilitas proses ini, menyelidiki bioaktivitas RBO secara in vitro, menilai bioavailabilitas senyawa yang diekstraksi secara in vivo, dan memperkuat aplikasinya dalam industri pangan fungsional dan nutrasetikal. Namun, mengingat meningkatnya minat terhadap bahan fungsional berbasis tumbuhan, proses gabungan EAAE+SC-CO2 menawarkan pendekatan yang skalabel dan ramah lingkungan untuk menghasilkan minyak bernilai tinggi yang cocok untuk suplementasi makanan maupun pengembangan pangan fungsional.
Penulis: Annur Ahadi Abdillah, S.Pi., M.Si.
Informasi detail artikel:





